Beauty

Manfaat Bentonite Clay untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat

  by: Fariza Rahmadinna       12/11/2021
  • Girls, tahukah kamu mengenai bentonite clay? Bentonite clay adalah jenis tanah liat alami (natural clay) yang teksturnya halus dan lembut. Bahan ini menawarkan sejumlah manfaat, termasuk mengobati ruam dan mengatasi masalah jerawat.


    Nah, dalam artikel ini Cosmo akan menjelaskan lebih lanjut mengenai manfaat bentonite clay untuk perawatan kulit. Ini ulasannya buat kamu!




    Apa itu bentonite clay?



    Pada dasarnya, bentonite clay merupakan jenis clay yang terbuat dari abu vulkanik (volcanic ash), yang kaya akan mineral, seperti silika, kalsium, natrium, kalium, magnesium, dan zat besi. Mengapa disebut bentonite clay? Ini karena, bentonite clay berasal dari Fort Benton, Montana, yakni lokasi sumber bentonite terbesar.


    Manfaat bentonite clay


    1. Mengobati kulit dari reaksi alergi


    Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of the American Academy of Dermatology, lotion kulit yang mengandung bentonite clay terbukti efektif membantu melindungi dan mengurangi reaksi alergi poison ivy, jenis alergi mematikan yang menyebabkan gatal dan ruam kulit yang disebabkan oleh reaksi zat resin bernama ‘urushiol’


    Hasil yang sama juga terbukti dalam penelitian Indian Journal of Medical Research. Bahkan, berdasarkan penelitian tahun 2001 yang dipublikasikan di Journal of Cutaneous Medicine and Surgery melaporkan bahwa, bentonite clay juga secara efektif mampu mengobati kondisi dermatitis kulit, seperti eksim. Ini artinya, bentonite clay cocok untuk mengatasi berbagai masalah alergi kulit.


    Cara menggunakannya: 


    Pertama-tama cuci kulit dengan sabun sesegera mungkin jika menyentuh senyawa urushiol (biasa ditemukan pada dedaunan, batang, dan akar tumbuhan Ivy).Setelah itu, campur bubuk bentonite clay dengan air hingga membentuk pasta, lalu oleskan ke area kulit yang terkena. Tutup dengan perban bersih atau kain kasa sampai mengering, lalu bilas setelah selesai. Car ini bisa kamu ulangi hingga ruam yang disebabkan karena poison ivy hilang.


    2. Mengurangi jerawat


    Selain mampu mengatasi ruam pada kulit, bentonite clay juga dipercaya membantu mengurangi jerawat pada wajah. Jika digunakan sebagai masker wajah, bentonite clay bekerja membersihkan pori-pori secara mendalam dan menyerap minyak berlebih pada kulit wajah. Kemampuanya dalam menyerap minyak dan membersihkan pori-pori ini membuat bentonite clay menjadi bahan ideal untuk perawatan kulit berjerawat.


    Satu studi yang dilakukan oleh para peneliti dari University Medical Centre, Berlin, Germany—yang melibatkan pria dan wanita dengan kondisi jerawat ringan—menemukan bahwa kombinasi bentonite clay dan jojoba oil terbukti efekti mengurangi jerawat hingga 56 persen.Alasannya, sifat alami anti-inflamasi yang terdapat pada bentonite clay juga dapat membantu menenangkan peradangan akibat jerawat. Kamu cukup mengaplikasikannya dua sampai tiga kali seminggu selama enam minggu untuk mendapatkan hasil optimal.


    Cara menggunakannya: 


    Sudah banyak produk skincare masker yang memiliki kandungan bentonite clay di dalamnya. Tetapi, kamu juga bisa membuat masker wajah dari bentonite clay sendiri dirumah, lho.


    Caranya, campur bubuk bentonite clay dengan air hingga menjadi pasta kental. Oleskan pada area kulit yang rentan terhadap minyak atau jerawat. Biarkan masker selama kurang lebih 15 hingga 20 menit — jangan biarkan masker wajah terlalu kering di kulit — bilas wajah sampai bersih. Setelah itu, aplikasikan pelembap wajah untuk memberi dan menjaga kelembapan kulit. Gunakan masker wajah bentonite clay 1 hingga 2 kali dalam seminggu. 


    3. Memperlambat tanda-tanda penuaan


    Manfaat lainnya dari bentonite clay yaitu dapat membantu memperlambat tanda-tanda penuaan dengan merangsang produksi kolagen. Dalam sebuah penelitian kecil tahun 2012 yang dipublikasikan di Clinical and Experimental Dermatology, menunjukan bahwa mengaplikasikan bentonite clay pada kulit dapat membantu meningkatkan produksi kolagen. Hal ini disebabkan oleh kandungan mineral silika bentonite yang tinggi, dan bisa membantu menjaga jaringan ikat yang sehat sehingga tidak menghambat produksi kolagen.


    Sebagaimana diketahui, penurunan produksi kolagen dapat mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan, seperti keriput dan garis-garis halus pada wajah. 


    Tak hanya itu saja, kandungan mineral yang ditemukan dalam bentonite clay juga dianggap dapat membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas akibat sinar UV yang berkontribusi pada penuaan dini kulit. 


    Cara menggunakannya: 


    Hampir sama dengan penggunaan bentonite clay untuk mengurangi jerawat. 


    Caranya, campur bubuk bentonite clay dengan air hingga menjadi pasta kental. Oleskan pada area kulit yang rentan terhadap minyak atau jerawat. Biarkan masker selama kurang lebih 15 hingga 20 menit — jangan biarkan masker wajah terlalu kering di kulit lalu bilas wajah sampai bersih. Setelah itu, aplikasikan pelembap wajah untuk memberi dan menjaga kelembapan kulit. Gunakan masker wajah bentonite clay 1 hingga 2 kali dalam seminggu. 


    Adakah potensial efek samping dari penggunaan bentonite clay?


    Pada dasarnya, penggunaan bentonite clay diketahui tidak berisiko menimbulkan masalah kulit yang besar. Meskipun begitu, bagi kamu yang memiliki kulit sensitif, ada baiknya untuk melakukan patch test terlebih dahulu untuk mengetahui ada atau tidaknya reaksi alergi yang timbul. Dan jika terjadi iritasi, segera hentikan penggunaan. 


    Bagi kamu yang memiliki kulit kering, sebaiknya hindari penggunaan masker bentonite clay terlalu lama. Segera bilas wajah jika masker sudah dalam kondisi setengah kering. Ini karena, bentonite clay berpotensi membuat kulit kamu semakin kering dan terasa kencang. Setelah penggunaan masker bentonite clay, aplikasikan pelembap untuk menjaga kelembapan kulit. 




    Secara umum, kandungan bentonite clay lebih ditujukan bagi kamu yang memiliki kulit berminyak dan berjerawat, karena kemampuannya untuk menyerap kelebihan minyak dan mengurangi jerawat. 


    (Fariza Rahmadinna/KIS/ Image:Doc. SHVETS production on Pexels)