Celebrity

Ario Bayu Buka-bukaan Mengenai Akting dan Film Horor

  by: Alvin Yoga       12/11/2019
  • Percaya diri dan penuh ambisi, aktor berumur 34 tahun ini dengan luwes melenggang dari satu film ke film lain. Penasaran dengan sosoknya? Simak wawancara Cosmo dengan aktor Indonesia tersebut berikut ini.

     

    Dalam dua tahun terakhir, setidaknya ada sembilan film Anda yang rilis di bioskop. Bagaimana rasanya?

    Bisa dikatakan dua tahun terakhir ini adalah tahun-tahun yang seru dan menyenangkan bagi saya. Meski tidak direncanakan, namun kebetulan film-film yang saya mainkan muncul di saat yang hampir bersamaan, padahal proses syutingnya sebenarnya sudah cukup lama.




    Jika dilihat lagi, genre film yang Anda mainkan selama dua tahun terakhir ini cukup beragam.

    Ya, bisa dibilang begitu. Ada film drama, horor, superhero, dan lain-lain. Jujur, sebagai pelakon – saya lebih nyaman dipanggil pelakon dibanding aktor – saya merasa bahagia sekali bisa memainkan banyak genre. Memainkan karakter yang beragam juga baik bagi saya, karena dengan begitu saya bisa banyak belajar. The more the better.



    Film terbaru Anda, Perempuan Tanah Jahanam, rilis di bioskop belum lama ini. Boleh ceritakan karakter Anda di film tersebut?

    Di film tersebut saya berperan sebagai Ki Saptadi, seorang tokoh penting di sebuah desa kecil bernama Harjosari. Meski terlihat kuat dan penuh karisma, karakter yang saya perankan sebenarnya sering mengalami penindasan oleh ibunya – baik ia sadari atau tidak. Seluruh hidupnya, tindak tanduknya diatur oleh ibunya.

    Di luar itu, Ki Saptadi sebenarnya adalah pencinta seni, dan “berteman baik” dengan wayang-wayang yang ia miliki. Yang menarik dari karakter ini adalah meski sudah dewasa, namun gerak-gerik Ki Saptadi acap kali didominasi oleh seorang perempuan, yakni ibunya.


    Anda tampil memukau di Perempuan Tanah Jahanam, puaskah Anda dengan hasil peran yang Anda mainkan?

    Sejujurnya untuk seluruh peran yang pernah saya mainkan, jarang ada yang membuat saya benar-benar puas. Saya merasa masih ada banyak hal yang bisa digali dari masing-masing karakter yang pernah saya lakonkan, termasuk untuk karakter Ki Saptadi tersebut. Walaupun sudah berproses sebaik mungkin untuk bisa menghasilkan karakter yang menurut saya adalah versi terbaik, namun entah mengapa hasilnya – bagi saya – belum menjadi yang terbaik.

    Untungnya saya sadar bahwa mungkin peran yang sempurna atau hebat itu tidak ada. Jadi, kalau pertanyaannya apakah saya senang dengan peran-peran yang saya mainkan, jawabannya ya, saya senang sekali dengan hasilnya. Namun kalau pertanyaannya apakah saya puas atau tidak, sepertinya belum puas. Rasanya seperti masih ada yang mengganjal.


     "Saya juga bukan orang yang lucu atau romantis."


    Memerankan banyak karakter sekaligus dalam dua tahun terakhir, apakah ada kesulitan dalam proses transisi masing-masing karakter?

    Sejujurnya ada metodologi untuk proses transisi dari satu karakter ke karakter lain. The key is I have to be diligent, saya harus percaya pada prosesnya dan menerapkan metodologi itu dengan baik.

    Tentu waktu untuk berproses itu memakan waktu, dan biasanya saya meminta waktu antara satu film dengan film lain – apalagi kalau film yang saya perankan adalah film biopik, diperlukan waktu yang cukup lama hingga hitungan minggu atau bulan untuk bisa memahami seorang karakter.

    Sejujurnya bermain film sama saja seperti melakukan riset, semua hal perlu diteliti sesuai dengan metodologi yang tepat. Semua hal ada prosesnya, and actually the process itself is the fun part.




    Sejauh ini, adakah peran yang ingin sekali Anda mainkan namun belum pernah Anda dapatkan?

    Untuk spesifik peran tertentu, sebenarnya tak ada, tapi ada banyak sekali peran di luar sana yang ingin saya mainkan. Begini, umpamanya, Jakarta memiliki 10 juta penduduk, ini berarti ada 10 juta peran, 10 juta macam kehidupan, 10 juta masalah, 10 juta aspirasi, dan 10 juta harapan. Hari ini Anda sedih, hari ini saya justru sedang senang sekali. Hari ini Anda dapat pay raise, saya justru sedang bokek.

    Semuanya merupakan bagian dari emotional experience dan pengalaman kehidupan yang penting untuk dipelajari, masing-masing unik dan berbeda. Ada jutaan peran menarik yang belum pernah saya pelajari, belum pernah saya mainkan, dan ingin saya angkat ke depan layar.



    Di depan layar, Anda sering memerankan karakter pria yang penuh karisma. Bagaimana dengan di kehidupan nyata?

    Ahahaha. Wah, gila, ini berarti akting saya berhasil, ya! Aslinya tidak seperti itu. Aslinya tidak karismatik sama sekali. Saya juga bukan orang yang lucu atau romantis, pokoknya berbeda jauh deh, dari peran yang pernah saya mainkan di layar lebar.


    Terakhir, banyak yang penasaran mengenai karakter Anda di film Gundala. Bisakah Anda memberikan sedikit bocoran tentang karakter tersebut?

    Sejujurnya saya tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan tanpa memberi spoiler mengenai film-film berikutnya. Singkatnya saja, karakter yang saya mainkan, Ghazul – atau Ghani Zulham – adalah seseorang yang memiliki background yang sebenarnya cukup menyedihkan.

    Ayahnya adalah seorang dokter di suatu desa, yang sayang sekali harus menjadi kambing hitam atas sebuah peristiwa. Ghazul yang saat itu masih kecil, harus melihat ayahnya mati dibunuh di depan matanya. Dari sinilah pelan-pelan ia menjadi tokoh yang memiliki dualisme. Meski sebenarnya tidak punya niat jahat, namun ia memiliki dendam tersendiri yang menurutnya harus dibayar. Sepertinya cukup sampai di sini saja ya, ceritanya, ahaha. Ke depannya, akan dijelaskan lebih banyak lagi mengenai tokoh Ghazul ini.


    (Alvin Yoga / FT)

    Fotografer: Insan Obi

    Makeup Artist: Apriana Susanto

    Stylist: Hendry Leo

    Wardrobe: Topman, Uniqlo, Zara