Better You

7 Fakta Lactose Intolerance yang Perlu Kamu Tahu

  by: Alexander Kusumapradja       24/11/2021
  • Waktu kecil dulu rasanya minum susu setiap hari tidak ada masalah, tapi kok semakin ke sini setiap minum susu atau produk dairy lainnya malah timbul perasaan tidak nyaman ya? Mulai dari perut terasa kembung, penuh gas, kram, mual, muntah, hingga diare. Kalau itu yang kamu rasakan, itu artinya kamu termasuk orang dengan lactose intolerance alias intoleransi laktosa.

    Laktosa adalah sejenis gula alami yang terkandung dalam susu sapi, sedangkan intoleransi laktosa adalah kondisi di mana tubuh tidak mampu mencerna laktosa tersebut akibat kurangnya produksi enzim laktase yang diperlukan. Akibatnya, laktosa tidak dapat diserap dan langsung diteruskan ke usus besar. Bakteri yang ada di usus besar kemudian akan memecah laktosa dan menghasilkan gas yang menimbulkan rasa kembung atau mual. Berikut ini beberapa fakta lainnya tentang lactose intolerance yang perlu kamu tahu.




    via GIPHY


    1. Lactose intolerance bisa terjadi secara alami

    Kamu saat ini mungkin masih  bisa enjoy minum susu atau makan es krim tanpa masalah, namun riset menunjukkan kalau sekitar 75% dari populasi dunia kehilangan kemampuan untuk mencerna laktosa secara alami at some point di hidup kita.


    2. Beberapa etnis cenderung lebih rentan dibanding etnis lainnya

    Menurut riset yang dilakukan oleh NIH, lactose intolerance paling banyak ditemukan pada orang-orang keturunan Asia Timur seperti Jepang, Korea, dan Cina. Lebih dari 90% orang dewasa di komunitas Asia Timur mengalami lactose intolerance. Kondisi serupa juga umum ditemukan pada orang-orang keturunan Arab, Yahudi, Afrika Barat, Yunani, dan bahkan Italia. Di sisi lain, orang-orang berdarah Eropa Utara seperti Inggris, Swedia, Denmark yang umumnya mengonsumsi susu tanpa fermentasi hanya memiliki sekitar 5% populasinya yang mengalami lactose intolerance.

    Hmm, kira-kira bagaimana dengan Indonesia? Menurut data Euro Monitor International and New Nutrition Business, 14 Trends in Dairy Nutrition 2018, 80 persen populasi penduduk di Asia Tenggara, termasuk masyarakat Indonesia, mengalami gangguan kesehatan tersebut.


    3. Efek lactose intolerance berbeda bagi setiap orang

    Orang-orang yang mengalami lactose intolerance punya reaksi yang beragam saat mengonsumsi produk dairy. Laktosa dalam jumlah rendah dapat menyebabkan gejala cukup parah seperti kram perut atau diare bagi sebagian orang, sementara bagi sebagian orang lainnya mungkin hanya mengalami perut penuh gas dan ingin buang angin. Belum ada penelitian kenapa gejalanya bisa berbeda-beda di setiap orang, namun ada yang menduga kalah hal itu berhubungan dengan bakteri dalam usus di masing-masing orang.


    via GIPHY



    4. Beberapa jenis keju dan yogurt tidak menyebabkan gelaja lactose intolerance

    Dalam banyak kasus, menjadi lactose intolerant bukan berarti kita harus say goodbye ke produk-produk dairy tertentu. Seperti yang sudah disebut di atas, gejalanya berbeda bagi setiap orang sehingga ada sebagian orang yang tidak masalah menikmati yogurt yang mengandung susu fermentasi atau keju seperti Parmesan dan cheddar. Alasannya, keju yang diawetkan mengandung hanya sedikit laktosa yang membuatnya jadi lebih mudah dicerna oleh orang yang mengidap lactose intolerance.

    Tips mengetahui produk apa yang memiliki kandungan laktosa rendah adalah dengan mengecek label nutrisinya. Karena laktosa pada dasarnya adalah kandungan gula pada susu, semakin rendah angka gula di label, semakin tinggi kemungkinan kita bisa mengonsumsinya dengan aman.


    5. Gejala lactose intolerance dapat terjadi dengan cepat

    Gejala yang terjadi akibat lactose intolerance biasanya terjadi dalam waktu 30 menit hingga 2 jam setelah mengonsumsi produk berbahan susu. Semakin banyak produk susu yang kita konsumsi, gejalanya bisa makin parah.


    6. Bayi juga bisa mengidap lactose intolerance

    Kalau kamu pikir lactose intolerance hanya dialami oleh orang dewasa yang jarang minum susu, kamu salah besar nih karena kasus lactose intolerance ternyata juga ditemukan pada bayi. Hal ini terjadi kalau bayi memiliki gen LCT yang telah termutasi sehingga usus kecil bayi hanya menghasilkan sedikit laktase atau bahkan tidak sama sekali yang membuat mereka kesulitan mencerna produk susu. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease, anak-anak bisa mewarisi gen yang menyebabkan lactose intolerance dari orangtua mereka. Namun sebetulnya kondisi ini termasuk jarang buat bayi.


    7. Kita bisa meningkatkan daya tahan untuk lactose intolerance

    Walau terdengarnya seperti menyakiti diri sendiri, tapi riset berargumen kalau mengonsumsi susu dalam porsi kecil saat kondisi perut kita kenyang sekitar dua atau tiga kali sehari dapat melatih sistem pencernaan kita untuk mencerna produk susu tanpa rasa tidak nyaman. Namun, kalau usus kecil kita pada dasarnya tidak mampu memproduksi laktase, hal ini tidak berpengaruh apa-apa. Selain bereksperimen sendiri dan mencari tahu jalan terbaik bagimu untuk mengonsumsi produk susu. Sekarang ini di pasaran pun sudah beredar alternatif produk susu dari protein nabati serta produk susu hewani tanpa laktosa yang aman untuk dikonsumsi bagi mereka yang lactose intolerant.


    (Alexander Kusumapradja / Image: The Humble Co. via Unsplash)