Lifestyle

Ini Alasan Parasite Sebaiknya Menang Best Picture di Oscars

  by: Alvin Yoga       6/2/2020
  • Parasite is, without a doubt, the. Best. Movie. Of. The. Year. Disutradarai oleh Bong Joon-ho, film ini mengisahkan sebuah keluarga kelas-bawah di Korea Selatan, yaitu keluarga Kim, yang dengan cerdas, secara perlahan namun pasti, menyusup ke dalam sebuah keluarga super-kaya dengan cara mendapatkan pekerjaan sebagai asisten di rumah tersebut. Namun, di luar kenyamanan dan butir-butir kekayaan yang mereka dapatkan, seiring berjalannya film, keluarga Kim menemukan adanya kejanggalan dalam rumah majikan mereka, dan tanpa disangka mereka terjebak dalam situasi antara-hidup-dan-mati yang tak pernah mereka bayangkan. Jika menurutmu ide film ini terdengar gila, well memang begitulah kenyatannya - film ini MEMANG gila, but in the best way possible.

    Film ini pertama kali diputar pada Cannes Film Festival pada bulan Mei tahun 2019 lalu (ooohh, so fancy!) dan memenangkan penghargaan terbaik dari festival film tersebut - Palme d'Or - yang berarti film ini memenangkan salah satu penghargaan paling bergengsi dalam sejarah dunia perfilman. Sejak saat itu, Parasite mendapatkan skor 99% di Rotten Tomatoes, yang berarti 99 persen review dari film ini adalah positif. Memang, skor tersebut hanya menunjukkan penilaian dari para kritikus dan tak langsung menunjukkan bahwa para penonton menyukai film ini. Namun, Parasite juga berhasil mendapat skor setinggi 93 dari para penonton di Rotten Tomatoes. Tak cuma itu, film ini juga mendapatkan skor tinggi 96% pada Metacritic, mendapat peringkat ketujuh untuk film dengan skor tertinggi pada dekade ini, serta mendapat urutan ke-42 sebagai film dengan skor tertinggi sepanjang masa, sekali lagi membuktikan bahwa menurut para penulis review, film ini patut mendapat acungan jempol setinggi-tingginya.

    Ketika saya, seorang penonton biasa dan bukan kritikus, menonton film ini, saya benar-benar terpesona dengan ide filmnya yang segar dan kreatif. Di beberapa menit pertama, Parasite terlihat sangat menghibur dengan selipan komedi di sana-sini yang terkesan related dengan kehidupan kita saat ini. Namun seiring berjalannya waktu, film ini mulai menunjukkan sisi satirenya, membuat saya terkagum dengan ide utama kemiskinan dan kapitalisme yang mereka angkat. Film ini bahkan berhasil menunjukkan sisi personifikasi dari rumah yang ditinggali keluarga Park - berangkat dari sebuah obyek kekayaan biasa, menjadi sesosok saksi bisu untuk sebuah kisah yang mengenaskan. It was unlike anything I'd ever seen before. Oh, dan jangan lupakan soal akhir filmnya, yang berhasil membuat saya merasa sedih sekaligus tercengang dan mempertanyakan keseluruhan kapitalisme ini. Parasite, menurut saya, berhasil menceritakan sebuah kisah yang jujur dan apa adanya mengenai apa itu kekayaan, apa itu privilege, dan apa yang akan terjadi apabila kedua hal tersebut tidak tersebar secara merata. Which means, yes, poverty sucks darling, dan kenyataan ini benar-benar relevan dengan apa yang terjadi di dunia saat ini.





    Oscars, atau Academy Awards, tak sering "melirik" film-film berbasis bahasa asing (baca: bukan berbahasa Inggris), apalagi memasukkan film-film tersebut ke dalam kategori-kategori penghargaan prestigious mereka. Tapi di luar perkiraan, Parasite berhasil masuk dalam nominasi Best Picture (meski anehnya tak ada satu pun aktor di film itu yang masuk dalam kategori Best Actress atau Best Actor). Dan sepertinya, ada banyak orang di luar sana yang berharap film ini bisa memenangkan penghargaan Best Picture. Apakah kamu termasuk salah satu di antaranya? Kalau ya (ataupun tidak, Cosmo tetap menghargai pilihanmu), berikut ini adalah beberapa alasan mengapa Parasite seharusnya memenangkan kategori Best Picture dalam perhelatan Oscars tahun 2020 ini.





