THROWBACK HOUR14:00 - 15:00    
NOW PLAYING

Overthinking? Kamu Wajib Membaca 7 Buku Ini

BY NADHIFA ARUNDATI 30 Dec 2021
Overthinking? Kamu Wajib Membaca 7 Buku Ini

Girls, sebentar lagi kita akan menyambut tahun baru, kira-kira akan ada kejutan apa ya di tahun 2022? Well, kita hanya berharap semuanya semakin membaik—khususnya pandemi COVID-19, please be gone forever! Amen. Cosmo tahu kok, di tahun yang masih diiringi oleh ketidakpastian ini membuat kita cenderung untuk berpikir secara berlebihan alias overthinking (just admit, it happens all the time).

Sudah banyak kata-kata mutiara yang memotivasi kita untuk berhenti overthinking di media sosial—meski kita tahu, hal tersebut tak semudah seperti membalikkan telapak tangan—namun tetap saja, kita harus mencari cara supaya bisa keluar dari ruang pikiran yang semerawut. So, kali ini Cosmo akan memberikanmu 7 rekomendasi buku yang cocok dibaca untuk para overthinkers….yes, these books are for you, babes.

1. Unf#ck Your Brain: Using Science to Get Over Anxiety, Depression, Anger, Freak-Outs, and Triggers – Faith G. Harper


Gaya bahasa dalam buku ini menjadi salah satu daya tarik yang cukup kuat bagi para pembaca. Yup, buku karya Dr. Harper ini menjelaskan secara lugas—tanpa bertele-tele—tentang mengapa kita cenderung memikirkan sesuatu yang sebenarnya tak harus kita pikirkan. Percayalah, reaksi kamu selama membaca buku ini akan seperti: “wah, semua perkataannya sangat masuk akal!” Tentu model pendekatan yang diberikan oleh Dr. Harper berhasil menyentuh titik kesadaran kita, kalau memang tak semua hal harus kita pikirkan secara berkala. That’s why we need to unf*ck our brain.

Satu kalimat favorit Cosmo dari buku ini adalah, everyone’s lives, histories, and experiences are different AND our genetic predispositions are different. Kalau diterjemahkan, Dr. Harper mencoba menjelaskan bahwa kehidupan, sejarah, dan pengalaman, bahkan kondisi genetik setiap orang itu berbeda – yang artinya, kita selalu punya jalan masing-masing dalam kehidupan, there's no need to compare.

Bahasa: Inggris

(Periplus, Harga: Rp 271,000)


2. Filosofi Teras – Henry Manampiring


Melalui buku karya Om Piring (sebutan akrabnya di media sosial), kita dituntun untuk bisa merelakan hal-hal yang berada di luar kendali kita.  Yep, buku ini dikemas secara sederhana dengan menyuguhkan berbagai pandangan filsafat stoa atau stoisisme (yang berasal dari Yunani-Romawi kuno) ke dalam kehidupan. Secara garis besar, sang penulis hanya ingin berbagi sudut pandang baru—sebelum menulis buku ini, ia membaca buku berjudul “How to Be a Stoic” karya Massimo Pigliucci—yang pada akhirnya, buku tersebut membawa kedamaian dalam pikirannya, apalagi setelah ia sempat didiagnosa mengalami Major Depressive Disorder.

“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak bergantung pada) kita,” ini merupakan salah satu kalimat yang membuat para pembaca celik, menyadari bahwa tak semua hal harus dibungkus menjadi satu dalam satu pikiran. Your brain is getting full, you need to delete some.

Bahasa: Indonesia

(Gramedia, Harga: Rp 98,000)

3. Maybe You Should Talk To Someone: A Therapist, Her Therapist, and Our Lives Revealed – Lori Gottlieb


Biasanya para penulis hanya menyuapkan kata-kata terbaik mereka ke para pembaca—namun lain hal dengan buku karya Lori Gottlieb, di mana kita tak hanya diberikan ‘wejangan’ saja, tetapi kita turut ikut dalam perjalanan self-healing dari Gottlieb (because a Therapist is also a human too). Selama menjadi seorang Psikoterapis, Gottlieb membagikan kisah pasiennya yang sedang mencari jawaban atas rasa gelisah yang mereka alami—pesan yang disampaikan dibalut dengan sentuhan lelucon, so Cosmo guarantee you’ll enjoy it.

