Better You

Mulai dari Dehidrasi sampai Hormon, Ini 9 Alasan Kamu Alami Bloating

  by: Givania Diwiya Citta       7/2/2021
  • Bloating, bagi banyak orang, bisa sangat menyakitkan. Entah karena bloating saat masuk masa menstruasi, atau karena menyantap beberapa makanan tertentu, atau respons fisik dari stres, ada banyak macam alasan mengapa kita kerap merasa kembung.


    Bloating yang sering terjadi bisa membuat kita merasa sangat pemarah, frustrasi, dan lemah. Itu karena bloating bisa memberi sakit sungguhan, dan membuat kita tak bisa menikmati aktivitas harian yang normal. Kalau kamu pernah mencoba mengenakan jeans ketat atau ikut sesi HIIT saat bloating, kamu pasti tahu bagaimana rasa sakitnya.




    Jadi, apa saja yang bisa membuat kita bloating, dan apakah dehidrasi benar-benar bisa menyebabkan bloating? Untuk mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan mengira-ngira tadi, Cosmo berbincang dengan Dr Ayesha Akbar, konsultan gastroenterologist dari Rumah Sakit St. Mark’s dan St Mark’s Institute untuk Bowel Disease.



    Di sini, ia menjelaskan banyak alasan penyebab terjadinya bloating yang membuat perut kita tampak seperti sedang hamil-lima-bulan. Ketika kamu memahami penyebabnya, pastikan juga untuk membaca panduan untuk menghentikan bloating. Cosmo selalu berguna, ‘kan?


    1. Dehidrasi

    Jawaban singkatnya: Ya, dehidrasi bisa menyebabkan bloating


    Bagaimana bisa? “Meminum banyak air berpotensi mengurangi terjadinya bloating karena ketidakseimbangan elektrolit dan dehidrasi bisa menghalau proses pencernaan,” jelas Dr Akbar. Ia pun menjelaskan, ketika tubuh berusaha membalikkan keseimbangan dari efek dehidrasi, ia membutuhkan banyak jumlah air.



    Kita selalu disarankan untuk meminum dua liter air sehari, tapi siapa yang tahu ternyata fungsinya juga untuk mengurangi bloating?


    2. Kurang tidur

    Ternyata, kekurangan tidur di malam hari tak hanya bikin kita jadi pemarah di keesokan hari, tapi juga berperan banyak terhadap sistem pencernaan kita, lho. “Dengan tidur yang kurang, tubuh kita merilis hormon stres bernama kortisol,” ujar Dr Akbar. “Kortisol bisa mengganggu sistem pencernaan kita hingga mampu menyebabkan bloating dan konstipasi.”


    3. Perubahan hormon

    Premenstrual syndrome (PMS) bisa menyebabkan perut bloating, karena membuat kita rentan mengalami konstipasi dan mudah menyerap cairan,” ujar Dr Akbar. Tapi hal ini bisa terjadi sebelum, selama, ataupun setelah siklus menstruasi, dan bagi beberapa perempuan, bisa saja tak berefek apapun.



    “Di hari-hari awal siklus, level estrogen meningkat ketika lapisan rahim mengental. Ini bisa menyebabkan bloating, yang bisa semakin menguat saat ovulasi terjadi dan lebih mencair dan terbentuk darah. Biasanya, bloating akan hilang ketika kelebihan cairan dan darah tersapu ketika seorang perempuan mendapatkan menstruasi,” jelas Dr Akbar.


    4. Alergi makanan (atau sensitif terhadap makanan)

    Alergi makanan, atau sensitif dan intolerance terhadap beberapa makanan, juga bisa menyebabkan bloating. Masalahnya adalah, sangat sulit untuk mendeteksi makanan mana yang menyebabkannya. Tapi Dr Akbar memberi petunjuk, “Dua makanan yang paling sering menyebabkan bloating adalah produk dengan susu dan makanan yang mengandung glukosa.”


    “Bahkan orang-orang yang tak resmi didiagnosa punya alergi terhadap manis (penyakit kolik) bisa mengalami sensitivitas terhadap jenis makanan ini, dan bisa sampai mengalami konstipasi dan bloating.”


    Ia juga menyebutkan bahwa makanan lain yang sering menyebabkan bloating adalah apel dan alpukat, jadi kamu mungkin harus menurunkan peringkat dua buah ini dari daftar favorit. 




    5. Konstipasi

    “Konstipasi bisa menjadi alasan paling kentara mengapa Anda mengalami perut yang kembung,” ujar Dr Akbar. “Konstipasi bisa membuat usus tersumbat, hingga bisa memberi sakit perut yang tinggi, ketidaknyamanan, sampai gas.”


    Tapi mengapa kita mengalami konstipasi? Menurut Dr Akbar, alasannya adalah:

    • Makan sayur terlalu sedikit
    • Tidak minum air yang cukup
    • Kurang olahraga fisik
    • Efek samping dari suatu pengobatan
    • Terhubung dengan stres


    6. Makan terlalu cepat

    Angkat tangan kalau kamu merasa bersalah karena sudah menelan makanan cepat-cepat? Cosmo terkadang juga begitu…



    “Kalau kita makan terlalu cepat, ini memungkinkan kita menghirup udara yang banyak. Akhirnya, kita pun berakhir memiliki volume gas yang besar di dalam perut kita, yang menyebabkan terjadinya bloating,” ujar Dr Akbar. Siapa yang sangka?


    7. Stres

    Ada banyak diskusi panjang yang membahas hubungan antara sindrom iritasi usus dan stres. “Sistem pencernaan itu kaya, dan stres bisa menyebabkan stimulus terhadap usus. Bahkan jika tak berhubungan dengan sindrom iritasi usus, stres bisa memberi tekanan pada perut, hingga menyebabkan bloating,” ujar Dr Akbar.


    8. Radang usus

    “Radang usus adalah inflamasi kronis pada usus, dan biasanya termasuk penyakit Chrohn dan kolitis ulseratif,” jelas Dr Akbar.


    Kalau kamu mengenali ada gejala berikut ini:

    • Diare
    • Darah di tinja
    • Nyeri di bagian bawah perut
    • Turun berat badan
    • Kembung kronis


    Maka kemungkinan kamu sedang menghadapi radang usus. Dr Akbar menyarankan sebaiknya pergi ke dokter untuk mengeceknya. Radang usus bisa menyebabkan bloating karena tissue yang terluka akibat operasi ataupun gas yang terjebak di dalam usus.



    9. Sindrom iritasi usus

    Sistem pencernaan kita terbuat dari sistem syaraf yang kompleks, ujar Dr Akbar. “Sindrom iritasi usus bisa disebabkan hilangnya koordinasi dalam sistem pencernaan, hingga usus tak berfungsi,” tambahnya.


    Meskipun penderita sindrom iritasi usus tak menampakkan struktur yang salah – artinya tubuhnya tampak baik-baik saja – namun ada fungsi di dalam tubuhnya yang salah. Seperti “konstipasi, diare, bloating, dan sakit perut,” ujar Dr Akbar.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan.com/uk / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa: Givania Diwiya / Image:  Anete Lusina from Pexels / Catriona Harvey-Jenner)