Fashion

Kemeriahan Acara Kondangan Peranakan Tionghoa 2018

  by: Hendry Leo       13/12/2018
  • Indonesia, sebagai negara dengan keberagaman suku bangsa, menjadi salah satu kebanggaan sekaligus tantangan terbesar bagi generasi penerus untuk tetap mempertahankan warisan bumi pertiwi. Oleh karena itu, demi menjaga tradisi dan budaya yang sudah ada sejak dulu, banyak gerakan dari para komunitas serta lembaga kebudayaan yang memiliki visi dan misi untuk meningkatkan serta menggali kebudayaan leluhur. Melalui latar belakang ini pula, Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) mengadakan acara Kondangan Peranakan Tionghoa 2018 di Hotel Shangri-La pada 22 November 2018 lalu.


    Acara ini menjadi salah satu penutup bagi serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sepanjang tahun ini. Dengan tetap konsisten dalam pelestarian dan pengembangan budaya Peranakan Tionghoa, Aspertina menjadi salah satu referensi bagi para mahasiswa, pecinta budaya, pelaku fashion, maupun kuliner untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan Budaya Peranakan Tionghoa di Indonesia.




    Serangkaian acara pun dihadirkan, seperti permainan angklung peranakan yang dibawakan oleh para lansia berusia 60 hingga 85 tahun yang tergabung dalam Pelita Angklung. Tak hanya itu, persembahan lagu-lagu daerah yang indah juga ditampilkan oleh grup vokal, Elfas Singer yang dilanjutkan dengan penampilan tarian kebudayaan dari Tarian Gending Sriwijaya. Kemudian pagelaran busana dari desainer Indonesia, yakni Poppy Dharsono, Ghea Panggabean, Jeanny Ang, Hengky Kawilarang, dan masih banyak lagi, yang menampilkan koleksi busana rancangan mereka dengan sangat detail dan indah yang terinspirasi dari keberagaman budaya di Indonesia.



    Para tamu yang berjumlah hampir 500 orang ini, hadir memakai balutan busana khas Peranakan Tionghoa, dengan batik dan kebaya yang elegan layaknya kondangan dengan sentuhan budaya peranakan. Acara ini juga dihadiri oleh anggota federasi Baba-Nyonya Internasional, seperti dari Peranakan Association Australia New South Wales, Sydney, Peranakan Association Australia Inc, Melbourne (PAA Melbourne), Persatuan Peranakan Baba Nyonya Kuala Lumpur & Selangor (PPBNKLS), The Peranakan Association Singapore (TPAS), dan dari anggota Federasi Baba-Nyonya Internasional lainnya.


    Melalui acara ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian seni dan budaya peranakan, serta memelihara warisan leluhur yang telah ada sejak dulu agar bertahan menjadi salah satu warisan kekayaan Indonesia.



    (Foto: Dok. Peranakan Tionghoa Indonesia/ Ilustrasi: Dewa)