Celebrity

The Overtunes Bicara Soal Konser, Album Baru dan Cinta

  by: Alvin Yoga       27/2/2019
  • Hai Overtunes, apa kabar? Kalau boleh tahu, mengapa kalian memakai Overtunes sebagai nama band?

    Reuben (R): Hai juga Cosmo, kabar baik. Bicara soal nama Overtunes, sebetulnya nama itu kami buat secara asal. Saat masih di bangku SMA, kami sempat tertarik untuk ikut kompetisi band di dekat rumah, namun salah satu syaratnya kami harus daftar dengan nama band, dan saat itu kami belum punya. Nah, ketika sedang latihan, entah kenapa kami overtune terus, dan salah satu dari kami bilang, “Ya sudah, pakai overtune aja untuk nama band-nya.” Tadinya kami berpikir nama itu enggak untuk jangka panjang, hanya untuk kompetisi ini saja. Tapi ternyata penggemar banyak yang suka, dan kami enggak berpikir untuk mengganti nama band. Jadi, sampai sekarang kami menggunakan The Overtunes.

    Begitu ternyata. Sekarang, kalian sedang sibuk apa?

    Mikha (MI): Belakangan ini kami sedang sibuk menyiapkan beberapa konser, termasuk konser amal di awal Februari kemarin.

    Mada (MA): Satu lagi, kami juga sedang persiapan album baru untuk bulan Maret. Inginnya sih, sekaligus buat showcase concert yang pertama di saat peluncuran album tersebut.



    Bicara soal album, mengapa untuk album terakhir kalian membaginya menjadi dua bagian dan dirilis di waktu yang berbeda?

    (MA): Konsep untuk album ini memang kami buat berbeda dari album-album sebelumnya. Kali ini kami membaginya menjadi dua bagian. Alasannya sih, karena kami memang sedang bereksplorasi, dan sepertinya tren di luar sana banyak yang seperti ini. Jadi kami merilis satu EP berisi lima lagu, kemudian beberapa bulan setelahnya merilis EP kedua dengan lima tambahan lagu lainnya. Di bulan Maret nanti, baru deh kami merilis satu full album dengan sepuluh lagu tersebut, ditambah dengan dua lagu baru.

    Untuk album terakhir ini, adakah satu lagu yang jadi favorit kalian masing-masing?

    (R): Kalau saya, saya suka Thief. Lagu ini berbeda dengan lagu-lagu kami yang lainnya. Tidak biasanya kami menulis lagu yang genrenya seperti ini. Di lagu ini kami memasukkan banyak instrumen yang sebelumnya tidak biasa kami gunakan. Bisa dikatakan, ini adalah lagu eksperimen kami. Tapi ternyata hasilnya menarik.

    (MI): Saya lebih suka Hatimu Sama. Menurut saya lagu ini cukup emosional. Terasa seperti sedang bicara ke diri sendiri di masa depan. 

    (MA): Time Will Tell. It’s an easy song, aransemennya tidak banyak, dan lagunya asyik untuk dinyanyikan live.

    Dari seluruh lagu di album ini, mana lagu yang paling mudah dibuat?

    (MI): Hmm, mungkin Tak Bisa Kupercaya, ini lagu pertama yang saya buat ketika saya sedang marah. Biasanya saya tidak bisa konsentrasi membuat lagu ketika emosi sedang meluap-luap. Tapi ternyata lagu ini begitu menginspirasi – proses rekamannya mudah, dan penulisan lagunya tidak butuh waktu yang lama.



    Setelah ini, adakah genre lain yang ingin kalian coba untuk album berikutnya?

    (MI): Ingin kolaborasi buat lagu keroncong! Suka aja dengan lagu yang iramanya lokal seperti itu.

    Kalau semisal kalian hanya bisa memainkan satu instrumen musik seumur hidup, apa alat musik yang akan kalian pilih?

    (MA): Gitar elektrik, soalnya keren!

    (R): Saya sih, lebih suka gitar akustik.

    (MI): Saya lebih pilih piano, karena entah mau dimainkan sendiri atau bareng dengan alat musik lainnya, tetap terdengar asyik.

    Ke depannya ada rencana untuk membuat konser spesial bagi para penggemar Overtunes?

    (R): Kalau untuk konser yang besar, sepertinya belum. Yang paling spesial mungkin showcase concert di bulan Maret mendatang. Rencananya kami akan mengadakan konser itu bertepatan dengan tanggal rilis albumnya, di 22 Maret. Kami akan membawakan 12 lagu dari album terbaru untuk semua yang hadir. Mungkin setelah itu kami baru akan membuat full concert. Doakan saja, ya!

    Selain bermusik, hal apa yang kalian lakukan di waktu senggang?

