Celebrity

Exclusive: Kamila Andini & Arawinda Kirana Bahas Fakta Film 'Yuni'

  by: Giovani Untari       18/12/2021
  • Ketulusan Kamila Andini dalam menyuarakan isu sosial terutama terkait perempuan dan kepiawaian akting Arawinda Kirana kala bertransformasi sebagai Yuni, membawa film ini sukses menyentuh hati banyak orang.

    Digarap dengan sinematografi yang menawan dan keberanian mengangkat isu perempuan serta pernikahan remaja, perjalanan panjang film Yuni berhasil membawa pulang penghargaan PLATFORM PRIZE dalam ajang Toronto International Film Festival (TIFF) 2021. Lalu yang terbaru, film Yuni pun masuk seleksi dalam ajang Palm Spring Film Festival 2022. Menjadikannya sebagai sebuah milestone baru untuk film Indonesia dan Asia. Let’s celebrate it




    Dengan segala penghargaan internasional dan nasional yang telah diraih. Apa arti film Yuni bagi Anda secara personal?

    Kamila: Yang jelas, di film ini saya merasa tumbuh sekali sebagai seorang kreator. Film saya sebelumnya terbilang cukup kultural, sedangkan Yuni isinya cukup related dan mass bagi banyak orang. Sebuah tantangan tersendiri bagaimana saya agar saya tetap bisa menjaga pesan yang ingin disamapaikan saat produksi, terutama ketika melibatkan banyak orang di sekitar saya. Lewat hal tersebut saya merasa tumbuh sekali sebagai seorang sutradara dan kreator. Saya selalu melihat setiap film saya seperti seorang ‘anak’. Dan ‘anak’ saya tersebut membuat saya menjadi ibu dan orang yang baru lagi setiap kalinya.



    Arawinda: Saya rasa film ini menjadi milestone yang luar biasa bagi perfilman Indonesia dan tentu saja bagi karier saya pribadi. Bagaiman pun juga film ini bahkan berhasil meraih penghargaan di Toronto International Film Festival 2021, jadi jelas saya sangat bangga dan di satu sisi juga tak kalah terkejut. Saya bersyukur orang lain dan penonton bisa menerima pesan yang kita sampaikan melalui film Yuni. Jadi saya harap mereka juga bisa ikut menyebarluaskan isi pesan di film ini secara lebih masif lagi. Saya merasa film ini memang memberi dampak tersendiri, sebab saya sering kali melihat penonton mengusap air mata mereka setelah menonton Yuni dan itu sangat menyentuh hati saya.


    Keseluruhan busana: Sapto Djojokartiko. Bando: Sapto Djojokartiko.


    Untuk Kamila, kemenangan Yuni meraih PLATFORM PRIZE dalam ajang Toronto International Film Festival (TIFF) 2021 dianggap sebagai kemenangan bagi sineas Asia khususnya Asia Tenggara, apa tanggapan Anda akan hal ini?

    Kamila: Sejujurnya film dari Asia Tenggara, apalagi Indonesia itu masih sangat sulit untuk mendapatkan pencapaian di sejumlah festival film besar dunia. Karena industri kita sangat kecil dibandingkan dengan Amerika atau beberapa wilayah lain yang lebih dulu dikenal.

    Fakta bahwa kita ternyata bisa menang di kompetisi utama dari salah satu festival film terbesar di dunia itu buat saya bukan soal senangnya, tetapi seperti ada satu pintu lagi yang terbuka untuk industri perfilman kita. Karena untuk sampai di titik tersebut perjalanan dan prosesnya panjang sekali. Bahagianya lebih kepada karena Indonesia bisa mewakili Asia Tenggara yang mana itu berharga sekali buat kita semua. Makanya bagi saya, ketika ada film Indonesia lain yang menang di ajang festival film internasional sebenarnya itu menjadi kemenangan bagi kami semua. Karena prosesnya memang terbilang sulit. Perjalanan kita pun masih sangat panjang, tapi paling tidak ada satu pintu lagi yang terbuka.


