Career

Segala Aksi yang Bisa Dilakukan terhadap Pelecehan Seksual

  by: Givania Diwiya Citta       28/11/2019
  • Masih dalam masa memperingati hari anti kekerasan seksual terhadap perempuan pada tanggal 25 November, ada pula gerakan bertajuk 16 days of activism yang turut mengusung kampanye serta aksi untuk mengentaskan kekerasan berbasis gender. Melanjutkan paparan tentang scene pelecehan seksual di tempat kerja di Indonesia, Cosmo pun kembali mewawancarai Yuniyanti Chuzaifah selaku Wakil Ketua Komnas Perempuan, Alvin Nicola selaku koordinator Never Okay Project, serta Hannah Al Rashid selaku aktris dan UN Indonesia SDG mover for Gender Equality. Kali ini, ketiganya akan memberi kiat tentang aksi yang bisa dilakukan sebagai individual, pemimpin, bystander, sampai survivor. Check. This. Out.






    Tingkat pendidikan, posisi, atau titel tidak semerta-merta membuat kita terlindungi dari ancaman pelecehan seksual di tempat kerja. Jadi aksi apa yang bisa kita lakukan sebagai individual?

    Yuniyanti Chuzaifah:

    - Bukan hanya perempuan yang harus melindungi dirinya, tapi justru pemikiran tentang jangan menjadi pelaku. Karena isu pelecehan seksual bukanlah isu perempuan, melainkan isu manusia.

    - Selaku perempuan, jangan diam dan jangan mendiamkan.

    - Lakukan proses penanganan secara bertahap. Mulai dari menegur dengan cara efektif dan strategis. Jika tidak bisa, bawa isu ini ke perusahaan, jika tidak bisa, bawa ke ranah hukum walaupun harus siap dengan segala persoalan yang bisa membuat korban frustasi. Tapi percayalah bahwa hal-hal itu bisa dilakukan.

    - Generasi Z yang memasuki workforce hari ini, bersikaplah assertive untuk bilang suka atau tidak suka, dan belajarlah tentang human rights dan rights, bahwa pada diri, seseorang itu bermartabat, dan tidak boleh ada orang lain yang merendahkan martabatnya.

    - Meski corak dari era digital adalah individualisme, tapi di saat yang bersamaan, kolektivisme juga mampu membuat semua orang lintas generasi bereaksi membantu berkontribusi dalam social movement yang menciptakan kampanye, inisiasi, atau mendorong penghapusan kekerasan seksual.


    Alvin Nicola: 

    - Dengan pra-kondisi yang panjang, kita harus equip diri kita sendiri. Seperti sesederhana definisi pelecehan seksual, apa saja kategorinya, dan yang paling penting, cari tahu adakah kebijakan dalam perusahaan yang mengangkat tentang persoalan ini.

    - Jika ada serikat dalam perusahaan, beranilah berserikat untuk merencanakan agenda-agenda yang bisa dilakukan bersama untuk mengentaskannya.

    - Apalagi bagi calon pekerja, penting untuk mencari secara dalam soal isu kerentanan ini. Dan harus menyadari bahwa sebagai anak muda yang tinggal di Indonesia, dengan segala keterbatasan ini, haruslah punya sensitivitas apa saja hak-hak yang dimiliki, kapasitas untuk dihargai sebagai manusia.

    - Penting untuk tahu bahwa ada teman kerja atau support group lain yang bisa membantu bersama-sama menghadapi hal ini. Karena semakin modern, semakin fleksibel sebuah dunia kerja, jadi harus tahu betul dalam level mana kita bisa mengintervensi.


    Hannah Al Rashid: 

    - Mengedukasi orang-orang, bahwa seharusnya sedari kecil kita diajarkan untuk menghormati setiap gender. Bukan hanya perempuan agar jaga diri, namun pria juga mesti diajarkan, “Jangan melecehkan. Jangan memperkosa.”

    - Jangan biarkan ketakutan itu menjajah hidup Anda. Be aware, dan carilah support system meski itu di luar dari lingkaran keluarga.

    - Follow akun-akun seperti Hollaback Jakarta dan Never Okay Project untuk mengedukasi diri tentang kasus ini. Karena edukasilah yang akan menjadi amunisi kita dalam mempersenjatai diri.




    Apa yang bisa dilakukan pemimpin untuk membuat ruang kerja yang lebih sehat dari kerentanan pelecehan seksual bagi karyawannya?

    Yuniyanti Chuzaifah: 

    - Pemimpin harus punya kesadaran dan sensitivitas bahwa tempat kerja adalah hunian besar untuk semua karyawannya.

    - Pemimpin harus punya komitmen untuk membangun program-program pencegahan dan penanganan.

    - Pemimpin harus punya langkah-langkah konkrit dan sistemis, bukan hanya individual, tapi juga melibatkan lembaga, untuk mengentaskan kekerasan seksual. Contohnya adalah mencegah impunity, karena hal itulah yang bisa membuat pelaku akhirnya dimaklumi dan bisa melenggang begitu saja.

    - Canangkan program untuk memulihkan para korban, seperti mampu memfasilitasi berjalannya proses hukum, setidaknya memberi ruang untuk cuti atau dukungan psikologis.

    - Pemimpin harus bisa membangun corporate culture of respecting others.


    Alvin Nicola: 

    - Lakukan riset internal tentang kendala dan kebutuhan apa saja yang bisa diatur. Seperti memasukkan poin pelecehan seksual di tempat kerja dalam kebijakan etika, atau berani memberikan sanksi secara hukum.

    - Jika kebutuhannya adalah untuk membuat kebijakan, maka yang terpenting adalah buat kebijakan yang betul-betul melindungi korban.

