Better You

Menurut Penelitian: Pandemi Membuat Kita Lebih Sering Bohong

  by: Alvin Yoga       24/12/2020
  • Berikut ini beberapa kebohongan yang saya katakan dalam kurun waktu tiga bulan terakhir:

    1) Saya tidak meninggalkan rumah sama sekali. (Ya, saya melakukannya sesekali untuk berbelanja ke toko serba ada.)

    2) Saya senang bisa berada di rumah dan terhindar dari virus. (Saya bosan setengah mati.)



    3) Saya baik-baik saja. (Tidak, saya tidak baik-baik saja. Saya stres.)



    Saya tahu apa yang kalian pikirkan—bahwa saya seharusnya bersyukur karena saya baik-baik saja. Ya, saya tahu. Tapi terlalu banyak meyakinkan diri untuk terus bersikap positif justru sebenarnya menjadi toxic positivity.

    Dan, sulit sekali untuk bersikap jujur terhadap apa yang kita rasakan saat ini. Saya yakin saya tidak sendirian dalam hal ini. Kamu juga mungkin ikut merasakannya—berbohong mengenai beberapa hal, termasuk soal apa yang sejujurnya (benar-benar) kita rasakan.

    Well, basically, kebohongan ada di-ma-na-ma-na. Mulai dari omong kosong "saya janji" untuk tidak ke mana-mana, sampai berbohong mengenai "saya sibuk" padahal yang saya butuhkan hanyalah beristirahat sejenak dari menatap layar komputer selama seharian. Bisa dimengerti, karena realitas COVID-19 yang terjadi saat ini menciptakan sebuah tekanan di mana semua orang harus menyesuaikan diri—atau setidaknya, *berpura-pura* bahwa mereka melakukannya.

    Bukan berarti saya berbohong dan tidak mengikuti aturan untuk melakukan social distancing, ya. Saya tetap melakukannya kok, dan justru karena hal itulah saya jadi stres dan berbohong soal keadaan saya pada atasan dan teman-teman saya. “Lupakan soal musim alergi—ini adalah musim berbohong," ujar celebrity life coach Lauren Zander, cofounder dan chairwoman dari Handel Group, sebuah perusahaan eksekutif khusus untuk life coaching yang berada di New York.



    Menurut para ahli yang mempelajari hal ini, angka rata-rata kebohongan yang disampaikan oleh seseorang dalam satu hari adalah 1.65 kali. Namun itu adalah angka sebelum COVID-19. Berbohong belum menjadi semacam 'kebutuhan' ketika pandemi, namun "COVID-19 seakan telah memberikan para manusia sebuah kotak berisi berbagai macam kebohongan untuk mereka coba," ujar Zander. Dan kini, angka tersebut bertambah.

    Kamu mungkin merasa bahwa berbohong ketika pandemi rasanya...licik dan kejam, namun fakta bahwa setiap orang membuat aturan bersosialisasinya sendiri-sendiri membuat kebohongan tersebut tidak terhindarkan. "Biasanya, ketika seseorang berbohong, hal itu dilakukan karena mereka takut menghadapi reaksi saat kebenarannya terungkap," jelas Jennifer Pepper, seorang psychotherapist asal California." Di tengah pandemi ini, tiba-tiba saja ada banyak sekali aturan baru yang harus kita ikuti, dan terkadang aturan tersebut tidak hitam-atau-putih, yang membuat kita bertanya-tanya: Mana aturan yang sebenarnya harus dilakukan?"

    Bahkan seorang ahli mental health pun menerima kebohongan selama COVID-19. Judy Ho, seorang neuropsychologist klinis dan forensik asal Los Angeles, mengetahui bahwa orang tuanya sendiri ternyata berbohong dan melanggar aturan social distancing. Sarannya mengenai bagaimana menghadapi orang yang berbohong pada kita?

    "Tenangkan diri dulu, ambil napas panjang, singkirkan emosimu, lalu sebutkan kebohongan mereka yang kamu ketahui dan tanyakan mengapa mereka melakukannya," katanya. "Lalu biarkan mereka menjelaskan seluruhnya, tentunya jangan kamu interupsi. Berusahalah untuk tetap berpikiran terbuka dan dengarkan semuanya. Dari situ, barulah sebaiknya kamu mengedukasi mereka perlahan-lahan, dan jangan lupa juga tanyakan apa yang bisa kamu lakukan untuk membantu mereka mengubah kebiasaan tersebut menjadi kebiasaan yang lebih baik."

    Dan, kamu tahu, kalau kamu butuh, saya tidak tahu, untuk berbohong mengenai "maaf saya tidak bisa ditelepon" padahal sebenarnya kamu ingin mengajak anjingmu berjalan-jalan keliling komplek (tentunya sambil tetap memakai masker dan menjalankan protokol kesehatan yang berlaku) atau menonton ulang beberapa episode Friends favoritmu, who am I to judge? Selama kebohonganmu bukanlah "saya negatif" padahal kamu positif tertular COVID-19, atau "saya baik-baik saja" padahal kesehatan mentalmu sedang tidak baik, saya rasa tak masalah.

    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Cosmopolitan US)