Better You

Belajar dari FKA Twigs: Emotional Abuse Adalah Pelecehan

  by: Shamira Priyanka Natanagara       23/12/2020
    • Danielle Campoamor, Contributing Digital Editor Cosmopolitan US, menjelaskan mengapa penyanyi FKA Twigs membuka jalan bagi para penyintas untuk bersuara, dan mengapa kita harus menganggap emotional abuse, alias pelecehan emosional, lebih serius.


    Ketika FKA Twigs mengajukan gugatan terhadap mantan kekasihnya, Shia LaBeouf, pada 11 Desember lalu, dengan tuduhan "pelecehan tanpa henti" selama hubungan mereka yang nyaris setahun, Twigs memberikan izin bagi orang-orang yang telah mengalami jenis pelecehan yang sering diremehkan untuk mencari bantuan dan bersuara.

    Dalam gugatan tersebut, Twigs menuduh LaBeouf telah melecehkannya secara "fisik, emosional, dan mental berkali-kali," menurut laporan New York Times. Tuduhan atas pelecehan emosional dan mental muncul beberapa kali dalam gugatan sepanjang 16 halaman tersebut, dan berdasarkan laporan Times, seringkali beriringan dengan pelecehan fisik.



    Jangan salah, ini adalah tindakan revolusioner di dunia yang masih sering membebaskan pelecehan fisik dan mengabaikan pelecehan emosional serta mental. Dengan tuduhan-tuduhan tersebut dan mengakui bahwa menjadi seseorang yang berpenghasilan dan berstatus tidak melindunginya dari pelecehan, ia telah memberikan semua penyintas kekuatan lebih untuk menyuarakan kebenaran mereka.

    Di Amerika Serikat, 1 dari 4 wanita dan 1 dari 7 pria mengalami sebuah bentuk kekerasan fisik selama hidup mereka—yang membunuh 50.000 wanita dalam setahun. Namun pelecehan emosional dan mental bahkan lebih umum terjadi. Sebuah survei oleh Centers for Disease Control and Prevention menemukan bahwa hampir setengah wanita yang merespons telah dilecehkan secara psikologis oleh seorang pasangan. It's true.

    Ketika tidak ada bekas gigitan, mata lebam, atau tulang yang patah sebagai bukti, emotional abuse seringkali sulit untuk diidentifikasi, dinamakan, atau dilaporkan. Tapi emotional abuse sendiri bisa sama merusaknya dengan physical abuse, menyebabkan depresi, anxiety, PTSD, menurunkan self-esteem, dan sakit kronis. Bahkan bisa mengakibatkan penyakit kronis, termasuk fibromyalgia dan chronic fatigue syndrome. Itu juga seringkali pendahulu pelecehan fisik. Tanpa isolasi, paksaan, dan penghinaan akan pelecehan emosional dan mental, pelaku mungkin tak punya fondasi yang mengizinkan mereka untuk terus mengakibatkan luka fisik pada korban mereka. Seperti yang Twigs katakan soal LaBeouf di Times, "Ia membawa saya sangat rendah, di bawah diri saya, pikiran untuk meninggalkannya dan mengurus diri untuk kembali ke atas rasanya tidak mungkin."

    Jika kita menganggap pelecehan mental dan emosional lebih serius—jika kita mencoba untuk benar-benar memahami tanda peringatan, bagaimana itu terwujud, dan bagaimana itu membangun dasar untuk memerangkap korban dalam siklus pelecehan—mungkin kita bisa menghentikan terjadinya pelecehan fisik. 

    Namun bahkan jika pelecehan emosional tidak berujung pada pelecehan fisik—karena tidak selalu—itu tetap pelecehan. Itu masih menjamin reaksi, konsekuensi, dan perbaikan yang sama yang seharusnya terjadi setelah pelecehan fisik. Dan para korban pelecehan emosional, yang kemungkinan tidak memiliki bukti fisik akan rasa sakit yang dialami, berhak mendapatkan dukungan sebesar korban yang memiliki bukti.



    Sebagai korban pelecehan anak dan seseorang yang telah berada dalam hubungan yang emotionally abusive, saya sering memberi tahu diri saya berkali-kali bahwa, Well, setidaknya ia tidak memukul saya. Saat kita mempertimbangkan kurangnya pelecehan fisik untuk menjadi kelebihan dalam hubungan yang toxic dan kasar, kita merendahkan diri kita sendiri dan kemanusiaan. I am guilty of this. I know I am not alone.

    Twigs tidak yakin jika ia akan dianggap serius kalau ia maju untuk bersuara. "Saya hanya berpikir pada diri sendiri, Tak akan ada yang memercayai saya," ia memberi tahu Times. "Saya inkonvensional. Dan saya seorang orang kulit berwarna [person of color] yang seorang wanita."

    Saya benci kita tinggal dalam society di mana saya harus mengatakan ini, tapi: Saya percaya pada Twigs. Of course I do. Dan ia telah mengingatkan saya, kamu tidak butuh bukti fisik pelecehan yang kamu alami untuk ceritamu agar bisa dianggap sah seperti yang disertai dengan tagihan rumah sakit, foto, memar, atau bekas luka. Luka kita lebih sering tidak terlihat—luka tersebut ada di pikiran kita, luka tersebut ada pada harga diri kita. Dan jika Hollywood benar-benar ingin menghilangkan industri yang dipenuhi pelecehan, dalam segala bentuk, maka yang harus dilakukan adalah sesuatu yang selalu dikatakan tapi belum pernah terwujud: meminta pertanggungjawaban dari pelaku pelecehan.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan US / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Shamira Natanagara / Ed. / Opening image: Dok. Instagram/fkatwigs)