Fashion

Tren Mode Terbaru Dari Indonesian Fashion Chamber

  by: Alexander Kusumapradja       29/3/2018
  • Tren mode datang silih berganti, namun the true style akan bertahan selamanya. Menerka tren mode memang menjadi aktivitas seru bagi siapapun yang tertarik pada dunia fashion, tapi sejauh apa relevansinya di zaman yang semakin cepat?

    Fashion trend forecasting sejatinya adalah prediksi mood, perilaku, dan buying habit para konsumen di waktu dan musim tertentu. Pertanyaan yang hendak dijawab adalah bagaimana dan apa yang konsumen beli berdasarkan kultur, mood, lokasi geografis, dan tentu saja musim.

    Secara global, tren mode dibagi berdasarkan musim semi, panas, gugur, dan dingin yang memengaruhi palet warna di sebuah koleksi. Musim semi dan panas identik dengan warna cerah, musim gugur diwarnai rona tanah, sedangkan musim dingin cenderung mengusung warna monokromatis. Para desainer dan retail biasanya menyiapkan produksi koleksi sebuah musim dari 6 bulan sebelumnya. Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara tropis yang hanya punya dua musim, kita tentu perlu mencari cara lain dalam menyiapkan sebuah prakiraan mode. Hal itu yang coba dilakukan oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC) dalam gelaran Media Viewing Trend 2019.


    IFC sendiri merupakan organisasi mode non-profit yang menjadi wadah dari banyak desainer lokal. Saat ini, anggota organisasi yang dikepalai oleh desainer Ali Charisma tersebut sudah melebihi angka 200 yang tersebar di 10 kota besar Indonesia. Ajang presentasi mode Media Viewing Trend ini merupakan gelaran pertama yang diharapkan menjadi barometer tahunan dalam menerka tren mode lokal. Telah berlangsung selama dua hari di Ice Palace, Lotte Avenue, Kuningan, Jakarta pada tanggal 26 dan 27 Maret kemarin, ladies, let's read our report and take notes.

    Hari Pertama (26 Maret 2018)





    Koleksi "Rajah" dari Jumpanona.


    Hari pertama Media Viewing Trend mengusung tema Avant Garde dan Urban. Jumpanona, label aksesori brass jewelry, menjadi pembuka dengan koleksi bertajuk “Rajah” yang terinspirasi tato suku Dayak. Sebelumnya, koleksi ini telah dipamerkan di Hong Kong Fashion Week Januari lalu. Berbeda dengan fashion show biasa di mana model hanya hilir-mudik dan ditutup oleh lambaian tangan sang desainer, setiap show di perhelatan ini kental akan unsur teatrikal dengan set yang mudah diubah, permainan efek cahaya, video, asap, dan sesi presentasi dari setiap desainer yang menjelaskan karya masing-masing.


    Koleksi "Against The Tide" dari NY by Novita Yunus.


    Berturut-turut, ditampilkan label Raegitazoro dengan koleksi sportswear berdetail neon, Malea by Mega MA yang membuat koleksi urban sporty dari bahan velvet, NY by Novita Yunus yang memadukan batik dengan teknik shibori Jepang, kolaborasi Dina Midiani dengan label tas ramah lingkungan Threadapeutic, koleksi bertema “Childhood Nightmare” dari desainer Surabaya Aldrè, dan koleksi “Rei” dari Yunita Kosasih yang dipengaruhi kain obi Jepang.


    Koleksi dari beberapa desainer muda dengan nama "The Future".


    Catatan khusus patut diberikan kepada The Future, show kolektif yang menampilkan para desainer muda yang baru memulai karier selepas dari sekolah mode. Mereka adalah Inas Nabilla, Lania Rakhma, Gabriella Manurung, Aji Suropati, Ray Alan, dan Wita Sasika Gayatri yang walaupun bisa dibilang anak kemarin sore tapi punya visi dan konsep yang terlihat lebih kuat dari beberapa desainer senior yang tampil sebelumnya. The youth is indeed the future.

    Hari Kedua (27 Maret 2018)




    Koleksi "meduses" dari Christine Wibowo.


    Tema di hari kedua adalah pakaian muslim dan evening wear yang dimulai oleh presentasi Irna La Perle by Irna Mutiara lewat koleksi pakaian muslim modern dengan inspirasi organ tubuh manusia, termasuk sebuah finale piece dengan aksesori lampu yang Cosmo pikir merepresentasikan degup jantung. Koleksi selanjutnya adalah Sad Indah dengan hijabwear bertema lebah di mana sang desainer turut tampil dengan headpiece berbentuk sarang lebah, Christine Wibowo dengan evening wear bertema meduses (that's Latin word for ubur-ubur, ladies) yang didominasi material melambai seperti lace, tulle, dan organza, serta DVK by Defika Hanum yang membuat hijabwear monokrom untuk big cities hijabis.


    Koleksi ready to wear dari DVK by Defika Hanum.


    Dibanding hari sebelumnya, hari kedua ini menyimpan lebih banyak kejutan dari sisi presentasi. Contohnya ketika Bramanta Wijaya mempresentasikan koleksi dengan tajuk “étoile” yang berarti bintang, sang desainer menjadi bintang utama pertunjukan dengan turut bernyanyi secara live untuk mengiringi langkah para model. Talk about multi-talents! Tak mau kalah, Dani Paraswati menyajikan koleksi bertema Bohemian dengan inspirasi bunga lavender, Fomalhaut Zamel yang menjadi satu-satunya desainer pria menampikan koleksi bertema “Rebellion” dan diakhiri oleh Devy Ros dengan koleksi evening wear bersiluet feminin dengan palet utama warna hitam dan detail bunga (yang diibaratkan beliau sebagai “harapan di tengah kegelapan”).

    The Trends
    So what's the conclusion? Yang paling Cosmo suka adalah perhelatan ini menjadi ajang perkenalan beberapa nama desainer luar Jakarta yang selama ini mungkin belum familiar di ibu kota. But, just like any other fashion shows, there are some hits and some misses. Yang Cosmo tangkap jelas adalah bagaimana setiap desainer berusaha menginjeksikan pengaruh kultur Indonesia dalam rancangannya. Untuk sesi pakaian urban, beberapa desainer terlihat memang berasal dari ranah tersebut sementara beberapa terasa baru sekadar coba-coba. Begitu pula di sesi Avant Garde yang menurut Cosmo masih bisa dikembangkan lebih dalam. Untuk evening wear, Cosmo masih melihat siluet-siluet yang jamak terlihat di setiap fashion show, sedangkan hijabwear justru lebih berani bereksplorasi dengan tema-tema tak terduga. In the end, tren fashion di Indonesia memang masih harus meraba. Belum ada yang benar-benar mengikat selain kesamaan geografis. Cosmo pun berharap gelaran pertama ini menjadi langkah pembuka untuk kemajuan fashion Indonesia berikutnya.

    (Image: dok. Cosmo)