Celebrity

Exclusive! Mengupas “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”

  by: Givania Diwiya Citta       17/12/2021
  • Setelah melanglang buana ke berbagai festival film internasional, film yang berangkat dari novel Eka Kurniawan berjudul sama ini akhirnya pulang ke tanah air sambil membawa piala Golden Leopard (FYI, ini adalah penghargaan tertinggi setara film terbaik) dari Locarno Film Festival untuk perfilman dan penonton Indonesia. We’re so proud for such prize! Meski apresiasi tinggi ini adalah selebrasi dari hasil kerja keras para sineas yang terlibat, namun bagi sang sutradara dan aktor utama, jika film ini bisa ditonton dan jadi bahan diskusi masyarakat, maka rasanya akan sama seperti memenangkan Golden Leopard kembali. Kepada Cosmo, Edwin selaku sutradara dan Marthino Lio selaku aktor utama mengungkapkan makna yang bisa disorot dari film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, sampai magisnya Rembang yang membuat film ini kian hidup.


    Film ini mengangkat tentang tema toxic masculinity yang masih jarang dibahas, terutama di skena Indonesia dan Asia Tenggara yang masih kental terhadapnya. Bagaimana cara Anda mengemas isu sensitif ini ke dalam sebuah karya seni, dan harapan apa yang ingin dipercik dari hadirnya film ini?

    Edwin: Toxic masculinity sudah mendarah daging di Indonesia. Bisa dibilang, budaya machismo ini sudah ada sejak zaman rezim Presiden Soeharto, yaitu saat militer amat dekat dengan masyarakat, hingga elemen macho menjadi salah satu norma yang dipegang oleh masyarakat: Pria harus macho. Agak sulit untuk membicarakan isu ini secara terang-terangan, jadi keputusan membuat film pun didasari dari bukunya yang sudah mempermainkan konsep toxic masculinity dalam balutan komedi. Itulah pendekatan yang saya gunakan untuk menyentil isu ini, bukan dengan cara mengkonfrontasinya, namun justru ingin membawa penonton supaya bisa menilai dirinya sendiri: Apakah kita masih jadi bagian dari budaya machismo ini, dan apakah budaya ini masih relevan? Meski film berlatar era ’80an yang nostalgia, namun tujuan film ini adalah untuk mendekatkan pikiran kita terhadap realita yang ada sekarang.



    Lio: Saya sangat setuju. Semoga film ini memunculkan refleksi bahwa kita dulu pernah ada di masa kelam tersebut, dan jangan sampai kita kembali ke sana lagi.




    On Lio: Keseluruhan busana, Jan Sober. On Edwin: Keseluruhan busana, Uniqlo +J. 


    Selain amat artistik, film ini juga bisa terasa personal bagi individu yang menontonnya. Bagaimana Anda masing-masing memaknai film ini dan bisa merasa terhubung dengannya? 

    Edwin: Saya cukup yakin persoalan kita dengan maskulinitas memanglah belum selesai, jadi minimal, topik ini bisa diperbincangkan. Semisal, apakah kalau pria impoten masih bisa dibilang seorang pria? Ini adalah pertanyaan yang relate terhadap banyak orang. Pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dengan mudah tapi ternyata jadi tak mudah dijawab sebab kita memiliki sejarah panjang tentang image pria yang diterima oleh masyarakat. Seksualitas pun selalu tabu dan tidak pernah dibicarakan, padahal ini adalah persoalan yang bisa menjadi bahan manifestasi kekerasan dalam hubungan. Seperti dalam film ini, akhirnya wujud ekspresi Ajo Kawir terhadap impotensi yang dianggap sebuah kekurangan tersebut adalah lewat kekerasan. Kompensasi kekerasan itu adalah caranya untuk membuktikan bahwa ia sama seperti pria lain juga. Padahal ini adalah pola pikir dan jalan keluar yang aneh, lho.