“Right here, right now, between you and me—isn’t therapy, but a story about therapy: how we heal and where it leads us,” dalam kalimat ini Gottlieb menjelaskan hubungan antara Terapis dengan pasien—jika keduanya sudah berada dalam ruangan yang sama, maka sesi terapi berlaku bagi keduanya, yakni dengan saling belajar dan ‘sembuh’ bersama. It's like a-beautiful-story-with-my-Therapist kind of thing.

Bahasa: Inggris

(Periplus, Harga: Rp 426,000)


4. Wake Up Sloth! - Aulia Hanifa


Buku “Wake Up Sloth” membawa kita ke dalam dunia ilustrasi yang eksentrik dan juga menggemaskan, layaknya membaca buku dongeng. Banyak sekali kalimat indah yang mampu membangkitkan pikiran positif—kita itu ibarat Sloth, yang malas (atau lebih tepatnya takut) untuk bergerak.
Mengingatkan kalau, “mimpi buruk memang tak bisa dihindari, tapi setelah mimpi buruk berakhir mimpi baik akan terjadi.” Couldn’t agree more with this line.

Bahasa: Indonesia

(Gramedia, Harga: Rp 60,720)


5. Just Eat It! – Laura Thomas PhD


Bagi kamu yang sedang terjebak dalam pola diet yang perlahan semakin membebani pikiran…. Cosmo are here for you, dengan merekomendasikan buku karya Laura Thomas berjudul "Just Eat It!" yang membahas seputar kebiasaan overthinking terhadap makanan (disertakan pula dengan berbagai penelitian yang menyangkut eating habits).

Tak sekadar buku bacaan, setiap kalimat yang diutarakan seakan memberi afirmasi yang baik supaya kita dapat berpikir positif dan bersyukur akan kondisi tubuh—membuktikan kalau pushy diet itu bukan jalan pintas menuju kebahagiaan. So yes, just eat your food, she says.

Bahasa: Inggris

(Periplus, Harga: Rp 271,000)


6. Holistic Wealth – Keisha Blair


Terkadang kita hanya fokus pada kekayaan secara materi, sampai lupa memenuhi kebutuhan holistik. But hey, kamu masih punya waktu kok untuk mengisi 'amunisi' tersebut, dengan bantuan dari buku karya Keisha Blair yang berjudul “Holistic Wealth”. Kurangnya rasa percaya diri, takut akan ketidakpastian dalam hidup, yes, akui saja kalau kita semua pasti pernah—atau masih—merasakannya

Buku ini seperti wake up call bagi jiwa yang sudah mulai terpuruk, lalu Keisha Blair seakan menuntun kita untuk menemukan titik terang, dengan adanya 32 pelajaran hidup—berdasarkan pengalaman dari Keisha Blair—yang membuat para pembaca merasa semakin relate dengan pembahasannya.

Bahasa: Inggris

(Periplus, Harga: Rp 197,000)


7. The Subtle Art Of Not Giving A F*ck – Mark Manson


Awalnya Cosmo berpikir, di mana sih titik seni dari bersikap bodo amat? Apa keindahan yang terselubung dari sikap tak acuh ini? Well, semua ini ternyata dijelaskan secara integral oleh Mark Manson, penulis buku best seller New York Times dan Washington Post yang berjudul “The Subtle Art Of Not Giving A F*ck”. Good news, buku ini sudah ada versi terjemahannya dengan judul “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat”, pesan yang disampaikan tetap sama, yakni mengajak kita semua untuk berani mengatakan “bodo amat!!!” secara lantang.

"Saat kita terlalu peduli pada hal-hal ini, kita menghabiskan banyak waktu untuk lari dari masalah kita daripada berdamai dengan masalah itu sendiri," kalimat dari Mark Manson serasa seperti menusuk dada—umumnya, kita lebih memilih untuk menghindar ketimbang harus menghadapi masalah, being denial...though we surely know this trait is toxic.

Meski diutarakan secara blakblakan, namun semua perkataan dalam buku ini memang ada benarnya...buat apa kita sibuk memikirkan sesuatu yang bahkan kita sendiri belum pernah mencobanya? Hmm, make sense.

Bahasa: Inggris dan Indonesia

(Gramedia, Harga: Rp 292,000)


(Nadhifa Arundati / Image: Dok. Gramedia, Periplus, Thought Catalog on Unsplash)

0 REACTIONS

Comments

Leave A Comment

POST COMMENT
What are you looking for?
Content of the popup
CLOSE