Lifestyle

Kisah Nyata di Balik Film Netflix “Tick, Tick… Boom!”

  by: Alexander Kusumapradja       26/11/2021
  • Salah satu film terbaru Netflix yang sedang ramai dibicarakan adalah “tick, tick… Boom!”, sebuah film musikal yang bercerita tentang perjuangan seorang penulis teater (diperankan Andrew Garfield) di New York City yang akan menginjak usia 30 tahun dan mempertanyakan arah hidupnya di dunia seni. Disutradarai oleh Lin-Manuel Miranda, film ini diadaptasi dari kisah hidup Jonathan Larson yang terkenal setelah menulis teater musikal Rent di Broadway.





    Spoiler Alert!

    Sebaiknya kamu meneruskan membaca artikel ini setelah menonton filmnya dulu di Netflix ya karena tulisan berikutnya akan mengandung spoiler yang mungkin ingin kamu hindari.



    Lin-Manuel Miranda sendiri saat ini dikenal sebagai penulis teater musikal fenomenal Hamilton dan mengaku bahwa menonton Rent ketika ia berusia 17 tahun telah mengubah hidupnya dan memantapkan niatnya untuk terus berkarya di bidang seni. Sayangnya, ia sendiri tak pernah berkesempatan bertemu dengan Jonathan Larson, karena beliau secara tragis meninggal di tahun 1996 ketika ia berumur 35 tahun tepat di malam hari sebelum pertunjukan publik perdana Rent di New York Theatre Workshop. Lewat film “tick, tick… Boom!” ini, Miranda meneruskan legacy Jonathan kepada khayalak yang lebih luas dan generasi sekarang yang tentunya bisa menjadi inspirasi untuk siapa saja, terutama yang sedang menghadapi quarter life crisis. Berikut ini adalah beberapa cerita lain tentang kisah nyata di balik sosok Jonathan Larson.




    Tentang Jonathan Larson

    Dalam film dokumenter di balik proses produksi Rent yang berjudul No Day But Today: The Story of ‘Rent’ yang dirilis tahun 2006, keluarga Larson bercerita tentang masa kecil Jonathan di White Plains, New York di mana ia bergabung dengan band dan paduan suara sekolahnya dan mulai terlibat dalam produksi teater di masa SMA. Ia kemudian berkuliah di Adelphi University untuk belajar akting sembari mulai menulis lagunya sendiri. Setelah lulus, ia pindah ke New York City untuk fokus menjadi penulis lagu dan teater. Dalam dokumenter tersebut, saudari perempuannya mengenang kalau Jonathan selalu bilang ke orang-orang kalau ia akan membawa perubahan pada dunia teater musikal Amerika Serikat.


    Menulis “tick, tick… Boom!”

    Untuk menembus Broadway dan meraih nama di dunia teater New York City jelas bukan hal yang mudah. Ada banyak Jonathan Larson dari segala penjuru dunia yang datang ke New York City dengan mimpi yang sama. Untuk bertahan hidup, Jonathan bekerja sebagai pramusaji di Moondance Diner di Manhattan. Bila tidak mengerjakan komisi, ia akan mencurahkan waktunya untuk menyelesaikan proyek ambisiusnya, sebuah teater musikal berlatar futuristis dengan judul Superbia. Seperti yang kita tonton di filmnya, komponis legendaris Stephen Sondheim sempat datang menonton sesi workshop pertunjukan tersebut, namun karya musikal itu tak pernah diproduksi. Jonathan merasa patah hati karena setiap produser yang datang selalu bilang kepadanya kalau karya ini terlalu mahal untuk diproduksi di Off-Broadway (teater yang lebih kecil) tapi juga terlalu aneh untuk ditampilkan di Broadway.

