Lifestyle

Melepas Batas Bersama Festival Teater Jakarta 2016

  by: Kezia Calesta       22/12/2016
  • Festival Teater Jakarta hadir kembali dengan tema "Transisi"—yang ditulis menyerupai bahasa pemrograman komputer: //Trans><isi//, di mana 265 grup teater meramaikan FTJ 2016 selama 19 hari. Selain menggelar pertunjukan, FTJ 2016 juga menyelenggarakan beragam lokakarya seperti Sensor Gerak, Fotografi Seni Pertunjukan, dan Jurnalisme Seni Pertunjukan, juga program kuratorial seperti pameran, pasar seni dan kafe aktor.

     



    Pada malam pembukaan tanggal 21 November lalu, FTJ 2016 melangsungkan pentas kolaborasi sejumlah seniman dari Jakarta, Bandung dan Denpasar berjudul T.T.T (To the Tit) di Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Selain penampilan seru dari kelompok-kelompok teater asal Jakarta, Yogyakarta, Madura, dan kota-kota lainnya, sebuah kelompok teater kontemporer dari Jepang bernama MuDA didatangkan oleh The Japan Foundation untuk memberikan sebuah pertunjukan istimewa bertajuk Semegiai Random 02 yang penuh ritme dan ritual. Selain pentas MuDA, sutradara teater tertua Diding Zeta juga memberikan kesaksian penting tentang bagaimana ia melahirkan sejumlah aktor dan sutradara teater di Jakarta.

     



     

    Menurut Afrizal Malna, Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, tema 'Transisi' diambil sebagai upaya untuk melepas batas antara tradisi dan modern. Para pelaku teater yang terlibat dalam pementasan FTJ, baik modern maupun tradisional, diharapkan bisa menghasilkan karya yang melepas batas-batas dikotomi antara tradisional-modern. Transisi juga menjadi visi Dewan Kesenian Jakarta untuk mengubah citra orientasi Festival Teater Jakarta.

     

    FTJ 2016 diselenggarakan oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta dan didukung oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. (Kezia Calesta / VP / Image: doc. FTJ 2016 / Ndaru Wicaksono)

    tags: ftj 2016, seni, teater