Lifestyle

Peran Digital dan Semangat Entrepreneur di Tengah Pandemi

  by: Alvin Yoga       5/11/2020
  • Ketika pandemi ini baru saja merebak di Indonesia, saya sempat berpikir bahwa, well, kita hanya perlu bersabar selama beberapa bulan ke depan. That’s it. Untuk sementara waktu, kita berdiam diri dulu di rumah, menahan rasa kangen untuk bisa menginjakkan kaki di bioskop dengan menikmati tontonan Netflix, serta berusaha sebaik mungkin untuk bekerja remotely lewat panggilan-panggilan telepon video. Singkatnya, syukuri apa yang ada, karena semua pasti akan berakhir pada waktunya.

    Kini, delapan bulan telah berlalu, dan sepertinya belum ada tanda bahwa pandemi telah mencapai klimaksnya. Saya mulai lupa seperti apa nikmatnya spa, betapa rindunya bisa menghirup udara segar tanpa perlu memakai masker, dan bagaimana dulu kita lupa bersyukur saat masih bisa mengobrol secara bebas bersama sahabat di kafe favorit sampai lupa waktu. Rasa sabar yang tadinya saya miliki kini perlahan mulai menguap. Kita ingin pandemi ini berakhir, tapi bahkan tak ada yang tahu kapan semuanya akan berakhir.

    Jelas sekali pandemi ini telah berubah menjadi suatu tantangan dan ujian yang cukup berat, terutama bagi kaum milenial dan gen-Z – generasi muda yang kini harus beradaptasi di tengah keadaan yang serba tidak menentu ini. Menurut ASEAN Youth Survey yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF) terhadap 68.574 anak muda berumur 16 sampai 35 tahun di enam negara ASEAN - termasuk Indonesia - pada Juli 2020 lalu, pandemi ini memang sedikit banyak (oke, banyak) mengubah gaya hidup kaum muda.



    Namun, seperti dua sisi koin, tak semua perubahan tersebut mengarah ke sisi yang kurang menguntungkan. Faktanya, menurut survey yang dilakukan oleh WEF, 5 dari 10 orang berhasil belajar untuk lebih fleksibel dan lebih siap menghadapi masa depan, 41% berhasil mempelajari keahlian baru, 38% belajar untuk berpikir lebih kreatif, dan 31% persen generasi muda menemukan model bisnis baru untuk meningkatkan pendapatan. 

    Tentu saja semua itu tak lepas dari penggunaan alat digital yang signifikan. 87% kaum muda mengaku bahwa penggunaan setidaknya satu alat digital semakin meningkat selama pandemi, dan 42% kaum muda memiliki setidaknya satu alat digital baru. Dan menurut WEF, peningkatan terhadap penggunaan teknologi ini akan menjadi sebuah tren yang terus bertahan meski pandemi berakhir.

    Selaras dengan meningkatnya pemikiran kreatif serta penggunaan teknologi dan alat digital selama pandemi, MRA Media bersama dengan Samsung Indonesia mengajak para entrepreneur dan penggiat bisnis untuk berbincang bersama dalam sebuah acara bertajuk Power Breakfast: “In the Midst of Every Crisis, Lies Great Opportunities”.

    Dalam acara virtual tersebut, para pelaku bisnis mengobrol seru mengenai dampak positif teknologi dan peran digital dalam menggerakan roda perekonomian lokal selama pandemi. Dipandu oleh Iwet Ramadhan, serta para Editor-in-Chief MRA Media - termasuk Filisya Thunggawan, Editor-in-Chief Cosmopolitan Indonesia - acara tersebut dihadiri oleh segenap pribadi menarik, di antaranya adalah Kenny Santana, Fajar Putra, Sean Gelael, Didiet Maulana, Ibu Simpirwati, Shinta Nurfaiza, Jessa Setiabudi, Peter Shearer, serta Bapak Yustinus Prastowo dari Staf Khusus Kementerian Keuangan Indonesia.


    Power to Work and Play


    Tak bisa dipungkiri, kita semakin bergantung pada penggunaan teknologi, yang kini tak hanya menjadi sebuah elemen penting dalam keseharian, namun juga suatu kebutuhan – baik untuk bekerja maupun untuk hiburan. Sejalan dengan hal tersebut, Samsung sebagai salah satu brand elektronik dan teknologi terbesar asal Korea Selatan, baru saja merilis dua smartphone-nya yang sangat powerful, yakni Samsung Galaxy Note20 dan Galaxy Note20 Ultra, yang hadir dengan kinerja yang optimal untuk mendukung power to work serta power to play.

    “Teknologi dari Samsung memang diperuntukkan untuk menunjang aktivitas keseharian, terutama pada saat work from home yang kita lakukan saat ini,” ujar Miranda Warokka, IM Marketing Director dari Samsung Electronics Indonesia, ketika membuka acara Power Breakfast pagi itu.