    Lio: Ya, bagi saya pribadi pun, Ajo Kawir adalah outlet dari semua kemarahan yang saya miliki. Mulai dari punya keinginan tapi tidak mampu, lalu ketika mampu tapi tidak punya kesempatan, atau ketika ada kesempatan namun tidak punya daya. Ajo Kawir ditempatkan dalam posisi yang serba salah, jadi saya memanfaatkannya untuk mengeluarkan serba salah yang saya miliki juga. Saya menyalurkannya lewat pikiran Ajo Kawir bahwa, “Oke, tak apa saya punya kekurangan, tapi di sisi lain, saya juga punya kelebihan dibanding yang lain.” Berangkat dari tema ‘pria yang tak bisa ngaceng’ saja sudah mewakili gagasan bahwa setiap orang memiliki ketidakmampuannya masing-masing. Namun di akhir hari, kita harus berdamai dengan kekurangan diri, mengakuinya dan bertanya: Apa yang bisa kita lakukan terhadapnya? Maka carilah sesuatu lain yang bisa kita raih. That’s what Ajo Kawir means to me. Penerimaan dan pencarian jati diri.


    Cosmo penasaran, please ceritakan proses kreatif dari penggarapan film ini! Adakah tantangan terbesar yang ditemui ketika mengerjakannya, yang mungkin terjadi tanpa disangka-sangka? 

    Edwin: Kami sudah mulai syuting selama tiga hari sebelum pandemi masuk ke Indonesia, dan ketika PSBB dicanangkan pertama kali, maka kami semua harus pulang. Kami pun berhenti syuting hingga enam bulan. Namun ketika memulai lagi, ada attitude yang berbeda. Jika sebelumnya kami bisa merasa dekat dan aman – terutama dengan masyarakat sekitar di lokasi syuting, karena kami banyak melibatkan warga sekitar sebagai karakter di background, mulai dari menggunakan warung makannya sampai tukang becaknya untuk syuting – maka saat pandemi, ada banyak protokol yang harus dipatuhi hingga tidak bisa melibatkan banyak orang. Itu cukup merepotkan, karena selain cast dan crew sebagai intinya, kami pun banyak mengandalkan lokasi serta warga di lokasi tersebut karena bisa memberi warna tersendiri pada film. Itulah mengapa kami syuting di Rembang dan bukan di Jakarta. Kami ingin punya lanskap dan warna yang khas Pantura, dan itu tak hanya membutuhkan lautnya saja, melainkan juga para warganya. 



    Blazer & kemeja: Uniqlo +J


    Ada satu adegan yang telah kami persiapkan, yaitu adegan pasar malam yang sudah direncanakan melibatkan hampir 500 orang. Di satu desa tersebut, kami sudah buatkan pasar malam sungguhan, di mana warga sungguh bisa bermain dan menonton di sana, bahkan sudah disiapkan kostum bagi para warga untuk tampil ala era ’80an. Tapi karena kondisi pandemi, kami tak bisa mengeksekusinya. Akhirnya kami harus mengubah ceritanya dan meniadakan adegan tersebut, kami hanya menyoroti romansa Ajo Kawir dan Iteung namun tanpa latar keramaian khas pasar malam. Itu membuat beberapa hal harus berubah drastis. Meski begitu, saya rasa keputusan ini tetap penting dan saya tidak menyesalinya, karena lebih bagus begini ketimbang memunculkan risiko antar crew. Jika tetap memaksakannya, itu bukanlah satu cara yang baik untuk menggarap film ini. Sebagai sutradara, saya harus menjaga lingkungan kerja tetap sehat. 


    Lalu, bagaimana impresi kalian tentang keseruan yang dialami dari lokasi syuting?

    Edwin: Kalau keseruannya, saya senang sekali bisa bermain di jalanan Pantura! Meski sempat diomeli oleh warga sekitar karena bikin macet akibat buka tutup jalan utama saat malam, namun pengalamannya sangat seru. Rasanya luar biasa bisa membuat adegan yang kompleks di jalur Pantura yang selalu ramai, apalagi bisa membuat jalanan ini jadi tenang dan bisa bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat yang baik. 

    Lio: Kalau keseruan yang saya alami adalah saat fighting scene di tambang batu. Saat syuting, kami sungguh bisa mendengar suara dentuman keras dari batu yang ditambang. Semuanya terasa sangat nyata!


    Untuk Edwin, dari sekian novel dan cerita pendek karya Eka Kurniawan, apa yang membuat Anda memilih untuk mengangkat Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menjadi film?

