Better You

Mantra-mantra Stoikisme untuk Kamu yang Hobinya Overthinking

  by: Redaksi       10/11/2021
  • “10 persen masalah dalam hidup kita adalah masalah itu sendiri, sedangkan 90 persennya adalah bagaimana kita menyikapinya,” 

    - Filosofi Teras, Henry Manampiring

    Panggilan untuk kamu para overthinker, yang hobinya khawatir tentang masa depan, karier, percintaan, bahkan sampai keuangan sekalipun. Yuk merapat, karena Cosmo punya tips ampuh mengendalikan emosi dari para kaum Stoa yang tentunya bisa bikin kamu enggak overthinking lagi semalaman.



    Stoikisme atau yang akrab dikenal sebagai Filosofi Teras adalah ajaran filosofi yang berkembang di tahun 300 SM sampai 200 M, dan kembali populer di masa kini karena prinsip-prinsipnya yang dianggap masih relatable dan mudah untuk dipraktikkan di kehidupan sehari-hari. 

    Ini dia beberapa prinsip Stoikisme untuk kamu yang ingin membangun mental tangguh dan anti meleyot, keep scrolling!



    Dikotomi Kendali

    Dalam Stoikisme, segala sesuatu yang terjadi di hidup ini dibagi menjadi dua, hal yang ada di dalam kendali kita dan hal yang ada di luar kendali kita. Kita sering kali terlarut dalam emosi yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan, seperti khawatir terhadap hal-hal yang tidak rasional; kondisi hati lawan bicara, popularitas, kekayaan, reaksi netizen, dan masih banyak lagi.

    Padahal, kita seharusnya lebih fokus terhadap hal-hal yang bisa kita kendalikan, meliputi pikiran, pertimbangan, opini, tindakan, dan perkataan kita sendiri, karena sejatinya, kebahagiaan datang dari dalam diri. Oleh karena itu, di saat kita dihadapi oleh keadaan yang tidak sesuai dengan harapan dan terkadang tak mengenakkan, kita harus meluangkan sedikit waktu untuk berpikir dan buru-buru menggiring mindset ke arah interpretasi emosi yang lebih positif.

    Contohnya, di saat kita terjebak oleh kemacetan lalu lintas di saat jam pulang kerja, kita punya dua pilihan. Pertama, memilih untuk mengumpat sambil menekan klakson sekencang mungkin, yang nyatanya tidak akan membuat jalan menjadi sepi seketika. Dan yang kedua, meluangkan waktu untuk menarik napas dan tersenyum selama lima detik, lalu menikmati kemacetan sambil mendengar podcast atau e-book favorit, dan memanfaatkan waktu ini untuk belajar hal-hal yang baru. Mana yang lebih baik?




    Premeditatio Malorum

    Siapa bilang cuma Harry Potter yang punya mantra-mantra ajaib? Para kaum Stoa di zaman Romawi-Yunani Kuno juga punya satu mantra yang bisa menjauhkanmu dari kata overthinking di kemudian hari. Premeditatio Malorum, adalah sebuah cara dimana kamu membayangkan risiko berupa kesulitan atau musibah yang akan terjadi di masa depan.

    Semisal, kamu membayangkan “Duh, bagaimana ya jika suatu hari nanti aku mendapat PHK karena kantor sedang berjuang keras melawan imbas pandemi?” atau “Hmm, hubunganku dengan si dia sudah tidak harmonis lagi, bagaimana ya kalau suatu hari nanti kami putus?” Hal ini berguna untuk mengantisipasi emosi-emosi negatif agar kamu tidak lagi terkejut jika hal-hal buruk tersebut sungguh terjadi; kamu menjadi kuat karena sudah menyiapkan diri terhadap hal tersebut. Mantra ini juga berguna untuk melatih mindset, bahwa bisa saja semua ketakutan yang kita bayangkan selama ini tidak akan terjadi dan hanya berada di dalam kepala kita saja.


    Hidup Selaras dengan Alam

    Amor fati, cobalah untuk mencintai nasib dalam bentuk baik dan buruknya. Kalau sudah jalannya, mengapa harus disesali? Segala sesuatu yang terjadi di hidup kita merupakan buah dari semua pilihan dan tindakan kita sebelumnya. Oleh karena itu, kita harus se-rasional mungkin untuk menggunakan akal sehat, dan menerima bahwa semua hal terjadi karena memang sudah seharusnya seperti itu.

    Semisal, kamu baru saja putus hubungan dengan mantanmu yang sudah berhubungan romantis denganmu selama lebih dari tiga tahun. Tentu saja kamu merasa sedih, dan mungkin kamu menganggap bahwa hal ini merupakan sebuah nasib buruk. Padahal kalau kamu berpikir lebih tenang, kamu tahu deep down in your heart hubungan kalian memang sudah tidak baik dan kalian sudah tidak cocok lagi. Putus dengannya mungkin menjadi sebuah keputusan yang baik karena akan membuka jalanmu menemukan nasib baik AKA pasangan baru. Dengan menerima keadaan dan garis takdir seperti ini, kamu jadi lebih terbuka menghadapi perubahan dalam hidup. See? Nasib buruk yang terjadi padamu mungkin justru menjadi titik balik yang luar biasa yang kamu butuhkan. You're gonna be JUST fine, trust us.


    (Tri Yuliati / VA / Image: Dok. Ron Lach from Pexels)