Love & Sex

Awas, Jadi Korban Kekerasan dalam Pacaran

  by: Adya Azka       14/3/2014
  • Anda pasti sudah sering mendengar istilah Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Well, bukan hanya kekerasan dalam lembaga pernikahan saja yang patut Anda jauhi, namun jauh sebelum melangkah ke jenjang itu... saat masih berpacaran. Ketika baru menjalin hubungan, hati berbunga-bunga dan semua terasa indah. Termasuk perlakuan kasar atau intimidatif dari kekasih. Malah tak jarang justru orang di sekeliling Anda, seperti sahabat, yang menyadarinya lebih dulu. Agar tidak menjadi korban Kekerasan dalam Pacaran (KDP), yuk kenali ciri-cirinya!

    Kekerasan Fisik
    Kekerasan seperti ini pasti lebih mudah untuk dikenali. Kekerasan fisik ini biasanya memang didahului oleh kekerasan psikis terlebih dahulu. Jika kekerasan psikis sulit terdeteksi, kekerasan fisik sangat mungkin terlihat jejaknya yang berupa luka atau memar. Kekerasan fisik ini diantaranya memukul, menjambak, menampar, menganiaya tubuh, atau mencekik dan banyak lagi. Percayalah dear, sekali ia melayangkan tangannya pada Anda, jangan pernah beri kesempatan kedua. Pasti ia kelak akan mengulanginya lagi, dan bukan tak mungkin akan lebih parah dan Anda sesali.

    Kekerasan Seksual
    Seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual ini juga dapat dirasakan secara langsung. Misalnya saja ketika si dia memaksakan kehendaknya untuk meraba, menyentuh, mencium, memaksa berhubungan seks atau melakukan aktivitas seks tertentu tanpa ada persetujuan Anda. Hal ini akan semakin terasa ketika si dia mulai meluncurkan kalimat-kalimat yang mengandung unsur paksaan atau ancaman. Apa bedanya dengan perkosaan?



    Kekerasan Psikis
    Nah, inilah kekerasan yang sangat jarang disadari oleh Anda. Padahal, hal kecil yang Anda anggap biasa pun bisa jadi termasuk ke dalam kekerasan psikis. Cemburu berlebih, over-protective, larangan-larangan yang dia terapkan pada Anda, hingga pelanggaran privasi, seperti memeriksa ponsel Anda berulang-ulang atau meretas akun-akun sosial media yang Anda miliki. Biasanya, kekerasan seperti ini berdampak pada perasaan tertekan dan tak berdaya.



    Kekerasan Verbal
    Jika selama ini Anda menganggap kekerasan verbal hanya berupa luapan amarah, Anda berarti harus membaca artikel ini hingga tuntas. Karena ternyata “panggilan sayang” dari si dia pun bisa dianggap sebagai kekerasan verbal yang berakibat pada cederanya psikis Anda. Misalnya, panggilan “Gendut,” “Kuda Nil,” atau yang sejenisnya. Hmm, jika orang terkasih tidak dapat menghargai fisik Anda, untuk apa dipertahankan? Selain itu, kalimat seperti “Tanpa aku, kamu tidak akan bisa apa-apa,” yang meluncur dari mulut manisnya juga secara tidak langsung akan membentuk mental Anda menjadi lebih inferior. Never let it happen to you! (Adhia Azka/IR/Image: thinkstock)