    Mengapa orang-orang akan merasa sangaaat senang jika Parasite memenangkan Best Picture:

    • This movie is original as f*ck. Ketika Hollywood semakin bergantung pada film-film franchise, remake, reboot, atau based on stories, rasanya senang sekali bisa menonton sebuah film yang diangkat dari sebuah ide segar tanpa embel-embel sekuel. Industri perfilman akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menonton sesuatu yang baru dan berbeda, and that’s really exciting.
    • It’s the underdog. Ini adalah film yang lahir tanpa campur tangan pihak perfilman U.S. sedikit pun. Meski banyak pihak yang mengatakan bahwa film ini adalah film terbaik di tahun ini, banyak yang beranggapan bahwa film ini tidak memiliki peluang sama sekali untuk menang karena - simpel saja - film ini bukan film Amerika. Tapi kita berdoa saja, karena kini orang-orang lebih berpikiran terbuka. You know how people love an underdog.
    • Kamu mungkin akan kaget mendengar fakta ini, tapi well, film-film terbaik tak selamanya memenangkan Best Picture. Untuk bisa memenangkan piala dalam acara penghargaan seperti ini, dibutuhkan banyak sekali faktor keberuntungan, uang, dan tentu saja faktor-faktor lainnya yang sulit kita terka. Maka dari itu, jika film ini benar-benar memenangkan piala Best Picture, ini akan menjadi bukti bahwa setiap film - apapun bahasanya, asalkan ia dicintai oleh banyak orang secara universal - memiliki kesempatan yang sama untuk memenangkan penghargaan.
    • Bong Joon-ho, sang sutradara, adalah salah satu orang yang paling berpengaruh dalam dunia perfilman Korea Selatan, namun sejak film ini dirilis, ia mendapat sorotan yang sama besarnya di Amerika Serikat. That’s a big deal. The Academy biasanya begitu mengelu-elukan para talenta dari U.S. - baca: L.A. -, dan akan jadi suatu hal yang menyegarkan jika mereka bisa melirik film lain di luar "kotak kecil" mereka. Bong sendiri sempat mengatakan bahwa Oscars adalah suatu penghargaan "lokal", yang cukup menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.



    Mengapa orang-orang akan kesal jika Parasite menang:

    • Jujur, saya kurang mengerti. It’s absolutely brilliant! Dan lagi, ada banyak orang di luar sana yang menyukai film ini.
    • No, seriously, everyone loves this movie.
    • ...Satu-satunya alasan yang bisa saya temukan mengapa film ini tak seharusnya memenangkan Best Picture adalah well, seperti film 1917, tak ada satu aktor pun dari film ini yang masuk nominasi dalam kategori Best Actress atau Best Actor atau Best Supporting Actress / Actor. Dari 544 film yang pernah dinominasikan dalam Best Picture dalam sejarah Oscars, hanya 11 film yang pernah memenangkan penghargaan Best Picture tanpa satu aktor pun yang masuk dalam nominasi aktor terbaik. Hal ini membuat saya bertanya-tanya: Jika film ini masuk dalam nominasi film terbaik tahun ini dan para aktor di dalamnya berakting dengan SANGAT baik, mengapa tak ada satu orang pun yang masuk nominasi? Mungkinkah hal ini terjadi karena orang-orang tersebut termasuk people of color dan hanya ada satu person of color yang masuk dalam nominasi aktor terbaik (Cynthia Erivo untuk Harriet)? Every other nominee is white. Statistik menunjukkan bahwa Oscars masih melupakan people of color dalam sejarah mereka, dan fakta ini benar-benar sangat menyedihkan.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan.com / Beberapa perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / Image: Dok. Outnow.ch)