    Edwin: Dari judulnya saja sudah memancarkan rasa yang kuat, seperti menggugah kita jika membaca tulisan yang kerap ada di belakang truk. Cukup lantang namun puitis, ada ironi namun selalu romantis. Lalu ketika saya membaca bukunya, segala macam deskripsi dan karakter yang ada dalam bukunya sangat hidup. Belum lagi ada banyak hal yang relevan, sangat fun, sinematik, memainkan genre, dan menggabungkan banyak budaya populer yang kita kenal dari tahun ’80an serta ’90an. Mulai dari budaya musiknya, budaya di jalanan, filmnya, seperti tontonan film Hong Kong dan film laga yang sangat dekat dengan masyarakat kita di era tersebut. Saya sangat ingin membuat film yang amat dekat dengan memori para penontonnya. Saya pun mengerjakan naskahnya dengan Eka, dan kami sepakat bahwa penulisan skenario filmnya akan sangat terbebas dari bukunya. Karena sedari awal kami berdua setuju bahwa ini adalah dua medium berbeda, jadi film pun tidak akan bisa 100% sama dengan bukunya. Jika alur di buku lebih melompat, maka di film, alurnya lebih linear. 



    Keseluruhan busana: Jan Sober


    Untuk Lio, apa yang membuat Anda mantap untuk memutuskan terlibat dalam film ini?

    Lio: Saya selalu suka dengan kisah underdog. Mungkin karena saya juga merasa bahwa saya adalah underdog, dan menurut saya, Ajo Kawir adalah The King of Underdog. Jadi, saya langsung mau untuk terlibat dalam film ini! Saya sangat senang bergabung dengan proyek ini, karena lingkungannya sendiri sudah terasa magis. Mulai dari latar yang diatur sedemikian rupa menyerupai era ’80an, ditambah Ladya [Cheryl] dengan makeup dan gaya rambut keriting yang amat berbeda dengan penampilannya. Lalu untuk pendalaman karakter, ada beberapa langkah yang saya ambil dan sedikit out of the box. Contoh, Ajo Kawir itu bernyali besar, maka saya cenderung melakukan hal yang bernyali besar untuk membangkitkan karakter tersebut dan membuatnya sustain. Bahkan saya bisa diam di pojokan dan bermain dengan imajinasi saya sendiri. 


    Lantas, apa yang paling menantang dari memerankan Ajo Kawir?

    Lio: Tantangannya adalah menjaga spontanitas saat syuting agar terus berjalan. Karena bagi kami para aktor, kami bukan hanya punya kesempatan dua sampai tiga kali take saja, namun kami bisa mengulang satu adegan yang sama hingga belasan kali, jadi spontanitas itulah yang harus dijaga. Kalau soal fighting scene, saya pun sangat percaya dengan semua koreografi action yang dirancang oleh tim stunt, karena tak ada yang bisa membuat saya terluka. Paling hanya sedikit terbakar!

    Edwin: Ya, hampir semua aktor tidak menggunakan stuntman, lho, baik itu Lio, Sal [Priadi], sampai Ladya. Para aktor ini ingin mengerjakan semuanya sendiri. Yang terpenting adalah perencanaan dan keamanan yang telah dipersiapkan.





    Kemeja: Jan Sober

    That's thrilling! Masih untuk Lio, setelah biasanya filmografi Anda didominasi genre drama, namun Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menjadi salah satu film berunsur action yang segar bagi karier Anda di film. Apa yang Anda sukai dari membintangi film berunsur action ini?

    Lio: Workshop di film action itu seru! Karena ketika sudah bisa, rasanya seperti sedang bermain-main saja. Workshop di film action juga mengeluarkan seluruh yang saya punya dalam diri, dan mendapati diri ini bisa berprogres, itu sangat terasa memuaskan. Khususnya ketika sedang mengerjakan film ini, saya sedang melewati salah satu titik terendah dalam hidup, namun dengan adanya film ini, saya jadi bisa menyalurkan emosi saya. It’s a blessing


    Apa yang bisa kalian saling pelajari dari pribadi masing-masing setelah bekerja bersama di film ini?

