Lifestyle

Jarang Diketahui, Deretan Film Indonesia Ini Mendunia!

  by: Nadhifa Arundati       30/3/2019
  • Berbicara tentang film memang tak ada habisnya, setiap tahun selalu ada saja film-film menarik untuk ditonton dan dibahas. Namun film bagus enggak melulu bersentuhan dengan film Hollywood, bahkan banyak film Indonesia yang saat ini belum pernah kamu tonton, tetapi memiliki kualitas yang berkelas dalam berbagai unsur.

    Terkadang banyak orang lebih condong ke film Indonesia yang cheesy-romantic, sebenarnya sudah ketebak ending-nya – but that’s ok, you just want to entertain yourself, right. Tetapi kamu harus lebih celik, banyak film Indonesia lain yang mengajarkan hal-hal penting, bahkan belum tentu bisa kamu dapatkan sebelumnya. Ladies, lebih baik langsung saja simak, deretan film indonesia yang mendunia namun jarang diketahui!




    Turah


    Film yang disutradari oleh Wicaksono Wisnu Legowo ini berhasil memenangkan 3 kategori dalam penghargaan berskala internasonal, yakni Geber Award dan Netpac Award – psst, bahkan sempat masuk ke tahap seleksi di penghargaan Oscar dalam kategori "Film Berbahasa Asing"! Well, meski tak lolos, setidaknya ini cukup membanggakan. Film ‘Turah’ sebenarnya memiliki alur cerita yang simple namun unik. Menceritakan tentang kondisi kehidupan di kampung Tirang yang sangat, sangat sederhana – bahkan sebenarnya warga kampung Tirang belum bisa dikatakan hidup secara layak.


    Namun tokoh yang bernama Tirah telah membangkitkan optimisme dalam hidup di kampung tersebut – bersama dengan Jagad, yang juga ingin melakukan perubahaan. Meski kedengarannya terlalu klise karena menyinggung kehidupan sehari-hari, namun kamu bakal berubah pandangan setelah menyaksikannya. Sayangnya film ini hanya bertahan selama 2 minggu di layar lebar, dan tayang di 16 layar bioskop.  


    Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak


    Marsha Timothy tak pernah gagal dalam memerankan film-film terbaik di Indonesia – salah satunya adalah “Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak” selain karakter Marlina yang bikin terpukau, namun film ini menyuguhkan keindahan pulau Sumba yang bikin kamu ingin segera berkunjung ke sana. Tak hanya memberikan cerita tentang pembunuhan, namun juga memberikan nilai-nilai tentang kedudukan seorang perempuan – layaknya seperti Marlina, janda yang hidup sebatang kara seketika berubah menjadi perempuan yang tak kenal rasa takut untuk melawan (well, meski dengan cara membunuh).


    Ketegangan yang akan kamu rasakan dalam film ini adalah perjalanan Marlina dalam menembus keadilan yang dibagi dalam empat babak: perampokan, perjalanan, pengakuan, dan kelahiran. Marlina sungguh mengajarkan kita untuk menjadi fearless woman yang seutuhnya – tak heran kalau film yang disutradarai oleh Mouly Surya ini telah meraih beberapa ajang penghargaan Internasional seperti kategori “Skenario Terbaik” pada FFIFS Maroko edisi ke-11, penghargaan Five Flavors Asian Polandia, dan juga Marsha Timothy berhasil masuk sebagai “Aktris Terbaik” dalam Festival Sitges International. Just wow.


    Baca juga: Wajib Nonton! 5 Film Inspiratif yang Diangkat dari Buku


    Siti


    Buat kamu yang suka dengan genre drama, you should watch this, “Siti” – film drama ini tak muluk-muluk membahas tentang bagaimana karakter Siti ingin merubah nasib, namun film “Siti” cukup menyajikan kisah yang sederhana, serta kehidupan Siti yang sederhana pula. Masalah hidup Siti memang cukup berat – terbelit utang, mengurus anak dan suaminya yang lumpuh, menjual rempeyek di pinggir pantai Parangtritis, serta menjadi pemandu kelas karaoke di wilayah perkampungan. Sebenarnya film ini enggak memberikan pesan secara eksplisit atau alur cerita yang terlalu memaksa, hanya menyajikan sebuah kisah seorang Siti yang hidup layaknya manusia biasa, bahkan dapat dikatakan menyimpang – seperti saat ia terpincut dengan polisi gagah bernama Gatot.


