Celebrity

Ardhito Pramono: Musisi Yang Jadi Wajah Baru Industri Film Indonesia

  by: Givania Diwiya Citta       2/2/2021
  • Selama tahun 2020 lalu, Ardhito Pramono memberi warna baru pada skena industri film Indonesia lewat performa aktingnya yang segar. Inilah langkah awal dari perjalanan panjangnya dalam mewujudkan mimpi personalnya untuk bekerja di dunia perfilman. Namun kita juga tak bisa memalingkan diri dari musiknya yang catchy selama lima tahun ini. Kejutan apa lagi yang dipersiapkannya untuk Indonesia? Read more to find out!


    Hai Ardhito! Ada rencana apa yang bisa dibagi pada Cosmo?

    Saya sedang merencanakan untuk membuat album dan merilis lagu baru.




    Kamu pun belum lama ini telah menyelesaikan proyek berakting untuk film Dear Nathan: Thank You Salma. Jadi, kamu sudah mengantongi tiga film dalam karier berakting! Cosmo penasaran, ketika mengerjakan project berakting, apakah kamu sungguh-sungguh menikmatinya seperti saat sedang bermusik? Seperti apa perbedaan dalam menikmatinya?

    Banyak hal-hal yang tidak bisa didapat di musik seperti saat berakting. Contohnya, saat berakting, saya bisa melepaskan semua emosi dan semua pikiran untuk menjadi orang lain. Tapi dalam musik, saya harus tetap jadi diri sendiri. Saat bermusik, saya bisa melepas semua emosi hanya saat penulisan lagu dan pada saat perform. Dan itu tidak bisa 100% sama seperti yang saya dapat dari akting. 




    Keseluruhan busana: H&M


    Kamu mengambil jurusan perfilman saat kuliah. Apakah sebenarnya menjadi aktor adalah bidang kerja yang selalu kamu impikan sejak lama?

    Betul, ini sangat saya impikan sejak lama. Lebih tepatnya untuk bekerja di balik layar. Tapi di depan layar seperti sekarang pun tak apa. Saat kuliah, banyak pelajaran yang saya dapatkan untuk membuat sebuah karya kolektif, yaitu film. Tapi saat kembali ke Jakarta, saya merasa hal ini belum bisa dieksekusi dengan layak. Mungkin saya mendapat rezeki untuk bermain film terlebih dahulu, namun belum untuk menulis naskah atau untuk menyutradarai. Tapi ini adalah salah satu pekerjaan yang dari dulu saya impi-impikan, untuk bisa berada di satu film dan untuk bisa menciptakan lagu untuk film tersebut. Itu adalah mimpi saya sejak SMA. 


    Keseruan apa yang kamu temukan dalam dunia film, yang membuat kamu terdorong untuk menekuninya?

    Film adalah satu tempat di mana sebuah karakter yang kita buat dan arahkan bisa menjadi kenyataan. Baik itu hanya dari sebuah cerita yang ada di kepala, sampai wujudnya, semua bisa kita tonton berulang-ulang. Sebuah kejadian yang berharga dalam hidup juga bisa kita ulang kembali dengan dibikin dalam bentuk naskah, atau membuat suasana yang sama. Itulah yang membuat film spesial. Film juga tidak jauh dari industri musik. Dari sejarahnya, film memang berdiri sendiri tanpa musik. Tapi saat film digabungkan dengan musik, itu menjadi sebuah tren yang bahkan tak akan bisa digantikan sampai sekarang. Betapa spesial film bagi saya. Mungkin itu juga yang membuat film bisa menjadi bisnis yang gila, baik di Indonesia maupun luar negeri. Film is something special, really special.


    Apa tantangan terbesar saat bekerja sebagai aktor?

    Menjadi orang lain yang kita tidak pernah kenal. Itu terasa seperti menyanyikan lagu yang belum pernah ditulis sebelumnya. 



    Keseluruhan busana: H&M


    Bagaimana cara kamu mengasah kemampuan diri dalam berakting?