    Sebagai sutradara, apakah sempat ada keraguan ketika Anda mengangkat angkat tema besar seperti pernikahan remaja dan isu patriarki di film Yuni

    Kamila: Pastinya ada. Mengingat kita tahu bahwa film itu kan investasinya juga tidak kecil. Ada banyak hal yang memang sudah pasti kami pikirkan di awal-awal proses pembuatan film ini. Tapi kembali lagi, saya memang ingin bicara tentang sesuatu yang bisa ikut didengar oleh banyak orang. Tujuan utamanya adalah agar Yuni menjadi film yang real dan mengangkat tema yang benar-benar terjadi di sekitar kita. Saya ingin membuat film yang lugas, untuk itu saya pun mencari partner, pemain, dan kru yang memang memiliki visi yang sama serta berani menyuarakan isu ini. Bahwa adanya pro dan kontra, bagi saya bukan sebuah masalah karena adalah hal yang wajar ketika orang mengutarakan pendapatnya. Semua orang punya haknya untuk berkomentar. Dan buat saya film kan memang harus didiskusikan.


    Dress: Sapto Djojokartiko.


    Yang membuat Yuni semakin menarik karena visualnya didominasi warna ungu. Apakah sebenarnya ada pesan tersirat atau simbol tertentu dalam pemilihan warna tersebut di film ini?

    Kamila: Ide awalnya terbilang sangat organik sekali. Dulu saat masih SMA, pasti banyak kan anak perempuan yang suka dengan warna-warna tertentu lalu menjadikan warna tersebut sebagai identitas mereka. Saya memiliki seorang teman yang sama persis dengan Yuni. Ia suka sekali warna ungu dan lumayan obsessed sampai yang kalo kita pakai warna ungu hari itu, ia bisa sebal banget sama kita. Karena ia merasa warna itu adalah warnanya. Saya suka sekali dengan karakter ia yang unik. Bagaimana satu warna bisa menjadi sangat penting bagi teman saya tersebut sebagai seorang perempuan. Jadi warna ungu itu memang terinspirasi dari sosok teman saya. 


    Untuk Arawinda, peran Yuni mengantarkan Anda meraih penghargaan Pemeran Utama Perempuan Terbaik di ajang FFI 2021 bahkan penghargaan lainnya di ajang festival film internasional. Apakah ke depannya ini menjadi tolak ukur dalam memilih sebuah peran di film?

    Arawinda: Saat ini rasanya saya ingin tetap have fun dalam menjalani apa yang saya kerjakan. Saya sangat senang bisa bermain sebagai Yuni dan bonusnya juga bisa menyalurkan pesan-pesan penting di film ini kepada para penonton. Pasti ke depannya pada setiap skrip yang saya terima, saya akan melihat apakah ada pesan yang signifikan untuk di sampaikan? Baik apakah itu pesan sosial atau pesan lainnya. Tapi saya juga tidak menutup kemungkinan akan bermain dalam film yang memang saya suka ceritanya atau merasa ada sesuatu yang fun dan seru di dalamnya. 





    Dress: Sapto Djojokartiko.

    Seberapa mirip karakter Yuni dan sosok Arawinda itu sendiri?

    Arawinda: Bisa dibilang mirip sekali! Saya sampai merasa takut yang orang-orang tonton di film ini adalah saya bukan Yuni. Memang susah sekali untuk membedakan dan menciptakan batas antara Yuni dan Arawinda itu sendiri. Yang membuat kami berdua mirip sebenarnya adalah karena kami memiliki mimpi yang besar. Sama-sama rebel, usil, dan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Jadi untuk membedakan mana Yuni dan mana Arawinda, saya diajarkan oleh acting coach saya mas Rukman Rosadi untuk membuat sebuah ‘pintu masuk’ dari suatu gerakan badan untuk membedakan antara Arawinda dan Yuni. Sampai selesai syuting pun ada beberapa sisi Yuni yang masih terbawa pada diri saya, misalnya saya jadi suka jongkok karena Yuni senang melakukan hal tersebut. Sebenarnya adalah hal yang sulit ketika memainkan karakter yang sangat mirip dengan diri Anda sendiri ketimbang karakter yang sama sekali berbeda dengan sosok Anda.