    Tak hanya kisahnya saja yang bikin kamu hanyut, namun visual black and white yang ditampilkan oleh sutradara Eddie Cahyono juga menambah kesan klasik dan lebih terfokus pada mimik dan dialog para pemain. Dan yang terpenting adalah film “Siti” telah meraih penghargaan di ajang Shanghai Internasional Film Festival kategori “Best Cinematography” dan “Best Screenplay” – unfortunately, film ini hanya bertahan selama 4 hari di layar bioskop, dengan jumlah penonton sekitar 4 ribu saja.




    Istirahatlah Kata Kata


    Sama seperti judulnya, “Istirahatlah Kata Kata” mempresentasikan sebuah film yang ‘dibungkus’ dengan emosi para pemainnya, tanpa harus memberikan penjelasan dalam kata-kata – action speaks louder than words, dan Cosmo sangat setuju dengan kalimat ini. Film yang menceritakan tentang tokoh aktivis asal Solo yakni Wiji Thukul, yang menulis puisi tentang ‘kekejaman’ masa Orde Baru.


    But wait, film ini bukan menceritakan tentang sejarah atau biografi yang berkaitan dengan Wiji Thukul, namun memberikan kisah tentang bagaimana Wiji Thukul (dan karakter lainnya) menumbuhkan makna dari setiap suasana yang dibangun (lebih ke pendalaman masing-masing karakter) – setiap pergerakan selalu memiliki arti tersendiri, tanpa ada kata atau musik yang mengiringi, layaknya mengikuti pergerakan dari setiap tokoh yang bermain, kekuatan visual yang sungguh hidup.


    Tak perlu banyak berbicara, film "Istirahatlah Kata Kata" justru meraih penghargaan “Film Terbaik” di Bangkok ASEAN Festival 2017! Penghargaan ini tentu berkat akting dari Gunawan Maryanto dan Marissa Anita, benar-benar berhasil membawa suasana – plus tak terlepas dari garapan sutradara yang tak kalah apik, yakni Yosep Anggi Noen. Bukan berarti menghilangkan kata-kata, namun biarkan aksi yang menjadi ‘peran utama’ dalam film ini.


    Ziarah


    Bagaimana rasanya jika sebuah film diperankan oleh nenek berusia sekitar 90 tahun? Aktingnya pasti akan terasa sangat natural namun ‘seadanya’, meski demikian tetap memancarkan emosi yang bisa bikin kamu ikut merasakannya – yes, Cosmo sedang membahas karakter Mbah Sri dalam film “Ziarah”. Awalnya Cosmo masih bertanya-tanya tentang makna dari film ini – dengan memperlihatkan perjalanan Mbah Sri dalam mencari makam suaminya yang tewas lantaran perang. Namun Cosmo menyadari kalau enggak hanya sekadar perjalanan, tetapi Mbah Sri ingin mencari kebenaran yang selama ini bungkam.


    Sebenarnya tak banyak konflik yang terjadi seperti film-film pada umumnya, namun pesan yang digilir dalam perjalanan Mbah Sri malah akan membuat kamu semakin emosional saat melihat bagaimana Mbah Sri mencari alamat pemakaman sambil membawa bunga tabur di dalam keranjang – keraguan dan keberanian yang terpancar dalam karakternya, didukung dengan karakter-karakter lain yang memerankan secara realistis, semuanya terasa seperti kejadian nyata. Meski ending-nya sulit ditebak dan cukup mengejutkan, tetap tak merubah esensi dari tujuan filmnya yakni "Mencari Kebenaran" (no spoiler!).


    Perjuangan sutradara B.W. Purba Negara memang tak sia-sia, karena film ini berhasil merenggut “Film Terbaik Pilihan Juri” di ASEAN International Film Festival and Awards 2017 dan “Film Terbaik” dalam Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina. Intinya, film ini mengajarkan kalau kenangan lama tak seharusnya dibiarkan, namun perlu kamu ingat kembali untuk mempelajari apa kesalahan-kelasahan sebelumnya. Favorite!


    Enggak ada salahnya untuk mulai streaming film yang ada di atas ini. Hmmm... there’s nothing to say again, karena hanya film-film ini yang bisa 'berbicara' dan meninggalkan kesan tersendiri buat kamu. Enjoy!


    (Image: Doc. Outnow.ch)