    Dan, untuk mendukung produktivitas, Samsung juga melengkapi smartphone-nya dengan rangkaian produk yang saling terintegrasi lewat Galaxy Ecosystem. Yang pertama ada Galaxy Buds Live, earpiece yang dirancang dengan desain ikonis dan elegan untuk mendukung aktivitas ketika melakukan panggilan video atau ketika kamu bersantai sambil mendengarkan lagu atau menonton film favorit. Dengan fitur active noise canceling dan tiga microphone guna menghasilkan suara maksimal, dijamin pengalaman Anda pasti akan semakin maksimal.

    Berikutnya, ada smartwatch Galaxy Watch3, dengan tampilan yang timeless dan fitur-fitur yang powerful. Sebagai pelengkap gaya hidup, Galaxy Watch3 tak hanya mendukung penampilan, namun juga berperan memantau kesehatan (penting!) di tengah kesibukan beraktivitas. Ya, smartwatch dengan leather band tersebut telah dirancang agar dapat membantu memonitor kadar oksigen dengan kemampuan SpO2. Jam yang punya oksimeter? Cool, cool, cool.

    “Dengan seluruh keunggulan produk Samsung yang hadir bersama dengan ekosistem yang lengkap, kamu bisa menjadi pribadi yang powerful dalam setiap aspek kehidupan,” lanjut Miranda.


    Power Breakfast

    Anda mungkin pernah mendengar atau membaca kutipan berikut di media sosial: ‘Pandemic is not a contest of productivity.’ Saya setuju dengan kutipan tersebut. Di tengah kondisi yang serba tidak pasti ini, berlomba-lomba menjadi nomor satu rasanya...terlalu berat bagi saya. Namun bukan berarti saya tidak berusaha untuk tetap produktif di tengah keadaan ini. Progres tentu harus ada - because life goes on. Hanya saja, saya tak menyumbangkan 100% energi saya untuk bekerja, namun membaginya sama rata untuk juga beristirahat dan menghibur diri.



    Balancing antara produktivitas dan menjaga kesehatan mental adalah suatu hal yang penting di tengah kondisi pandemi ini,” ujar Filisya Thunggawan, Editor-in-Chief majalah Cosmopolitan Indonesia, di tengah acara Power Breakfast. “Dan untuk kedua tujuan tersebut, kita banyak menggunakan bantuan teknologi.”

    Mendengar hal tersebut, saya menganggukkan kepala. Fact is, teknologi memang sangat membantu di tengah kondisi pandemi ini. Semisal, sudah tak terhitung lagi berapa kali saya menggunakan smartphone untuk meeting dan panggilan video, juga untuk scrolling media sosial demi melihat tren dan bahan berita baru.

    Nah, bicara soal panggilan video, saya sempat berpikir begini, “Di tengah pandemi ini, sepertinya kamera depan smartphone sangat menentukan ‘prestasi’, ya.” I mean, kamera depan yang lebih jernih dan resolusinya lebih tinggi pasti akan memberi impresi yang lebih baik dan membuat lawan bicara lebih betah mengobrol, kan?

    Belum lagi jika Anda menggunakan kamera smartphone untuk kelas daring atau webinar, seperti yang dilakukan oleh Fajar Putra – atau mungkin yang lebih kamu kenal sebagai PenYoga Star – dengan kelas yoga virtualnya (yang sempat dihadiri langsung oleh 1500 orang!). Atau seperti Didiet Maulana dari IKAT Indonesia yang menginisiasi webinar dan kelas khusus untuk pelatihan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Untuk kedua kelas tersebut, tentu kualitas kamera depan sangatlah penting.

    Selain untuk melakukan panggilan video, smartphone juga membantu ketika saya perlu membuat reminder atau catatan kecil. Saya juga suka sekali membuat to-do list – yang tadinya saya lakukan di atas kertas memo tempel, oke, salahkan saya sudah membuang-buang kertas – karena hal tersebut cukup membantu ketika saya sedang menentukan prioritas, dan saya suka sekali menuliskan ide-ide random yang tiba-tiba tebersit di pikiran. Kini, sebisa mungkin saya lakukan semuanya di smartphone.

    Tentu saja semua hal di atas akan lebih mudah dilakukan jika kita memiliki smartphone yang mumpuni untuk mendukung produktivitas, seperti Samsung Galaxy Note20 dan Galaxy Note20 Ultra. Untuk panggilan video, kamera depan keduanya memiliki resolusi 12MP, sehingga tampilan Anda pasti lebih jernih ketika sedang melakukan Zoom meeting. Sedangkan untuk kamera belakangnya, well, tak perlu diragukan lagi. Ada tiga buah kamera di bagian belakang; yaitu kamera Ultra Wide dengan resolusi 12MP, kamera Wide-angle dengan resolusi 108MP, serta Telephoto dengan resolusi 12MP. Ingin membuat konten foto atau video untuk pekerjaan Anda? Kini semua jadi semakin mudah.

    Ditambah lagi, S Pen pada Samsung Galaxy Note20 dan Galaxy Note20 Ultra juga sudah diperbaharui (percayalah, kini rasanya semakin smooth!), jadi jika Anda butuh membuat catatan atau reminder, berkreasi menciptakan doodle, atau (seperti saya yang seringkali terpikir ide random) ingin menuangkan isi pikiran, Anda tak perlu lagi repot-repot mencari kertas dan pena karena semuanya bisa dilakukan lewat smartphone Anda.

