Beauty

Tanda-Tanda Kulitmu Rusak Akibat Radiasi Sinar Matahari

  by: Fariza Rahmadinna       10/2/2021
  • Sinar matahari memiliki sejumlah manfaat untuk kesehatan, khususnya memberikan nutrisi vitamin D pada tubuh. Namun, terlalu banyak terpapar sinar radiasi matahari berisiko merusak kulit, memicu penuaan dini, pigmentasi, bahkan kanker kulit.  

    Calm down, girls.. Kamu dapat meminimalkan dampak kerusakan kulit akibat sinar matahari dengan cara menggunakan sunscreen atau memakai alat pelindung khusus (topi atau pakaian lengan panjang). Yuk, pelajari lebih lanjut tentang kulit yang rusak akibat sinar matahari dan cara-cara mengatasinya. Read on.



    Bagaimana sinar matahari merusak kulit?


    Dikutip dari Stylecraze, paparan sinar UV dalam jangka waktu yang lama dapat memicu munculnya masalah kesehatan kulit. Dengan kata lain, munculnya tanda-tanda kerusakan kulit yang mungkin kamu alami saat ini adalah efek jangka panjang dari paparan sinar matahari yang sudah dialami beberapa tahun lalu. Perlu diketahui, sinar matahari terdiri dari cahaya tampak, radiasi infra merah, radiasi ultraviolet. Sinar ultraviolet itu sendiri juga terbagi menjadi tiga jenis:

    • Sinar UVA : Sinar ini memiliki panjang gelombang yang lebih panjang dan dapat menembus lapisan kulit yang lebih dalam. Menurut studi yang berjudul Ultraviolet Radiation, Aging and the Skin: Prevention of Damage by Topical cAMP Manipulation, paparan sinar UVA dapat menyebabkan kerusakan genetik pada sel-sel di bagian paling dalam dari lapisan kulit, sehingga memicu munculnya tanda-tanda penuaan dini, seperti kerutan dan garis-garis halus, serta dapat mempercepat penggelapan kulit (tanning).

    • Sinar UVB : Sinar ini memiliki panjang gelombang lebih pendek dan dikaitkan dengan penyebab kulit terbakar. Tidak seperti sinar UVA, sinar UVB tidak dapat menembus lapisan kulit paling dalam, sehingga hanya merusak lapisan terluar kulit. Meskipun begitu, seiring dengan sinar UVA, sinar UVB juga berkontribusi terhadap penuaan kulit dan dapat menyebabkan kanker kulit.

    • Sinar UVC : Sinar ini adalah sinar yang paling merusak. Thankfully, lapisan ozon mencegah sinar UVC mencapai permukaan bumi.


    Seperti apa tanda kulit yang rusak akibat radiasi sinar UV

    • Sunburn

    Sunburn adalah salah satu kondisi kulit yang diakibatkan oleh paparan radiasi UV yang berlebihan. Kondisi ini menyebabkan kulit terasa terbakar, yang disertai dengan rasa perih, kemerahan hingga mengalami pembekakan dan melepuh, bahkan dalam kasus yang ekstrim, sunburn juga dapat disertai dengan sakit kepala, mual, dan demam.

    Perlu diketahui, sunburn dapat dialami oleh semua orang, tetapi jenis kulit dan intensitas paparan sinar matahari menentukan seberapa parah kondisi sunburn yang dialami.

    Untuk mengurangi atau mengatasi kondisi kulit terbakar (sunburn), ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan, yaitu berikan kompres dingin menggunakan handuk atau kain bersih yang direndam dengan air dingin, lalu kompres area kulit yang terbakar sekitar 15 menit. Selain itu, hindari menggaruk atau memencet kulit yang mengalami sunburn, karena hanya akan membuatnya semakin parah dan berpotensi menyebabkan iritasi atau infeksi. Satu lagi, jaga kulit agar tetap lembap, dengan mengoleskan pelembap yang memiliki kemampuan untuk menenangkan kulit. Namun, jika sunburn yang kamu alami tak kunjung sembuh dan disertai dengan demam, sakit kelapa dan mual, segera konsultasikan dengan dokter ahli untuk penanganan lebih lanjut.

    • Kulit Kering

    Tak hanya dapat menyebabkan kulit terbakar, paparan sinar UV matahari juga dapat menyebabkan kulit kering hingga iritasi. Kulit kering akibat paparan sinar matahari ditandai dengan kulit terkelupas (flaking), kemerahan, gatal (itching), dan kulit kasar (roughness). Untuk mengatasi kondisi kulit kering, lakukan gentle eksfoliasi, gunakan pelembap atau body butter untuk melembapkan kulit, dan minum banyak air.

