Celebrity

Giulio Parengkuan Bicara Mengenai Akting, Cinta & Perempuan

  by: Alvin Yoga       22/2/2020
  • Menyusul film terbarunya, aktor muda berumur dua puluh tahun ini berbincang pada Cosmo mengenai minatnya yang besar pada seni peran, dan mengapa ia patut diperhitungkan dalam perfilman Indonesia.


    Apa yang membuat Anda ingin menjadi aktor?

    Bermula ketika saya menonton film Jim Carrey saat masih SMA, judul filmnya Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Biasanya saya melihat Jim Carrey di film komedi, jadi ketika saya tahu bahwa Jim Carrey bermain dalam sebuah film drama, saya agak kaget dan langsung tertarik. Setelah menonton film itu saya sadar bahwa akting ternyata adalah sesuatu yang sifatnya personal, terus saya langsung bilang ke orang tua kalau saya juga ingin jadi aktor.




    Dari mana Anda belajar soal akting?

    Saya belajar secara otodidak. Ketika casting untuk film pertama saya, Pertaruhan, itu adalah kali pertama saya berakting di depan kamera. Jadi saat audisi, bisa dikatakan pengalaman saya nol besar, saya hanya membawa keinginan untuk menjadi aktor saja ke sana.


    Kalau boleh menebak, proses audisi itu pasti terasa sulit.

    Lumayan sulit, karena proses casting itu ternyata memakan waktu yang cukup lama, berjam-jam, dan karena saya tak punya pengalaman, saya cukup terintimidasi ketika harus dilihat banyak orang – termasuk di sana ada produser, casting director, dan sutradara.


    Apa kesulitan terbesar ketika casting pertama?

    Saya sebenarnya pemalu, jadi untuk mengekspresikan sesuatu, awalnya sedikit sulit. Yang ada di pikiran saya adalah, “Aduh malu, deh, dilihat orang.” Tapi untungnya setelah beberapa lama, saya mulai terbiasa.



    Sekarang Anda sudah bermain di banyak film. Apa yang membuat Anda memutuskan untuk serius menjadi seorang aktor?

    Personally, bermain dalam beberapa film tidak membuat saya merasa...sah diberi label seorang aktor. Jujur, sampai sekarang saya masih berangan-angan untuk bisa menjadi aktor yang baik, karena menurut saya pengalaman yang saya dapat belum bisa membuat saya disebut sebagai seorang aktor. Inilah yang membuat saya ingin terus serius di dunia perfilman.


    Kalau begitu, apa keinginan terbesar Anda dalam dunia akting?

    Saya punya keinginan untuk memainkan karakter yang lebih personal dan related. Bagi saya, mempelajari berbagai macam karakter dan mengeksplorasi lebih dalam sisi manusia untuk mengerti apa manusia itu sendiri adalah suatu hal yang luar biasa. Dengan kata lain, saya ingin mempelajari soal kemanusiaan itu sendiri secara lebih dalam.


    Apa saran terbaik soal akting yang pernah Anda dapatkan?

    Saran terbaik datang dari mas Tio Pakusadewo: “Selalu percaya kalau akting itu bukan kamu yang milih karakter, tapi karakter yang memilih kamu.”


    Dari film-film yang pernah Anda mainkan, apa adegan tersulit yang pernah Anda lakukan?

    Mungkin ini bukan yang tersulit, tapi yang paling intense. Ketika bermain dalam Ratu Ilmu Hitam, ada satu adegan di mana saya diminta untuk lebih ekspresif – seakan-akan saya harus melawan keinginan diri saya sendiri. Sejauh ini, adegan tersebut adalah adegan yang paling sulit, baik secara emosi maupun secara mental. Well, sebenarnya ini adalah salah satu hal yang saya takutkan ketika bermain dalam Ratu Ilmu Hitam, karena bagi saya genre horor adalah suatu genre yang sulit. Saya tak yakin bisa menunjukkan emosi takut dan mengekspresikannya.


    Terpikir untuk belajar akting lebih dalam lewat sekolah akting?

    Sepertinya tidak dulu. Saya lebih suka mengeksplor akting dengan menonton film dan mencoba sendiri bagian-bagian yang belum pernah saya lakukan. Sejujurnya, ini proses yang seru.


    Anda tiga kali bermain dalam saga film Dilan. Adakah ketakutan bahwa karakter Anhar yang Anda mainkan dalam film Dilan ini akan terus menempel dalam diri Anda?

    Enggak, sih. Menurut saya malah lucu. Itu artinya saya berhasil memainkan karakter itu.




    Sejauh ini apa film favorit Anda?

    Birdman. Saya suka dengan cara Alejandro Inarritu menjadi seorang sutradara. Filmnya jadi terasa sangat personal.


    Oke, kalau tidak menjadi seorang aktor, apa yang akan Anda lakukan?

    Saya sempat terpikir untuk menjadi director of photography dalam dunia perfilman, karena saya suka mengambil foto. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya hal itu lebih cocok jadi hobi saja, tidak untuk menjadi pekerjaan.


    Apa yang membuat Anda suka dengan fotografi?

    Karena saya bisa memberikan sentuhan diri saya sendiri pada foto-foto saya. Di luar alasan itu, melihat hasil foto orang lain juga tak kalah menarik, karena dari mereka saya bisa melihat sudut pandang yang berbeda dan melihat emosi yang berbeda. Sejujurnya, hal ini membantu banget dalam berakting.



    Mari bicara soal hal lain. Seperti apa sosok perempuan yang Anda sukai?

    Sejujurnya tidak ada kategori spesifik seperti seberapa tinggi atau lainnya. Yang penting adalah kami bisa “nyambung”, karena aku sulit “klik” dengan orang lain. Kedua, tidak self-centered. Saya suka perempuan yang tulus dan jujur dalam berelasi, serta tak suka memberi label tertentu pada orang lain.


    Apakah Anda percaya cinta pada pandangan pertama?

    Bisa dibilang begitu. Atau mungkin pada pandangan kedua?


    Pernah jatuh cinta pada pandangan pertama?

    Hmm, pernah tidak, ya? Hahaha. Pernah, deh!


    Apa pendapat Anda jika seorang perempuan make a move duluan?

    Justru saya senang. Bagi saya, it’s fine. Cinta bukanlah masalah siapa yang memulai duluan. Lagi, tak ada alasan mengapa perempuan tak boleh memulai duluan, kan?


    (Alvin Yoga / FT)

    Fotografer: Saefie Adjie

    Makeup Artist: Apriana Susanto

    Stylist: Hendry Leo

    Wardrobe: (Shirt, Pants) Zara, (Jacket, Sweater) Coach