Better You

Kapan Saat yang Tepat untuk Tutup Mulut?

  by: Redaksi       24/2/2012
  • Ada saatnya ucapan Anda itu punya daya magis untuk menghidupkan suasana, tapi ada saat tertentu kata-kata yang terlepas dari mulut Anda justru mengundang respons kernyitan dahi, tatapan penuh tanya, dan parahnya ... a silence. Pertanyaannya sekarang, kapan prinsip “silence is gold” itu Anda lancarkan? Cosmo beberkan situasi yang tepat.

    Ketika Hanya Anda yang Mengerti Topik Percakapan

    Apa gunanya Anda terus menerus bicara, sementara orang-orang di sekeliling mulai tidak mengerti arah pembicaraan Anda? Sebelum Anda dicap annoying, maka bila Anda memang tidak memiliki topik menarik untuk jadi bahan obrolan lebih baik tahan dulu ucapan Anda dan dengarkanlah orang lain terlebih dulu. Kalau percakapan sudah bergulir, barulah luncurkan opini-opini Anda.



    Ketika Anda Mulai Menyinggung Perasaan Orang Lain

    Kata-kata bisa menyulut pertengkaran dengan mudahnya. Tetapi menyelesaikannya? Yup, akan butuhkan usaha dan kerja ekstra. Jaga baik-baik ucapan Anda dengan tidak membicarakan topik yang sifatnya sensitif dan menyinggung perasaan. Jika kata-kata Anda ternyata .... sedikit “menyentil” perasaan lawan bicara, maka diam akan menjadi pelarian paling baik daripada Anda membalasnya dengan argumen yang akan memompa suasana.

    Ketika Anda Harus Membocorkan Rahasia



    Well, bukan berarti karena Anda ingin terlihat “nyambung” dengan semua orang Anda jadi harus bergosip. Memang sih gosip bisa menjadi topik yang sangat fun bagi siapapun. Namun adalah sebuah big-no-no bila Anda membocorkan rahasia teman-teman sendiri. Ingat selalu ladies kalau orang lain bisa saja lupa apa yang Anda katakan, tetapi mereka juga tak lupa bila Anda adalah seseorang yang tidak bisa dipercaya.

    Ketika Anda Tidak Tahu Topik Pembicaraan

    Buntu mengenai topik apa yang sedang dibicarakan? Cara terbaik agar Anda tidak terlihat bodoh adalah tersenyum, diam lalu menyimak baik-baik, dan terakhir, mengangguklah. Ketika mulai menangkap masalah yang dibicarakan, jangan lupa untuk lontarkan pertanyaan yang memberi Anda sebuah kesempatan untuk memahami topik percakapan. (Calvin Hidayat/SW/Image: doc. Google)