Career

6 Topik Tabu Yang Perlu Kamu Bicarakan di Tempat Kerja

  by: Nadhifa Arundati       21/2/2019
  • Memang tak semua topik layak untuk dibicarakan dalam ruang lingkup pekerjaan – bahkan dengan pasangan atau teman terdekat kamu di kantor. Well, namun terkadang ada beberapa topik yang sebenarnya perlu kamu bahas, hal ini kamu lakukan untuk memperkuat hubungan dengan co-workers, meredakan rasa penat (with all these deadlines), dan lebih terbuka dengan pekerjaan kamu saat ini. Yes, ada 6 topik yang seharusnyakamu bicarakan di tempat kerja, but in a smart way. Simak!


    1. Kompensasi

    Membahas tentang kompensasi dengan teman kerja memang menjadi hal yang ceroboh, they said – tetapi Roy Cohen, selaku pakar karir mengatakan bahwa tak selamanya kamu harus bungkam terhadap jumlah gaji yang kamu dapatkan. Coba perlahan kamu buka pembicaraan ini – tentunya dengan teman kerja yang sudah kamu percaya, dan hindari pemilihan kata yang dapat menyinggung mereka.
    Cohen mengatakan, “Saya pernah diberitahu oleh perekrut pekerjaan, dan ia mengatakan kalau saya selama ini diberikan upah yang tak sesuai dengan skill  – saya jadi berpikir, bisa saja perkataan dia ada benarnya.” Kalau kamu dan teman kerja sedang berbicara secara santai, mulai-lah percakapan terkait topik tersebut, kalian tentu bisa menilai jumlah gaji berdasarkan company standards.




    2. Kehamilan dan cuti hamil

    Kamu mungkin sedang bimbang, perihal aturan cuti hamil vs. jadwal pertemuan dengan dokter kandungan, so confusing. Well, menurut Cohen, beberapa teman kantor yang sudah mengalami masa kehamilan tentu dapat menjadi sumber informasi yang tepat untuk menangani hal ini. Cohen juga menyarankan untuk berbicara secara personal dengan para office moms (yang terpecaya); coba bertanya tentang bagaimana mereka membagi waktu saat mengambil cuti hamil. If they open about it, minta saran kepada mereka tentang bagaimana, dan dengan siapa kamu harus mendiskusikan terkait pembagian job desk saat kamu mengambil cuti hamil, you need to negotiate it.


    3. Pelecehan seksual

    “Meski kamu sedang berhadapan dengan big boss atau para pekerja lain yang abusif, kamu tetap memiliki kekuatan untuk speak up.” Kalau kamu berani untuk terbuka, kamu akan jauh merasa lebih lega dan dapat mengurangi depresi yang selama ini kamu alami, just don’t keep it to yourself. Seperti yang dikatakan oleh Cohen, masalah ini harus kamu bahas dengan orang yang terpercaya: seperti dengan mentor atau salah satu HRD perusahaan yang dapat memberikan saran terbaik  – terkait tindakan apa yang seharusnya kamu lakukan.




    4. Pekerjaan yang membuat kamu (sangat) frustasi

    Ini bisa menjadi obrolan yang sangat penting, membahas dengan teman kerja tentang betapa frustasinya kalian dalam menghadapi pekerjaan saat ini. Better still, pembicaraan ini tentu akan membuahkan solusi. “Rata-rata perempuan lebih sering berkecil hati untuk mengekspresikan perasaan mereka dalam ruang lingkup pekerjaan, padahal mereka bisa memanfaatkan sifat emosional mereka untuk masalah pekerjaan,” ucap Natalie Moore, selaku psikoterapis holistik yang ahli dalam stress and work issues.
    Agar kamu tak dijuluki sebagai 'Ms. Complainer', Moore menyarankan supaya kamu bisa menjelaskan tujuan yang jelas jika kamu ingin mengungkapkan rasa frustasi ini kepada teman kerja atau atasan kamu. Gunakan bahasa yang layak, jangan pernah menggunakan kalimat pembuka seperti: “Kita semua pasti berpikir...” No, kamu hanya perlu menjelaskan alasan yang logis.


    5. Politik

    Hal yang sangat, dan sangat tidak produktif adalah: adu argumen dengan salah satu rekan kerja yang narrow-mindied, kamu hanya buang-buang waktu. Moore mengatakan, meski politik dapat menjadi pengaruh yang besar terhadap bagaimana seseorang diperlakukan dalam sebuah pekerjaan, namun masih ada beberapa topik masih layak untuk diperbincangkan (kalau memang ruang lingkup kamu tak mendukung untuk membahas politik).
    “Jika dua orang memiliki kecerdasan dan hubungan yang produktif, mereka akan jauh lebih fokus dan tenang dalam membahas sebuah perkara,” ucap Moore. “Kalau kamu dan rekan kerja saling memahami pendapat satu sama lain serta saling memberikan ide kreatif terkait isu-isu politik, this is a win-win. Namun kalau pembicaraan ini sudah mulai memicu konflik, lebih baik segera dibatasi.”


    6. Masalah pribadi

    Rekan kerja kamu sering memberikan informasi yang sebenarnya tak begitu penting untuk didengar, contoh: cerita tentang one night stands dari rekan kerja yang tak kunjung usai, such a drama Queen. Namun jika kamu membahas tentang masalah kesehatan, perhatian yang perlu kamu berikan untuk anak dan orang tua, atau masalah hubungan percintaan yang sampai saat ini kamu belum menemukan keputusan yang tepat – you can talk with your colleagues, also it’s a good idea.
    “Kalau kamu berpikir bahwa masalah pribadi hanya bisa diseleksaikan saat sedang di rumah, ini adalah kesalah besar,” sebut Moore. “Jangan hanya 'menumpuk' rasa stres di rumah, karena pekerjaan di kantor akan terkena imbasnya.” Also, hindari pembicaraan ini dengan si ’Gossip Girl',  cause again and again, ceritakan masalah pribadi kamu pada orang yang terpercaya!

    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan.com / Alih Bahasa: Nadhifa Arundati / Image Doc. Outnow.ch)