Better You

Pregnancy : Wanted or Not?

  by: Hagi       13/12/2012
  • Bagi kebanyakan wanita, kehamilan adalah sebuah anugerah. Tapi, bila ternyata Anda justru mengalami pregnancy blues, bagaimana menyikapinya?

    “Selamat, Anda hamil!” Ucapan ini lazim dilontarkan dokter spesialis kandungan saat Anda dinyatakan mengandung. Bagi pasangan yang tengah menantikan kehamilan tentu hal ini disambut dengan sukacita. Tapi bagi pasangan yang belum ingin memiliki keturunan, apakah ucapan selamat menjadi berarti buat mereka? Menurut Mira D. Amir, Psi, dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI), hal ini ibarat fenomena gunung es, yang di permukaan tampak baik-baik saja.
    “Sebenarnya kalau mau jujur, cukup banyak pasangan yang bermasalah berat saat kehamilan akibat pregnancy blues dan ketidaksiapan pria dalam menghadapi segala perubahan,” ujar Mira. Apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya? Bukankah seharusnya mereka merasa sangat bahagia menyambut kehadiran buah hati? Cosmo Pregnancy akan mengupasnya untuk Anda.

    Do You Really Want A Baby, Now?
    Siapa yang menginginkan kehamilan? The couples, keluarga, atau lingkungan? Mira mengatakan, di Indonesia, seringkali terjadi seorang wanita hamil karena harapan lingkungan. Sehabis menikah, seorang istri sebaiknya langsung hamil. Padahal pasangan tersebut belum tentu merasa siap dengan kehamilan yang begitu cepat. “Saran saya, menikah cepat boleh, tapi hamil ditunda dulu. Memang seperti melanggar norma sosial yang berlaku di masyarakat.  Lebih baik honeymoon dulu untuk mengenali pasangan Anda baru kemudian merencanakan kehamilan,” paparnya. 



    Pregnancy is A Blessing, But...
    Mira mengungkapkan, pola pikir pasangan di Indonesia masih terkemas dalam nilai – nilai agama dan budaya. Kehamilan dianggap sebagai berkah dari Tuhan, sehingga yang dipikirkan hanya keindahannya semata. Padahal perubahan hormon dan bentuk tubuh si calon ibu dapat memengaruhi rasa percaya dirinya. “Pada akhirnya hal ini akan berpengaruh negatif terhadap relationship-nya dengan suami. Memang kehamilan adalah berkah, apalagi zaman sekarang banyak wanita yang sulit punya anak. Meski begitu jangan naif, hamil adalah sesuatu yang besar,” lanjut Mira.

    Let Him Know What You Feel!
    Saat membina hubungan, setiap pasangan berkomitmen untuk menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Tetapi bila si wanita hamil jadi frustasi, super sensitif, dan mudah marah hanya karena hal sepele, tentu pasangannya akan merasa bingung. Belum lagi jika Anda menolak intimacy, pasangan Anda akan merasa tidak lagi mengenal Anda dan ini berpotensi besar memicu perselingkuhan. Mira menyarankan, “Sebaiknya setiap wanita hamil mengekspresikan perubahan dirinya dengan menulis diary atau jurnal. Ia harus mengungkapkan apa yang berubah dari tubuhnya dan perasaannya untuk membantu pasangannya memahaminya.” So, let him know what you feel, Moms!

    It's Not All About You, Dear...
    Kepribadian pria berbeda – beda sesuai dengan latar belakang ia dibesarkan. Bila tipe kepribadiannya self-centered, seringkali ia mengalami limelight effect, suatu kondisi ketika ia merasa terabaikan saat pasangannya hamil, karena semua mata tertuju pada si wanita hamil. Kata Mira, cara mengatasinya adalah libatkan pasangan Anda dalam setiap aktivitas Anda saat hamil.



    Financial Planning is A Must!
    Last but no least, mempersiapkan kehadiran bayi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika tidak direncanakan dengan matang, ini bisa menjadi sumber ketidakharmonisan pasangan. “Belum lagi jika si wanita mempunyai kakak atau adik yang sudah memiliki bayi dan melahirkan di tempat tertentu. Biasanya ia menginginkan untuk melahirkan di tempat yang sama,” ujar Mira.

    Well ladies, kehamilan merupakan sebuah berkah yang tidak ternilai harganya, tetapi perencanaan yang matang akan membuat  Anda dan pasangan sudah benar – benar siap menyambut si buah hati yang menggemaskan.

    WARNING SIGN
    Saat Hamil, Anda dan pasangan sebaiknya melakukan konseling jika :
    1.Emosi Anda meledak diluar kendali hanya karena hal sepele.
    2.No intimacy. Anda menolak kehadiran pasangan, hingga enggan tidur satu ranjang.
    3.Saat pasangan mulai kewalahan dan memilih untuk menjauh dari Anda. (Karmenita  Ridwan/ Image: Dok. Cosmo Pregnancy)
     

    tags: news, info, couple