Career

11 Mitos Gaji yang Keliru & Sebaiknya Tak Kamu Percayai Lagi

  by: Alvin Yoga       3/2/2020
  • Kalau kamu pernah merasa gugup ketika harus menjawab pertanyaan, “Berapa gaji yang kamu inginkan?” ketika wawancara kerja, well, kamu tak sendirian. Ada banyak orang lain di luar sana yang juga merasakan hal tersebut, dan ketika menjawab, sebagian besar dari kita melakukan kesalahan karena mengikuti tips yang keliru – membuat apa yang seharusnya kamu dapatkan tidak sebanding dengan apa yang benar-benar kamu terima. Di tahun yang baru ini, ketahuilah bahwa ada beberapa mitos soal gaji yang ternyata keliru dan sebaiknya berhenti kamu percayai. Apa saja? Simak lengkapnya!


    Mitos 1: Kamu harus memberitahu pihak HRD seberapa besar gaji yang kamu inginkan.

    Kenyataannya: Sah-sah saja untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut. Rata-rata, pihak HRD menanyakan berapa banyak gaji yang kamu inginkan ketika wawancara kerja. Namun kenyataannya, menurut Bob Park, head of career strategy di SoFi, sebuah perusahaan keuangan untuk kebutuhan personal asal Amerika Serikat, pihak HRD tak harus tahu seberapa banyak gaji yang kamu inginkan. Alih-alih pihak perusahaan-lah yang seharusnya menyebutkan berapa nominal gaji yang bisa mereka berikan padamu.



    Menurut Bob, kamu harus melewati beberapa tahap terlebih dahulu sebelum menyebutkan dengan jelas berapa nominal yang kamu inginkan. Bila pihak perusahaan bertanya berapa besar gaji yang kamu inginkan di awal wawancara, kamu bisa menjawab dengan: “Saya menginginkan jumlah gaji yang sepadan dengan posisi saya dan sesuai dengan rata-rata gaji di Indonesia saat ini. Kalau boleh tahu, seberapa besar gaji yang bisa diberikan perusahaan untuk posisi tersebut?” Dengan begitu, alih-alih menyebutkan nominal yang kamu inginkan, kamu membiarkan mereka yang menjawab pertanyaan tersebut untukmu.

    Ingat, setelah mengetahui rata-rata gaji yang bisa mereka berikan, kamu selalu bisa menawar di atas angka tersebut sesuai dengan pengalaman, skill, serta career goal kamu.


    Mitos 2: Perusahaan akan menawarkan gaji sesuai dengan nominal terendah yang bisa kamu berikan.

    Kenyataannya: Pilihlah range gaji kamu dengan cerdas, dengan begitu kamu bisa menghindari tawaran dengan nominal terendah. Hannah Riley Bowles, seorang peneliti dari Harvard Business Review, memberi saran untuk memilih tiga angka: pertama adalah angka terendah (kamu tidak akan menerima tawaran di bawah angka tersebut), angka yang ingin kamu terima (dan sesuai dengan rata-rata gaji di Indonesia untuk posisi tersebut saat ini), dan angka yang idamkan (sekitar 20% di atas rata-rata gaji di Indonesia).

    Putuskan angka mana yang ingin kamu katakan ketika sedang wawancara kerja. Ada beberapa pekerjaan yang mungkin tidak benar-benar kamu inginkan, namun akan Anda terima jika nominal gajinya memuaskan, dan ada pekerjaan yang memang sudah kamu incar dan tetap akan kamu ambil meski tawaran gajinya hanya sesuai dengan angka terendah yang kamu berikan.


    Mitos 3: Kamu tak bisa menawar gaji dengan angka jauh di atas gaji kamu sekarang.

    Kenyataannya: Bob Park mengatakan bahwa beberapa HRD mungkin akan mengambil keuntungan jika angka gaji kamu tidak tinggi, namun kebanyakan sebenarnya tidak begitu. Nyatanya, mereka ingin para pelamar merasa bersemangat dengan kesempatan gaji yang menguntungkan. Sedikit tips, mengetahui rata-rata gaji sesuai dengan formula tiga angka di atas bisa membuat posisi kamu menjadi cukup kompetitif.

