Celebrity

The Hot and Honest Side of Edward Akbar

  by: Redaksi       7/3/2014
  • Wajah Edward Akbar mungkin masih baru di dunia perfilman Indonesia. Tapi sosoknya pasti melekat dalam benak Anda ketika ia berhasil membawakan karakter antagonis Yopi di film Street Society yang dibintanginya baru-baru ini. Penasaran dengan pribadi pria berperut six packs ini (oughh..)? Cosmo ajak Anda untuk mengenalnya lebih dekat!

    Cosmo (C): Hallo, Edward! Apa kabar? Sedang sibuk apa sekarang?
    Edward Akbar (EA):
    Baik! Sampai saat ini masih terus bekerja seperti biasa, tapi kalau lebih spesifik lagi, kebetulan sekarang sedang menggarap sebuah naskah film, menulis puisi, dan dalam waktu dekat akan merilis buku.

    C: Wow, lots of things to do...
    EA:
    Haha, iya... Karena pada dasarnya saya seniman, jadi apa pun jenis karyanya, I'll do it.



    C: Ceritakan sedikit tentang peran Anda dalam film Street Society.
    EA:
    Saya sangat menikmati peran di film ini karena diberikan kepercayaan oleh sutradrara untuk memerankan karakter yang sangat intens sebagai karakter antagonis, Yopi.

    C: Apa yang menarik ketika Anda mendalami sosok Yopi?
    EA:
    Yang paling menarik adalah bagaimana proses penggalian rasa untuk menjadi seorang Yopi, yang tersakiti, dikhianati, diasingkan ke Los Angeles, dan kehilangan orang yang sangat dicintainya. It's not easy for me, karena saya juga pernah kehilangan orang tercinta, which is my mom.

    C: Sulit nggak melepaskan peran itu saat Anda sudah terbiasa?
    EA:
    Wah, saking melekatnya karakter Yopi dalam diri, saya sampai butuh waktu 1,5 bulan untuk melepasnya, haha!

    C: Flashback sedikit, bagimana awal mula Anda bisa menekuni dunia seni?
    EA:
    Dulu saya kerja di bank karena basic-nya kuliah jurusan ekonomi. Lalu ketika ibu meninggal tahun 2010, itulah yang menjadi turning point dalam hidup saya. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk mengambil gitar, pergi ke Bali, dan mulai bermusik di sana. Rupanya orang-orang di sana mengapresiasi musik saya. Dari situ saya sadar bahwa hidup adalah tentang apa yang bisa Anda berikan ke pada orang-orang di sekitar Anda. Bukan cuma secara materi, tapi juga bisa melalui karya.



    C: Jadi bisa dibilang ibu adalah sumber inspirasi Anda?
    EA:
    Tentu! She's my angel, my inspiration. Saya amat menyayangi beliau dan perasaan tersebut saya curahkan dalam bentuk karya seni (baca: musik). Lewat musik, saya berkomunikasi dengan beliau.

    C: Seberapa dalam Anda jatuh cinta dengan musik?
    EA:
    Yeah, saya suka sekali bermusik. I'm a singer, songwriter, music producer and music director. Music is my alter ego; music saved my life. Bahkan sampai sekarang saya masih aktif bermusik lewat Soundcloud atau manggung.

    C: Kenapa akhirnya lebih memilih film daripada musik?
    EA:
    Menurut saya, kita bisa menyampaikan pesan kepada banyak orang melalui sebuah film, bukan cuma untuk terkenal saja. Bagi saya, terkenal dan terakui itu beda. Seni apapun—musik, peran, dan lain-lain—pada dasarnya adalah perjalanan batin.

    C: For you, life is about...
    EA:
    Well, life is about honesty, sincerity, sharing and giving. So you have to spread the love, start from you. When you wake up in the morning, just smile.

    Teks: Amanda Utari
    Editor: Vidi Prima
    Fotografer: Rakhmat Hidayat
    Digital Imaging: Roy Pradipta
    Makeup & Hairdo: Devi Natalia (085773731150)
    Lokasi: Sinou Caffe & Resto
    Wardrobe: Jeans (Pull & Bear), Denim Shirt (Topman), Sleeveless T-Shirt (Topman), Denim Vest (Topman).