    - Membangun desk pengaduan yang independen – karena dalam beberapa konteks, HRD juga tak mustahil menjadi pelakunya – dan memastikan jalur pengaduannya lancar.

    - Pastikan bahwa kompensasi nyata ada bagi korban. Jangan sampai policy yang dibuat justru meniadakan kontribusi perusahaan, dan kembali merugikan sang korban.

    - Jika seluruh perangkat sudah tersedia, pemimpin harus walk the talk dan mencontohkan bahwa ia berkomitmen pada inisiatif ini, dan mempraktikan semangat ini.

    - Adakan diskusi internal di kantor secara terbuka yang melibatkan para pemimpin tiap satu bulan sekali, untuk membicarakan fokus mereduksi relasi kuasa. Upaya ini akan mendorong karyawan untuk berpartisipasi secara setara, membangun sistem yang adil.


    Hannah Al Rashid: 

    - Perusahaan bisa membuat SOP yang jelas, dan mendampingi pekerja yang jadi korban untuk membawa ke jalur hukum sampai tuntas.



    - Banyak perusahaan di luar negeri yang sudah punya pelatihan tentang kekerasan seksual. Jadi adakan training khusus tentang bystander interventions dan pelecehan seksual sebagai aset bagi SDM perusahaan.

    - Harus ada outlet untuk sharing tentang pelecehan seksual di kantor. Baik metodenya private dan anonim sekalipun, yang terpenting adalah adanya ruang aman untuk menyampaikan keluhan-keluhan tersebut, dan pemimpin harus mau mendengarkan.




    Bagaimana kita sebagai rekan kerja bisa berperan lebih aktif dalam mengentaskan pelecehan seksual di tempat kerja?

    Yuniyanti Chuzaifah: 

    - Ciptakan solidarity di tempat kerja. Agar tidak blaming the victim, berpikirlah, “Hari ini dia yang terkena, tapi besok hal tersebut bisa terjadi pada saya.”

    - Menolak untuk membiarkan kultur ‘sakit’ ini terjadi di tempat kerja. Karena hanya dengan kita bersuara, kita sebenarnya sedang melindungi diri sendiri serta orang lain.

    - Sesungguhnya, korban itu pulih parsial ketika ia merasa didengarkan. Jadilah tempat curhat yang aman baginya, tidak membocorkan pada siapapun, beri tepukan punggung atau pelukan jika dibutuhkan, dan buatlah korban merasa ditemani.


    Alvin Nicola: 

    - Jadilah active bystander. Berkomitmen mencari tahu kebutuhan apa saja yang diperlukan korban untuk pulih, semisal mengantar ke psikolog atau mencarikan bantuan agar bisa memasukkannya ke dalam proses hukum.

    - Jangan sampai sebagai bystander, kita justru menggandakan trauma sang korban, atau lebih parahnya lagi, menyalahkan balik korban. Itu tidak membantu sama sekali.


    Hannah Al Rashid: 

    - Jika belum berani untuk angkat bicara, setidaknya percayalah dengan cerita yang diutarakan teman Anda.

    - Jadilah support system yang baik bagi yang mengalaminya. Tanyakan pada mereka apa yang dibutuhkan, bagaimana kita bisa membantu, dan menemaninya untuk melalui ini bersama. 


    "Jangan sampai sebagai bystander, kita justru menggandakan trauma sang korban, atau lebih parahnya lagi, menyalahkan balik korban. Itu tidak membantu sama sekali." - Alvin Nicola


    Lantas jika kita yang menjadi korban, bagaimana cara mendorong kekuatan agar tak menghentikan diri dari berkarier?

    Yuniyanti Chuzaifah: 

    - Jangan salahkan diri sendiri.

    - Jangan malu, karena Anda bukanlah sumber yang memalukan.

    - Jika Anda kalah dan mengalah dalam konteks ini, praktik-praktik violence ini akan terus berlangsung.

    - Jangan mengasihani diri terlalu lama, transformasi pikiran untuk berubah dari victim menjadi survivor, hingga defender.


    Alvin Nicola: 

    - Cek diri sendiri, seberapa kuatkah mental kita untuk tetap melaju? Karena terkadang melaporkan adalah sama traumatisnya saat mengalami tindakan tersebut.

    - Korek lebih dalam ke lembaga mana saja yang bisa kita konsultasikan di luar perusahaan

    - Yang terpenting, carilah tempat atau teman yang bisa dipercaya untuk menceritakan hal ini. 

    - Storytelling adalah suatu hal paling minimal dan paling mungkin bisa dilakukan untuk meringankan beban yang ditanggung. Salah satunya bercerita secara anonim di Never Okay Project.


    Hannah Al Rashid: 

    - Meski sulit, namun saat saya mengalami pelecehan seksual, saya memposisikan pikiran bahwa saya berhak aman di area ini, jadi seharusnya tak ada apapun yang bisa mengubah hak tersebut.

    - Believe in your value, believe in your worth. Apa yang terjadi pada Anda, bukanlah salah Anda. Sistem ini tidak adil, dan Anda harus mengubahnya.

    - Hubungi organisasi yang menawarkan pemulihan, atau hubungi teman-teman aktivis yang bisa mengarahkan Anda pada grup konseling.

    - Cari inspirasi dari perempuan-perempuan kuat seperti dari podcast atau YouTube.


    "Jangan mengasihani diri terlalu lama, transformasi pikiran untuk berubah dari victim menjadi survivor, hingga defender." - Yuniyanti Chuzaifah


    (Givania Diwiya / FT / Sumber infografis: Never Okay Project / Sumber “Bystander Interventions”: Hollaback Jakarta / Layout: Rhani Shakurani, Dyah Puspasari / Foto utama: Fauxels dari Pexels.com)