    Tak menutup kemungkinan bahwa HRD akan menawarkan gaji sesuai dengan angka terendah yang kamu berikan karena nominal gaji kamu saat ini tidak begitu tinggi, namun ingat, kamu harus tetap percaya diri dengan angka tersebut.


    Mitos 4: Kamu akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan jika kami bernegosiasi, terutama untuk pekerjaan pertama.

    Kenyataannya: Bob mengatakan bahwa negosiasi gaji adalah hal yang wajar dan bisa dimengerti. “Tujuan dari bernegosiasi adalah kamu bisa mendapatkan nominal gaji tertinggi, sambil tetap menjaga hubungan positif dengan perusahaan,” ucap Bob. Jika kamu mendapatkan tawaran gaji yang tidak sesuai dengan nominal yang pernah kamu ucapkan, Bob menyarankan untuk jangan ragu mempertahankan nominal terendah kamu. Katakan, “Saya menyukai pekerjaan dan posisi yang ditawarkan, dan saya pikir perusahaan ini pun memiliki visi yang sama dengan saya. Tapi sayang, sepertinya gaji yang ditawarkan kali ini masih belum sesuai. Apakah memungkinkan untuk dibicarakan lagi?”


    Mitos 5: Menawar gaji adalah hal terpenting saat negosiasi.

    Kenyataannya: Ada banyak faktor lain yang bisa kamu pertimbangkan ketika bernegosiasi. Yes, we understand that salary matters. Itu adalah gaji bersih kamu setiap bulan, dan hal tersebut akan memengaruhi banyak hal dalam hidup kamu termasuk biaya hidup, jumlah yang didapat apabila mendapat kenaikan gaji, dan lain-lain. Tapi, akan sulit untuk menawar gaji jika perusahaan sudah memiliki standar rata-rata gaji tersendiri. 

    Jika situasi tersebut terjadi padamu, Hannah mengatakan bahwa kamu bisa mencoba menawar dengan menambahkan job responsibility sesuai dengan pengalaman kamu (yang tentunya akan membuat mereka berpikir ulang soal nominal gaji yang diberikan). Atau, cobalah bernegosiasi lewat aspek lain yang berhubungan dengan waktu kerja dan kompensasi. Semisal, persentase bonus yang didapatkan, penambahan jumlah hari cuti, uang bulanan untuk biaya pulsa telepon dan internet serta uang parkir, nominal uang lembur, atau keringanan berupa bekerja di luar kantor.




    Mitos 6: Kamu harus merahasiakan nominal gaji kamu.

    Kenyataannya: Ada beberapa hal yang seharusnya tidak dianggap tabu untuk dibicarakan, salah satunya adalah soal gaji. Cara Silletto, founder perusahaan HR Crescendo Strategies asal Amerika Serikat, mengatakan bahwa generasi muda kini lebih berani untuk membicarakan masalah gaji dengan rekannya. “Kita mungkin dibesarkan dengan kebiasaan tertentu yang menganggap bahwa membicarakan beberapa topik spesifik adalah suatu hal yang tabu. Namun kini, kamu bisa mencari tahu lebih banyak informasi mengenai topik tersebut lewat internet-termasuk di antaranya adalah mengenai gaji. Bahkan, tak menutup kemungkinan kamu juga menjadi bagian dari sumber informasi tersebut,” ucapnya.

    Menurut penelitian yang ia lakukan, perempuan muda kini 25% lebih transparan membicarakan gaji dibandingkan sepuluh tahun lalu. “Perempuan muda kini lebih bersemangat untuk memberdayakan kaumnya dan mendukung kesetaraan. Salah satu caranya adalah dengan transparan membicarakan soal gaji.”


    Mitos 7: Memberikan penawaran nominal gaji yang lebih rendah akan membuat kesempatan kamu diterima lebih tinggi.

    Kenyataannya: Ah, kata siapa? Ryan Kahn, founder dari The Hired Group serta penulis buku How to Get Hired, mengatakan, “Pastikan kamu tidak menurunkan standar gaji kamu.” Tentu saja, nominal gaji yang rendah akan membuat pihak perusahaan tertarik untuk memanggil kamu dan melakukan wawancara, namun mereka juga akan menganggap bahwa pengalaman dan skill kamu setara dengan nominal tersebut dan pada akhirnya enggan untuk menaikkan nominalnya. Dengan kata lain, kamu akan menerima gaji kurang dari apa yang seharusnya kamu dapatkan. “Alih-alih menurunkan standar, berikan range gaji mulai dari nominal terkecil yang benar-benar kamu inginkan,” sarannya.