    • Kerutan dan Garis-garis Halus

    Menurut studi tahun 2014, paparan sinar UV yang berlebihan dapat menonaktifkan karotenoid, yang melindungi kulit dari oksidasi. Ketika karotenoid dinonaktifkan, kolagen kulit dan elastin yang menjaga kulit tetap kencang dan halus akan terdegradasi. Akibatnya, akan muncul tanda-tanda penuaan seperti kerutan dan garis-garis halus.



    Untuk mengatasi kondisi kulit semacam ini, ada baiknya konsultasikan dengan dokter kulit. Biasanya, dokter kulit akan menyarankan perawatan anti aging, seperti retinoid topikal, suplemen beta-karoten, chemical peels, terapi laser, atau mikrodermabrasi.

    • Age Spots

    Melansir dari laman Mayo Clinic, age spots atau juga dikenal dengan istilah solar lentigines adalah suatu kondisi kulit dimana muncul bercak-bercak gelap pada kulit yang disebabkan oleh paparan sinar UV yang berlebihan, yang menyebabkan melanin menggumpal di dalam keratinosit atau diproduksi dalam konsentrasi tinggi.

    Bintik-bintik penuaan atau age spots dapat dialami oleh semua orang, apapun jenis kulitnya. Namun umumnya age spots lebih sering dialami oleh orang dewasa yang berusia lebih dari 50 tahun. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan jika orang yang lebih muda juga mengalami age spots, karena paparan sinar matahari dalam waktu yang lama.

    Bintik-bintik penuaan biasanya berwarna tan atau coklat tua dengan ukuran sekitar 13 milimeter dan berbentuk oval. Pada dasarnya, bintik-bintik penuaan tidak memerlukan perawatan medis yang serius. Akan tetapi, kamu tetap perlu mengunjungi dokter kulit untuk mengurangi tampilan age spots. Dokter biasanya akan merekomendasikan krim pencerah kulit yang mengandung asam glikolat, kojic acid, dan retinoid, serta menyarankan tindakan chemical peel, laser therapy, mikrodermabrasi, dan cryotherapy.

    Namun, jika bintik-bintik penuaan berubah warna menjadi hitam, ukurannya semakin membesar, memiliki batas tidak beraturan, memiliki kombinasi warna yang tidak biasa, dan berdarah, segera konsultasikan dan periksakan diri ke dokter, karena itu bisa menjadi tanda-tanda melanoma, yakni suatu bentuk kanker kulit yang serius.

    • Melasma

    Melansir dari laman Healthline, melasma adalah suatu kondisi kulit yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik berwarna coklat tua atau abu-abu pada kulit. Menurut American Academy of Dermatology, 90 persen orang yang mengalami melasma adalah wanita. Namun tidak menutup kemungkinan jika pria juga bisa mengalami melasma.

    Tidak sepenuhnya jelas penyebab utama yang dapat menyebabkan melasma, tetapi ada beberapa penyebab yang diketahui dapat memicu munculnya melasma, salah satunya yaitu paparan sinar matahari. Paparan sinar matahari dapat mempengaruhi sel-sel yang mengontrol pigmen (melanosit), sehingga menciptakan bintik-bintik melasma pada kulit.

    Untuk mengurangi tampilan bintik-bintik melasma pada kulit, dokter biasanya akan meresepkan krim yang dapat mencerahkan kulit. Jika ini tidak berhasil, chemical peels, dermabrasion, dan microdermabrasion adalah opsi yang memungkinkan. Perawatan ini dapat menghilangkan lapisan kulit bagian atas, sehingga dapat membantu mengurangi tampilan bintik-bintik melasma.

    • Keratosis Aktinik

    Menurut Skin Cancer Foundation, keratosis aktinik (Actinic Keratosis) atau dikenal juga dengan sebutan Solar Keratosis adalah suatu kondisi kulit yang ditandai dengan adanya sedikit benjolan atau bercak kasar, kering, dan bersisik pada kulit, berwarna merah muda, merah, atau cokelat, serta adanya sensasi terbakar dan gatal pada daerah tersebut. Terkadang, benjolan ini menyerupai kutil. Keratosis aktinik adalah jenis lesi prakanker yang paling umum, dan jika tidak diobati, dapat berkembang menjadi kanker kulit.

    Dikutip dari Healthline, salah satu penyebab kondisi kulit semacam ini adalah efek jangka panjang dari paparan sinar matahari. Untuk mengatasi kondisi kulit keratosis aktinik adalah dengan melakukan prosedur bedah, seperti terapi laser atau cryosurgery, kemoterapi topikal, dan imiquimod untuk membunuh sel-sel prakanker. (Fariza Rahmadinna/VA/Foto: Dok. Cottonbro/Pexels)