Better You

Hati-Hati Sebelum Update Status Lewat Social Media!

  by: Redaksi       1/2/2012
  • Memang sih social media bisa sangat membantu Anda dalam urusan socializing, mulai dari kembali bersentuhan dengan teman lama sampai menerima informasi terbaru dalam sekejap dari update status yang terpampang di home timeline Anda. Seperti halnya "pedang bermata dua", social media juga memiliki dampak yang buruk lho. Simak!

    Menciptakan Perpisahan



    Dalam salah satu survei di Inggris, ternyata lebih dari sepertiga responden memasukkan kata "Facebook" sebagai salah satu penyebab banyaknya pasangan yang bercerai. Mengejutkan? Well, ada tiga alasan yang paling banyak menciptakan konflik menurut para responden. Pertama, akibat message yang tidak pantas dikirimkan dari pasangannya kepada lawan jenis yang memicu kecemburuan. Kedua, tak segan-segan melontarkan komentar buruk tentang pasangan masing-masing. Ketiga, menjadi sebuah media untuk ajang saling cela yang menyebabkan pertengkaran.

    Menimbulkan Depresi

    Ya, hal tersebut ditemukan dalam salah satu studi yang dipublikasikan oleh The American Academy of Pediatrics. Ditemukan sebuah fenemona yang bernama "Facebook Depression", yakni depresi yang ditimbulkan usai melihat foto-foto yang memasang wajah senang teman-teman Anda, dan status update yang menceritakan bahwa mereka sedang memiliki good time. Selain itu peneliti juga menemukan bahwa ada sebanyak 59 persen wanita yang adiksi dengan social media, terbukti menderita insomnia akibat depresi yang dialami.



    Menyebabkan Gangguan Makan

    Pengguna social media (termasuk Anda) biasanya menghindari meng-upload foto yang mengekspos foto yang memperlihatkan tubuh gemuk, wajah menua, blurry, atau apapun itu! Untuk menghindari celaan dari kanan-kiri mereka pun mulai berpikir untuk memiliki bentuk tubuh ideal, lantas menciptakan image buruk terhadap tubuh sendiri. Tidak heran kalau dalam studi yang diadakan Universitas Haifa, Israel ditemukan ternyata semakin sering wanita menghabiskan waktunya di depan social media, semakin rentan pula mereka untuk terserang eating disorder seperti anorexia, bulimia, dan pola makan tidak teratur.

    (Calvin Hidayat/SW/Gambar:Dok.Google)