    Yuni adalah film perdana Anda, apakah sempat merasa nervous ketika berakting sebagai pemeran utama dalam film ini?

    Arawinda: Tentu, apalagi kita tahu bahwa sutradara dan para pemainnya adalah para filmmaker dan aktor yang sudah senior di industri perfilman Indonesia. Ini adalah film pertama saya, sebelumnya saya tidak pernah berada sedekat itu dengan kamera. Dulu saya memang memulai karier sebagai model, tapi rasanya itu cukup berbeda dengan berakting. Saya sempat berpikir, “Oh my God, sepertinya badan saya akan shaking deh pas syuting!”. Tetapi untungnya dengan persiapan yang matang, ternyata setelah mulai syuting rasa nervous tersebut jadi tidak terasa.



    Apakah sempat menjadi pressure bagi Anda ketika film Yuni ternyata begitu sukses dan mungkin akan memengaruhi ekspektasi orang atas karya Anda selanjutnya?

    Kamila: Bagi saya berhadapan dengan pressure, tantangan, bahkan keraguan itu sesuatu yang biasa saya hadapi sebagai kreator. Tetapi saya tetap menanggap film ini sebagai milestone saya sebagai kreator, membukakan pintu baru dan melihat bagaimana saya akan tumbuh lagi ke depannya.


    Arawinda: Mungkin karena saya baru masuk ke industri ini dan Yuni adalah film perdana saya yang ternyata film ini mendapat banyak respon positif dari penonton. Pasti akan banyak orang yang memiliki sejumlah point of view terhadap karya-karya ke depannya. Jujur beberapa ekspektasi orang terhadap karya saya terkadang membuat saya stres sendiri. Namun sekarang saya mengatasinya dengan mengingat kembali bahwa alasan utama saya menjadi aktris adalah karena saya ingin berkarya dan membuat sebuah seni yang murni.


    Keseluruhan busana: Sapto Djojokartiko. Bando: Sapto Djojokartiko.


    Ada pesan yang ingin disampaikan kepada Cosmo babes, terkait isu sosial dan perempuan yang ada di film Yuni atau mungkin bagi mereka yang berada di posisi seperti Yuni?

    Kamila: Melalui film Yuni sebenarnya kita mencoba untuk membuat ruang suara bagi suara-suara yang belum terdengar atau yang sulit diucapkan dan diceritakan. Suara perempuan yang tersimpan di kota-kota kecil kita. Saya harap film ini bisa membuat orang-orang bisa lebih vokal lagi atas pilihan hidup mereka. Lalu bisa ikut membagi apa yang mereka rasakan terutama bagi para perempuan untuk tahu bahwa mereka tidak apa-apa kok untuk merasa vulnarable, bingung, dan mencari apa yang diinginkan dalam hidup. Jadi mari kita berproses bersama-sama dan saling mendukung.


    Arawinda: Saya rasa setiap perempuan pasti memiliki sisi struggle dalam dirinya masing-masing. Terkadang ada banyak hal yang membuat kita takut untuk break free dan mempertanyakan apa yang sebenarnya harus saya lakukan? Apalagi kita juga hidup di tengah budaya patriarki. Jadi pesan saya adalah lakukan secara pelan-pelan. Yang penting Anda mulai dari mengetahui bahwa tubuh Anda adalah hak dan otoritas pribadi Anda. Kita harus punya hak atas tubuh dan pilihan hidup kita! Lalu kedua, film ini adalah tentang cara seorang perempuan finding their own liberation. Jadi carilah cara untuk merasa bebas dan lepas. Selama itu legal dan tidak merugikan orang lain, saya rasa penting untuk agar para perempuan menemukan apa keinginan terbesarnya dalam hidup.


    Simak juga trailer film 'Yuni' berikut ini:




    Fotografer: Insan Obi

    Fashion stylist: Dheniel Algamar
    Digital imaging: Raghamanyu Herlambang
    Teks: Giovani Untari / FT
    Assisten fashion stylist: Tri Yuliati
    Layout Ilustrasi Opening: S. Dewantara
    Makeup: Aktris Handradjasa
    Hairdo: Maria Robert
    Lokasi: Four Season Hotel Jakarta