    (MA): Olahraga. Dulu saya suka banget main bola. Harapannya sih, bisa lebih banyak olahraga lagi, sudah mulai menggendut, nih.

    (R): Passion-ku baca buku, atau mungkin kalau sedang malas membaca, saya mendengarkan audio book.

    (MI): Hmm, kebetulan hobi saya memang cuma musik. Jadi kalau sedang senggang, saya memang lebih suka menyendiri untuk membuat lagu baru. Tapi belakangan ini saya juga sedang gemar bermain badminton.

    Mari mengobrol soal yang lain, dari kalian bertiga, siapa sih yang paling sering jatuh cinta?

    (R): Mika, Mika! Dia yang paling gampang jatuh cinta!

    (MI): Jatuh cinta atau jatuh hati, nih?

    (R): Jatuh hati, deh. Mika tuh, paling gampang jatuh hati. Mungkin karena salah satu kepribadiannya mudah mengagumi orang lain.




    "...Kalau Anda sedang jatuh cinta, komitmen itu lebih penting dari luapan emosi sementara." - Reuben, The Overtunes.


    Saat sedang suka dengan seseorang, kalian biasa curhat ke siapa?

    (MA): Ke Mika atau mama. Tapi mungkin lebih sering ke Mika. Kalau lagi suka dengan seseorang, saya cenderung bikin lagu. Output-nya jadi happy soalnya. Hehe... Dan kalau bikin lagu, saya pasti mengajak Mika. Sebenarnya saya tidak akan bilang secara langsung kalau saya sedang jatuh cinta, tapi biasanya Mika bisa melihat.

    (MI): Iya betul. Mada tuh anaknya malu-malu tapi straightforward kalau lagi bicara soal cinta. Nah, kalau Ruben, lama jatuh hatinya. Tapi sekali jatuh hati, langsung kelihatan. Gelagatnya seperti orang yang resah tapi bahagia.

    (R): Hahaha. Betul! Saya juga jarang curhat ke yang lain. Kadang ke Mika. Soalnya Mika respect different approaches. Kalau Mada, lebih sering mengkritik sana-sini.

    (MA): Enak aja, enggak kok!

    (R): Nah, itu contohnya. Tapi Mada itu biasanya pintar menebak kalau seseorang sedang jatuh cinta. Dia paling pintar menebak kalau Mika sedang suka sama seseorang. Mada biasanya bilang, “Kayaknya Mika lagi suka sama si ini, deh.” Terus beberapa hari kemudian, ternyata benar!

    (MA): Mika tuh kelihatan banget kalau sedang tertarik sama seseorang. Gerak-geriknya berbeda, deh. Dan lagi, tipenya Mika tuh enggak pernah berubah, jadi kelihatan jelas. Setiap kali ada perempuan yang terlihat seperti selera Mika, saya sudah bisa langsung menebak kalau Mika akan jatuh cinta.

    What’s the best lesson you’ve learnt from love?

    (MA): Hmmm... Cinta itu butuh pengobanan besar, dan sekecil apapun pengorbanannya, hal itu enggak bisa diremehkan. Oh, Anda juga tidak boleh memaksakan kehendak atau bersikap egois.

    (R): Kalau menurut saya, cinta itu enggak bisa se-perfect cerita Disney, karena kita enggak akan bisa memahami sepenuhnya apa itu cinta. Dan ingat, kalau Anda sedang jatuh cinta, komitmen itu lebih penting dari luapan emosi sementara. 

    (MI): Jatuh cinta itu seperti sedang menari, kadang di atas, kadang di bawah, kadang pergerakannya cepat, kadang lambat. Kadang saya yang menarik, dia yang mengulur, kadang sebaliknya. Nah, sama seperti sedang menari, kalau performa keduanya bagus, ya kisahnya bisa jadi menarik.

    Terakhir, apa kebiasaan Anda yang tidak banyak diketahui orang lain?

    (MA): Reuben itu gemar banget diam di kamar. Dia juga suka menyendiri. Apapun yang dilakukan, dia lebih suka melakukannya di kamar.

    (R): Mika itu picky banget soal toilet. Dia punya standar sendiri soal toilet, dan sangat selektif. Kalau toiletnya tidak sesuai standar, dia lebih pilih menahan buang air. Dan, yang menyebalkan, dia sering banget bolak-balik ke toilet.

    (MI): Mada tuh suka banget ngaca! Dia mungkin enggak sadar soal kebiasaan itu. Tapi Reuben sering melihat Mada berkaca sambil main gitar. Hahaha.



    Alvin Yoga / FT

    Fotografer: Hadi Cahyono

    Digital Imaging: Ragamanyu Herlambang

    Makeup Artist: VZ de Beaute

    Stylist: Giovani Untari