    Selain itu, Anda juga tak perlu khawatir kehabisan baterai karena Samsung Galaxy Note20 juga memiliki baterai sebesar 4300mAh (dan bahkan 4500mAh untuk Samsung Galaxy Note20 Ultra) sehingga smartphone tersebut bisa menunjang aktivitas Anda sepanjang hari. Layarnya juga dilengkapi dengan dynamic AMOLED 2x, serta tampilan display yang 25% lebih bright sehingga Anda tetap bisa produktif meski harus mengerjakan tugas di bawah cahaya matahari yang terang seperti di balkon atau di teras rumah.


    Powerful Impact

    Tak hanya Fajar Putra yang semakin sibuk dengan kelas virtualnya, tamu-tamu lain yang juga hadir dan bergabung dalam Power Breakfast kali ini turut berbincang mengenai bisnis baru mereka. Sebut saja Jessa Setiabudi, Deputi GM Leasing Agung Sedayu Retail Indonesia yang sukses membuka bisnis barunya yaitu Mal Ashta di District 8 SCBD, juga si tampan Sean Gelael yang kini sibuk dengan restoran barunya, KFC Naughty by Nature, yang belakangan mencuri atensi publik lewat konsep hidangan mereka “Yang lebih sehat, tentunya”, ucap Sean.

    “Kalau kita berhenti dengan segala ketidakjelasan ini, we’re not going anywhere,” ucap Jessa. Cosmo agree, kita harus mengandalkan semua yang kita miliki dan berani mencoba ide baru untuk bisa survive di situasi ini. Seperti Kenny Santana, atau yang mungkin lebih Anda kenal dengan akun Instagramnya, @kartuposinsta, yang sedang tak lagi traveling namun kini memanfaatkan media sosial untuk membuat bisnis baru: Pasar KartuPos. Kenny kini bekerja sama dengan sejumlah brand lokal untuk menjual berbagai merchandise serta makanan favoritnya.

    Di sisi lain, Shinta Nurfauzia dari Lemonilo juga bercerita mengenai bagaimana ia berhasil memanfaatkan kelebihan teknologi untuk membantunya di tengah pandemi. Shinta bahkan berhasil membuka lapangan pekerjaan baru untuk 80 orang (W-O-W!) di tengah situasi yang tidak menentu ini. Demikian pula dengan Peter Shearer, CEO dan founder dari Wahyoo – sebuah startup berbasis aplikasi yang menyasar warung makan lokal – yang saat ini berhasil mengumpulkan dan mengajak 13.500 warung makan regional di Jakarta untuk bisa mengadopsi dan memanfaatkan kelebihan teknologi demi membantu perekonomian para pemilik warung.

    “Saya tahu rasanya pasti sulit untuk survive di 2020 ini, dan menghadapi 2021 juga rasanya pasti sulit. But we have to make ways to survive. And actually this is a good opportunity for us to become a good example,” ucap Sean Gelael. “Teruslah semangat, when there’s a will, there’s away,” lanjutnya. Dan jika Anda sulit merasa semangat, atau sedang merasa down, guys, it’s totally okay to not be okay.

    “Semua orang pasti ada ups and downs-nya. It’s normal. Engga mungkin kita up terus, pasti ada saat dimana kita merasa down,” ucap Fajar Putra. “Menurut saya, it’s okay untuk mengeluh, apalagi di tengah kondisi yang sulit dan tidak bisa ditebak seperti ini. Kebanyakan mungkin berpikir bahwa alih-alih mengeluh kita harus kuat, kita harus bersyukur. Tidak salah, sih, tapi kita juga harus mengeluarkan isi hati jika memang sedang lelah. Mengeluh itu boleh, kok, asalkan kita tahu batasannya, dan tahu bagaimana caranya untuk bisa bangkit lagi,” ujar Fajar dengan antusias. “Setuju, jangan sampai kita justru terbawa oleh toxic positivity,” balas Filisya Thunggawan.

    “Kalau begitu biar saya simpulkan obrolan hari ini,” ucap Iwet Ramadhan. “Pertama, beradaptasi harus kita lakukan untuk bisa menghadapi situasi yang tidak menentu ini. Kedua, mungkin kita perlu mengganti kalimat ‘being positive’ dengan ‘sehat secara mental dan fisik’, sehingga kita bisa mencari peluang-peluang untuk tetap survive di tengah pandemi ini,” ujarnya. Anda mungkin merasa bahwa tahun ini sangat berat, tapi jalani saja pelan-pelan, dan tak perlu dipaksa. “Ketiga, buat kebiasaan-kebiasaan baru yang turut mengubah kita menjadi manusia baru yang lebih produktif. Dan terakhir, ingat, jika produktivitas bisa didukung dengan teknologi yang mumpuni, pasti teknologi tersebut akan bisa membuat kita lebih powerful. Seperti halnya Samsung Galaxy Note20 dan Galaxy Note20 Ultra yang bisa membantu kita untuk tetap produktif,” tutup Iwet.


    (Alvin Yoga / FT / Dok. Samsung Indonesia)