    Salah satu guru saya – yang dikenalkan oleh Angga Dwimas Sasongko – yaitu Aji Bong, ialah orang yang mengasah kemampuan akting saya dari kali pertama saya belum punya dasar akting sama sekali, hingga film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) rilis. Saya banyak mengobrol dan bercerita, sampai kami bisa berkolaborasi untuk menunjukkan satu karakter baru: Kale. Lalu dilanjutkan belajar dengan Ruth, acting coach pada film Dear Nathan: Thank You Salma. Ia pun menjadi mentor yang sangat baik, untuk bisa menjadikan musisi yang tak tahu apa-apa tentang dunia akting, menjadi orang yang berada di depan layar. Itu adalah hal yang tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, tapi mereka bisa membantu saya untuk mendapatkannya. 


    Tunggu, mari kita kilas balik. Seperti apa ceritanya hingga kamu bisa mulai berkarier di film?

    Kalau saya bilang, itu adalah sebuah kebetulan yang beruntun. Karena saya bisa masuk industri film ini berkat karya saya. Saat pertama kali bertemu dengan Angga, ia bilang, “Saya tahu kamu dari lagu-lagu kamu.” Ia mendengarkan karya saya dari mutual friends kami yang memperkenalkan lagu Bitter Love, dan ternyata Angga menyukainya! Padahal itu adalah lagu yang saya simpan lumayan lama di platform media sosial saya, bahkan jauh sebelum saya bergabung dengan label. Ia pun mengajak saya bertemu sebagai seniman dengan seniman, akhirnya kami pun bisa memunculkan banyak ide. Itulah yang membuat saya bisa masuk ke dunia film Indonesia. Ternyata bukan perkuliahan yang membuat saya masuk ke dunia ini!


    Apakah kamu sudah lama ingin kerja bareng Angga?

    Saya percaya sejak menonton film I Origins, sesuatu yang pernah terjadi akan menjadi kejadian yang selalu terulang. Karena dulu saya selalu menonton karya-karya Angga, mulai dari saat ia menyutradarai musik video, seperti milik Rachel Amanda dan Opick – saya menontonnya, lho! – sampai Surat dari Praha yang masih membuat saya kepikiran, kok bisa membuat film seperti ini. Jadi bekerja sama dengannya adalah proyek kolaborasi yang sudah saya impikan sedari dulu.



    Keseluruhan busana: MORAL


    Apa yang kamu pelajari dari sosoknya?

    Ia adalah tipe orang dengan prinsip “seize the moment”. Ia mengajarkan saya bahwa dunia itu adalah milik kita, selayaknya taman bermain untuk kita. Ia tidak menahan seorang seniman untuk berkarya, tapi ia justru mendorong agar seseorang bisa lebih merilis seni maksimal dari dalam dirinya. 


    Kini mari bicara tentang karier kamu di musik. Sudah lima tahun sejak kamu memutuskan serius menjadi full-time musician. Apa pendewasaan terbaik yang kamu alami sepanjang mengarungi karier bermusik? 

    Yang saya pelajari adalah… Jadilah rumput terbaik untuk bisa dimakan oleh sapi ataupun makhluk hidup lainnya. Tapi jangan coba-coba menjadi elang – kalau memang dilahirkan sebagai rumput. So the best way is to be the very good of yourself, and not trying to become something else.


    Bagaimana cara kamu menanggapi popularitas yang semakin melejit?

    Sebenarnya yang membuat kita menjadi sorotan adalah smartphone. Jadi terkadang agar saya tak merasa menjadi sorotan, saya akan mematikan ponsel. Atau terkadang hanya dengan pergi jauh ke suatu tempat dan mematikan ponsel, itu saja sudah terasa hebat. Karena dari dulu saya kurang menyukai smartphone dan rasanya ingin berganti ke ponsel Nokia kuno – tapi tidak diizinkan oleh manager saya, LOL! Tapi menyenangkan juga, kok, berada di bawah sorotan, meski ini bukan hal saya inginkan. Bahkan dari dulu saya tidak berniat berada di depan kamera, namun dengan menghadapi ego seperti ini, saya jadi menjalani sesuatu dengan santai saja. Saya harus bisa cukup berbesar hati menghadapi ups-and-downs akibat dari popularitas, namun juga harus bisa menikmati momen terkini.






