Lifestyle

COCO, Film Terbaru Disney dan Pixar Dengan Tema Meksiko

  by: Alvin Yoga       17/11/2017
  •  

    Disney dan Pixar kembali berkolaborasi dalam sebuah film animasi terbaru, Coco. Dengan suguhan musik dan visual yang menakjubkan, plus tema budaya Meksiko yang menarik, film keluarga ini dijamin akan membuat Anda “tenggelam” dalam tawa dan haru.

     



    Film-film Disney memang lekat dengan musik orisinil yang memukau. Well, siapa yang tak kenal lagu Beauty and the Beast, atau A Whole New World? Tak heran jika film-film keluaran Disney berhasil menyabet banyak penghargaan hanya dengan “bermodalkan” lagu soundtrack mereka. Namun, apa jadinya jika musik itu sendiri yang diangkat menjadi tema utama sebuah film? Bisa dikatakan Disney dan Pixar sedang menantang diri mereka dengan menjadikan musik sebagai fokus utama. Belum lagi, musik yang diangkat bukanlah musik pop yang sering didengar oleh masyarakat, melainkan musik dan budaya Meksiko.

     

    Terinspirasi dari budaya Meksiko, Coco mengisahkan perjalanan seorang anak lelaki yang ingin menggapai mimpinya (Yup! Setelah sekian lama akhirnya Disney memutuskan untuk mengangkat seorang anak lelaki sebagai seorang tokoh utama), meski harus menghadapi tekanan dari tradisi keluarganya. Miguel (Anthony Gonzales), adalah seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang bermimpi untuk mengikuti jejak idolanya, sang musisi legendaris asal Meksiko – Ernesto de la Cruz.

     

    Sayang, tradisi keluarganya sebagai pembuat sepatu, serta masa lalu leluhurnya yang buruk dengan musik, membuat Miguel sering mengesampingkan mimpinya. Belum lagi neneknya, Mama Abuelita (Renee Victor), yang sangat membenci musik dan melarang Miguel untuk dekat dengan dunia musik. Merasa putus asa untuk membuktikan bakatnya, dan lelah dengan keluarga yang tidak mendukung impiannya, Miguel dan anjing peliharaannya Dante memutuskan untuk mengikuti sebuah lomba pencarian bakat saat Dia de Muertos.

     

    Too bad, Miguel yang tidak memiliki gitar tak diizinkan untuk mendaftar dalam lomba. Dalam keadaan terjepit, ia kemudian berniat untuk “meminjam” gitar dari tempat peristirahatan Ernesto de la Cruz. Dari sinilah petualangan Miguel kemudian dimulai. Gitar yang ia pinjam ternyata justru membawanya ke Land of the Dead, atau Dia de Muertos yang sesungguhnya.

     

    Dalam keadaan kebingungan, Miguel kemudian berpapasan dengan Hector Rivera (Gael Garcia Bernal), seorang penipu ulung. Hector ingin sekali menyebrang ke Land of the Living setiap perayaan Dia de Muertos, namun tanpa seorang pun di dunia manusia yang menampilkan fotonya di meja ofrenda, Hector tak bisa menyebrang jembatan ke dunia manusia. Di sinilah Hector kemudian membuat kerjasama dengan Miguel; Ia akan membantu Miguel mencari cara agar bisa kembali ke dunia manusia, dan Miguel harus memasang foto Hector di ofrenda agar ia bisa menyebrang ke dunia manusia – semua harus dilakukan sebelum matahari pagi bersinar.

     



    Namun perjalanan mereka ternyata tidak semudah itu, Miguel ingin terlebih dahulu bertemu dengan Ernesto de la Cruz. Di saat yang bersamaan, keluarga leluhur Miguel juga ikut mencarinya untuk memulangkannya ke dunia manusia. Berlomba dengan waktu, Miguel dan Hector, serta Dante sang anjing kesayangan, memulai perjalanan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

     

    Terinspirasi dari hari libur nasional Meksiko, “Day of the Dead” atau yang lebih dikenal dengan Dia de los Muertos, film ini mengisahkan dua dunia paralel Meksiko berdasarkan kepercayaan mereka, Land of the Living dan Land of the Dead. Menurut budaya Meksiko, kedua dunia ini terus terpisah sepanjang tahun, dan hanya setahun sekali, yaitu ketika perayaan Dia de los Muertos, kedua dunia akan bergabung secara magis. Perayaan hari kematian pun diadakan bukan sebagai momen untuk berduka, melainkan sebagai perayaan untuk mengingat para leluhur sambil mengingat momen terbaik mereka bersama para leluhur. Pada hari ini pula, foto para leluhur dipajang di atas meja yang disebut ofrenda, lengkap dengan benda favorit mereka di dekatnya.

     

    Tak hanya Dia de los Muertos, Disney dan Pixar juga membuat penonton dapat merasakan langsung budaya Meksiko yang penuh warna. Hal ini sangat terlihat dalam visual yang luar biasa sepanjang film, terutama ketika Miguel sedang menyeberang jembatan yang terbuat dari kelopak bunga aztec marigold menuju Dia de los Muertos. Sangat memanjakan mata! Menurut berita yang dikeluarkan oleh Disney dan Pixar, tim produksi mereka ternyata sengaja melakukan beberapa perjalanan penelitian ke Meksiko dan berkolaborasi dengan konsultan budaya untuk mempelajari lebih jauh seni, film, dan musik khas Meksiko, serta berbincang langsung dengan beberapa penduduk lokal agar film tersebut semakin terasa nyata.

     

    Dari segi musik, Disney dan Pixar ikut mengangkat berbagai macam musik khas Meksiko, mulai dari cumbia, salsa, bolero, flamenco sampai mariachi. Beberapa lagu orisinil yang indah juga menemani film tersebut, mulai dari Remember Me hingga Un Poco Loco yang berbahasa Spanyol. Tak main-main, Disney bahkan mengangkat Michael Giacchino, sang pemenang Oscar, yang menjadi komposer dalam film ini.

     

    Dari segi cerita, bisa dikatakan Coco berhasil mengangkat pesan mengenai semangat yang luar biasa dalam mengejar mimpi, pentingnya keluarga dalam kehidupan, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur. Cerita orisinil yang ditulis pun memiliki alur yang sangat menarik, mudah dimengerti, lengkap dengan gambar visual yang memanjakan mata dan musik khas Meksiko yang indah. Selipan humor yang pas juga membuat film ini semakin menarik, belum lagi porsi haru yang dijamin akan menguras emosi Anda. Bagi Anda yang penasaran, segera saksikan Coco mulai tanggal 24 November 2017 mendatang.

    (Alvin Yoga / SW / Image: Dok. Disney Indonesia)

    tags: review, film, coco