    Mitos 8: Kamu harus menaikkan tawaran sekitar 10% dari gaji kamu sekarang ketika wawancara di kantor baru.

    Kenyataannya: Tak ada standar tertentu yang mengatakan bahwa kamu harus mendapatkan gaji yang lebih tinggi ketika pindah di kantor baru. Yes, Cosmo mengerti jika beberapa orang memang menginginkan nominal yang lebih besar ketika pindah ke kantor baru. Namun jika jabatan dan tanggung jawab kamu di kantor baru tidak berbeda dengan apa yang kamu jalani sekarang, maka penawaran yang kamu berikan mungkin tidak akan terlihat menarik.

    Alih-alih, perhatikan kompensasi lain yang mereka tawarkan di luar gaji, begitu juga dengan hal-hal lain seperti koneksi kerja dan lingkungan kerja. Jika faktor-faktor tersebut akan menguntungkan kamu ke depannya, maka tak masalah untuk menerima gaji dengan jumlah yang sama.


    Mitos 9: Lupakan tawaran kerja yang tidak memberikan gaji “sesuai dengan yang kamu inginkan”.

    Kenyataannya: Semisal seorang HR menghubungi kamu lewat LinkedIn dan menawarkan pekerjaan atau posisi tertentu, namun ketika akan melakukan wawancara, kamu melihat bahwa nominal gaji yang mereka tawarkan lebih rendah dibanding yang kamu inginkan. Kuncinya, jangan langsung menolak tawaran wawancara tersebut. Ryan Kahn mengatakan, “Kebanyakan orang memang akan langsung melupakan undangan wawancara begitu tahu bahwa nominal yang ditawarkan jauh di bawah ekspektasi mereka, namun tak menutup kemungkinan bahwa mereka tertarik dengan pengalaman kerja dan skill kamu, lalu akhirnya berpikir ulang soal nominal yang bisa mereka tawarkan,” ujarnya.

    Kuncinya, buat mereka tertarik dengan diri kamu, dengan begitu pihak HR mungkin bisa menarik bujet dari departemen lain untuk menawarkan gaji yang lebih tinggi. Jika tidak, setidaknya mereka akan mengingat kamu ketika ada posisi yang lebih senior lowong di perusahaan tersebut. “Mereka tak akan tahu seberapa berharga kamu kecuali kamu hadir dalam wawancara tersebut,” ujar Ryan.


    Mitos 10: Kamu harus meminta kesetaraan jika gaji Anda tak sepadan dengan rekan kerja kamu.

    Kenyataannya: Kamu tak pernah tahu alasan rekan kerja kamu dibayar lebih tinggi. Rekan kamu mungkin memiliki sertifikasi, pengalaman atau kemampuan tertentu yang membuat mereka dinilai lebih tinggi dibanding kamu. Sebelum gegabah dengan mengadukan keluhan atau mencari pekerjaan lain, cari waktu yang tepat untuk membicarakan masalah tersebut dengan atasan kamu. Berikan alasan yang tepat dengan mengatakan prestasimu selama bekerja di sana, dan berhati-hatilah dengan kalimat yang kamu ucapkan. Katakan, “Belakangan ini saya sempat memegang proyek XXX (sebutkan apa yang kamu lakukan dan apa saja prestasi yang pernah kamu dapatkan). Sehubungan dengan hal tersebut, apakah saya bisa meminta sedikit kompensasi terkait gaji saya?”


    Mitos 11: Gaji Anda akan naik jika Anda pindah ke perusahaan baru.

    Kenyataannya: Belum tentu. Menurut penelitian yang dilakukan oleh PayScale, sebuah perusahaan pengolah data dan software asal Seattle, Amerika Serikat, untuk beberapa posisi jabatan, perusahaan akan lebih menghargai mereka yang menjunjung loyalitas dibandingkan junior yang gemar berganti pekerjaan. Semisal, staf administrasi yang bekerja untuk perusahaan yang sama selama enam tahun akan mendapatkan gaji 19% lebih tinggi dibandingkan mereka yang sering berganti kantor.

    (Alvin Yoga / FT / Image: Jp Valery on Unsplash)

    tags: gaji, mitos