    Keseluruhan busana: MORAL


    Apa yang paling berubah dari Ardhito 5 tahun lalu dan sekarang dalam musik?

    Ardhito tahun 2015 itu adalah Ardhito yang bikin ini, bikin itu, punya terlalu banyak referensi dan inspirasi yang masuk, jadi lagu-lagunya belum automated. Ardhito yang sekarang, ia sudah tahu apa saja yang bisa dipakai dan yang tak perlu dipakai untuk lagunya. Sekarang, Ardhito yang ini sudah punya karakter dalam penciptaan lagu dan dalam lirik.


    Apa satu hal yang tidak berubah dari Ardhito 5 tahun lalu dan sekarang?

    5 tahun lalu… Ardhito masih keras kepala untuk menggodok ide, apalagi lima tahun lalu saya belum bergabung dengan label besar. Well, kalau dulu keras kepala sekali...apalagi sekarang! Tapi itulah, keras kepala dan sifat rebellious saya memang tak pernah hilang.


    Akan seperti apa Ardhito Pramono 5 tahun mendatang?

    Sepertinya, Ardhito akan menjadi seperti orang yang sudah settle dan sudah lebih banyak belajar lagi. Yaitu yang bisa lebih menghargai keberadaan orang di sekitar saya.




    Keseluruhan busana: MORAL


    Saat pandemi, bagaimana cara kamu mencari inspirasi dalam bermusik?

    Terkadang saat di rumah saja, saya kerap stuck. Biasanya saya akan pergi naik mobil dan hanya berjalan-jalan saja. Saya pernah menyetir sendirian sampai ke Bandung. Saya hanya ingin mencari sesuatu yang baru. Saya pernah jalan-jalan ke Puncak, ke Bogor, bahkan pernah ke Cigombong dan mengunjungi pesantren untuk menumpang nongkrong. Ustadz di sana pun membawakan kopi, dan kami membakar ikan bersama-sama. Hal-hal itu tak pernah saya alami sebelumnya, tapi karena adanya pandemi, semua yang tak saya sangka bisa lakukan, bisa terjadi.


    Ingatkah gig bermusik yang paling bikin kamu berkesan?

    Saya ingat saat gig kedua kala bermain band pertama kali semasa SMA, itu cukup gila, yaitu saat perform di Hall A Basket Senayan di Pensi SMAN 70 Jakarta. Kami satu ruang tunggu dengan Stephen And the Coconut Trees! Rasanya seperti dapat golden ticket. Saya selalu suka semangat Pensi. Saat perform di Pensi, semua orang yang bertemu dengan kita, mereka antusias dengan apa yang kita kerjakan. 


    Adakah mimpi dalam bermusik yang sangat ingin kamu wujudkan? 

    Salah satunya adalah saya ingin memperkenalkan musik genre jazz di Indonesia. Dan, bahwa tak perlu ke luar negeri untuk bisa go international. Semisal, ada seseorang yang sangat jago bermain piano dari Kediri, lalu ia membuat akun YouTube. Mungkin dalam semalam ia bisa masuk ke show di Amerika seperti milik Conan O’Brien, lalu ia pun terkenal! Menurut saya, life is just about timing. Mimpi saya adalah untuk mengumpulkan teman-teman kreatif dan bisa bilang pada mereka bahwa tidak perlu untuk bermimpi ke luar negeri, karena kita bisa secara fisik berada di Indonesia namun tetap didengarkan oleh orang-orang di luar negeri. Saya percaya kita bisa mengembangkan nama Indonesia dari negeri sendiri.


    Photographer: Saeffie Adjie Badas

    Stylist: Dheniel Algamar

    Stylist Assistant: Giovani Untari

    Digital Imaging: Ragamanyu Herlambang

    Makeup Artist: Lorita Young

    Hair Stylist: Fiorentina Gultom 


    (Givania Diwiya / FT / Layout: Severinus Dewantara)