    Setelah itu, Jonathan pun berpikir untuk memproduksi karya yang hanya menampilkan dirinya, piano, dan band. Ia mulai menulis pertunjukan tunggal yang kemudian ia beri judul “tick, tick...Boom!” Judul tersebut dipilih untuk menggambarkan detik jam yang terus menghantui kehidupan dirinya dan teman-teman di sekitarnya, bahwa mereka merasa dikejar oleh waktu sebelum masa hidup mereka selesai. Di masa ini, Jonathan telah kehilangan beberapa temannya akibat krisis AIDS yang terjadi di Amerika Serikat di era 1980-1990’an, termasuk sahabat terbaiknya dari masa sekolah yang mengaku kalau ia juga telah mengidap HIV.



    Setelah menyelesaikan “tick, tick...Boom!” yang sukses, Jonathan mulai menulis kembali untuk karya yang sebelumnya ia tunda, yaitu adaptasi dari opera La Bohème karya Giacomo Puccini yang bercerita tentang dua seniman miskin di Paris. Karya tersebut kemudian diberi judul Rent yang bercerita tentang sekelompok seniman muda yang berusaha bertahan hidup dan mengejar mimpinya di East Village, New York City di bawah bayang-bayang ancaman HIV/AIDS.


    Kematian Jonathan yang Tak Terduga

    Setelah New York Theatre Workshop sepakat memproduksi Rent, Jonathan akhirnya bisa berhenti dari pekerjaannya sebagai pramusaji di Moondance Diner. Namun mendekati hari H pertunjukan perdana Rent, Jonathan mulai merasakan sakit di dada dan mual. Dalam sebuah sesi latihan, Jonathan sempat pingsan di balik panggung dan harus dilarikan ke UGD dua kali, namun para dokter tidak menemukan ada yang salah dalam dirinya.

    Jonathan terus mempersiapkan pertunjukan perdananya. Tanggal 24 Januari 1996, Jonathan datang ke final dress rehearsal Rent yang ditampilkan di depan penonton. Setelahnya, ia masih sempat melakukan interview di belakang panggung dengan kritikus Times, Anthony Tommasini, yang masih bisa kamu baca di sini. Lalu pulang ke rumah sekitar pukul 12:30 malam. Sebelum tidur, ia memasak air untuk membuat teh, namun tiba-tiba ia meninggal dunia akibat aneurisma aorta, penyakit yang ditandai dengan penggelembungan pada pembuluh darah aorta. Ia meninggal di usia 35 tahun.


    Kesuksesan Rent

    Kematiannya yang mendadak jelas menghancurkan hati keluarga dan teman-temannya, namun Rent dengan cepat menjadi salah satu pertunjukan terpopuler di New York City. Selalu habis terjual tiketnya di New York Theatre Workshop, pertunjukan ini kemudian diboyong ke Broadway dan menjadi fenomena tersendiri. Setelah kematiannya, Jonathan mendapat penghargaan Pulitzer di bidang Drama dan tiga Tony Awards. Namun warisan Rent yang paling utama adalah membuktikan perkataan Jonathan kalau ia akan mengubah wajah teater musikal Amerika dengan musik rock, latar serta karakter kontemporer yang bisa relate dengan banyak orang.

    Beberapa tahun setelahnya, penulis teater David Auburn menulis ulang "tick, tick...Boom!", dan mengubahnya dari pertunjukan tunggal menjadi pertunjukan tiga babak yang ditampilkan perdana di Off-Broadway tahun 2001 dan memperkenalkan karya ini ke masyarakat yang lebih luas. Dalam tulisan di Times tahun 2014, Lin-Manuel Miranda pun menulis: “Jonathan, kalau kamu bisa dengar saya, kamu telah membuktikan janjimu dengan hasil yang lebih dari yang kamu harapkan. Kami terus menampilkan karyamu dan setiap kali, hidup seseorang akan berubah karena inspirasi yang kamu tunjukkan. Orang-orang mendapat keyakinan untuk menceritakan kisah mereka karena kamu telah berani menceritakan kisahmu.”


    (Alexander Kusumapradja / Image: dok. Netflix, foto Jonathan Larson: Library of Congress)