    Edwin: Saya selalu tertarik melihat bagaimana seorang aktor bisa berubah menjadi suatu karakter yang digambarkan. Aktor pun memiliki ruang penciptaannya sendiri, baik dari cara berjalan hingga bernapas, pasti ada proses yang mendasarinya. Dan saya melihat Lio punya kecenderungan untuk melewati proses ini, seperti caranya mempelajari bagaimana seharusnya menjadi supir truk... ia mempelajarinya dan bagi saya, sangat menyenangkan bisa melihat seseorang mau belajar hal baru. Ini bisa sangat menginspirasi orang lain. 

    Lio: Mas Edwin adalah badass yang sesungguhnya! Ia tahu jika ia berbobot, tapi ia tak perlu menunjukkan bahwa ia berbobot. Itulah orang cerdas yang sesungguhnya. 



    On Edwin: Keseluruhan busana, Uniqlo +J. On Lio: Keseluruhan busana, Jan Sober.


    Film ini juga telah meraih Golden Leopard Winner di Locarno Film Festival. Congratulations for such prize! Apakah meraih prestasi di kancah internasional menjadi salah satu target untuk film ini, atau justru seluruhnya merupakan perjalanan yang candid?

    Edwin: Tentu ada harapan ingin menang, tapi mengusahakannya untuk menang sepertinya mustahil! Namun bisa mendapat penghargaan tersebut adalah sebuah apresiasi. Bagi saya, ketika film ini ditonton oleh orang, dan bisa membuat mereka menuliskan pujian ataupun kritik sesederhana lewat media sosial pribadi, itu saja sudah sebuah penghargaan bagi saya, seperti mendapat Golden Leopard lagi! Itulah apresiasi yang membuat kita bisa bersemangat dan termotivasi lagi untuk bekerja lebih keras. Penghargaan bukan untuk membuat pernyataan bahwa kami keren, lalu berhenti berkarya. Namun justru seperti sebuah tantangan untuk pertanyaan, apa lagi yang bisa kita buat dengan apresiasi dan ekspektasi orang-orang terhadap film ini? Semoga film ini bisa terdistribusikan ke lebih banyak orang, bisa didiskusikan, dan menjadi lebih dekat dengan penontonnya. 

    Lio: Penghargaan tersebut menjadi motivasi saya untuk menanyakan diri sendiri, what’s next? Sekarang standarnya sudah di sini, jadi, ayo, berprogres lagi. Let’s evolve into something better. Penghargaan adalah selebrasi dari hasil kerja keras kita. 

    Edwin: Ya, ini adalah penghargaan yang bukan hanya untuk cast dan crew, tapi juga untuk para penonton agar bisa merasa bangga. Apalagi saya merasa bahwa penonton Indonesia punya kepemilikan yang kuat terhadap film tanah air. Kami membuat film ini semaksimal mungkin agar bisa bersama-sama diapresiasi dan ditonton. Piala ini adalah untuk film dan penonton Indonesia. 


    Last question, apa optimisme yang ingin kalian lihat bisa hadir di perfilman tanah air dari para generasi penerus setelah adanya karya film ini?

    Edwin: Saya sangat optimis melihat kondisi perfilman kita yang sedang bersemangat ini. Saya merasa ini adalah periode yang baru, apalagi setelah pandemi, sepertinya kita harus mengartikan ulang film Indonesia, sesederhana dari cara menonton di bioskop yang sudah berbeda. Dan harapan ini ada pada kita semua yang sedang dan baru akan membuat film, bahkan mereka yang juga masih duduk di bangku penonton. Semoga selalu ada cinta dari penonton Indonesia, hingga film Indonesia terus maju. 

    Lio: Harapan saya, semoga semakin terbuka jalan bagi film Indonesia untuk berkelana di pasar internasional. Dan semoga semakin banyak film Indonesia berkualitas yang akan dibeli oleh pasar film internasional! 



    Simak juga trailer film 'Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas' berikut ini:




    Photographer: Hadi Cahyono

    Fashion Stylist / Managing Editor: Dheniel Algamar

    Fashion Assistant: Tri Yuliati

    Makeup Artist: Rara Endoh

    Hair Stylist: Stefy Young

    Kursi: SUPER RATTAN (@hisuperrattan)


    (Givania Diwiya / FT)