Career

4 Perempuan Kuat yang Berkarier di Industri Dominasi Pria

  by: Givania Diwiya Citta       12/3/2020
  • Workforce hari ini menunjukkan lebih banyak keragaman dalam posisi-posisi pekerjaan yang mungkin awalnya didominasi oleh pria. Menurut studi data yang dilakukan LinkedIn, terdapat progres selama 10 tahun ini dalam proporsi pemimpin perempuan yang naik dengan rata-rata dua persen di antara 12 industri yang disorot. Studi tersebut juga menyebutkan bahwa sejak tahun 1978, ada lebih banyak perempuan yang memasuki sektor STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Tak terkecuali untuk profesi Automotive Salesperson, Arsitek, Fisikawan, hingga yang menduduki posisi-posisi pemimpin dalam bidang software, IT, sampai public safety. Cosmo pun menemui lima perempuan di Indonesia lintas profesi dan industri untuk berbagi tentang perannya dalam menggeluti perusahaan male-dominated, serta kontribusinya dalam mendorong perempuan untuk sama-sama mengeksplorasi kariernya tanpa batasan.


    Jane A. Nawilis




    Sebagai penerus generasi ketiga dari bengkel Nawilis, Jane bertanggung jawab untuk memastikan keuangan bengkel berjalan lancar. Meski titelnya Finance Director, namun Jane secara otomatis bekerja multitasking untuk perusahaan keluarga ini. Mulai dari mengekspansi peran ke marketing sampai legal, Jane pun menambah wawasannya dengan mengikuti seminar tentang finance, accounting, pajak, manajemen, human resource, sampai tentang mengelola media sosial untuk akun bisnis. Namun Jane mengakui bahwa dalam dunia bengkel, memang masih belum banyak perempuan yang menerjuni pekerjaan ini.

    Bengkel Nawilis sendiri memiliki tiga karyawan perempuan yang menjadi kepala cabang, serta satu mekanik perempuan yang telah bekerja bersama selama 20 tahun. Jane sendiri telah berkutat dengan dunia maskulin sejak dini. Bagi Jane kecil, bengkel menjadi playground untuk petak umpat, dan ia pun tumbuh menyenangi matematika, fisika, dan mengambil jurusan kuliah Teknik Mesin. “Saat kuliah, saya tidak menemukan satu teman perempuan pun, sayalah satu-satunya perempuan dalam kelas yang berisikan 30 mahasiswa,” kenangnya. Namun ia tak memungkiri bahwa ia merasa minder, meski tidak ada diskriminasi terang-terangan yang ia alami.

    Di California State Polytechnic University Ponoma tersebut, ia lantas masuk dalam klub Society of Woman Engineer dan bertemu dengan perempuan-perempuan lain yang belajar teknik. Jane pun lantas berpindah jurusan ke Electrical Computer Engineering dan menjadi salah satu dari tiga mahasiswi yang ada di kelas. Selepas menamatkan S1, Jane bekerja sebagai Product Engineer di perusahaan produsen chip handphone, Skyworks, selama enam tahun. Berangkat dari situ, Jane personal memiliki misi untuk memperkenalkan bahwa engineering sesungguhnya ditujukan untuk semua orang.

    “Dunia engineering butuh perempuan, karena banyak produk serta teknologi yang sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh perempuan dan memudahkan hidup perempuan."

    Oleh karenanya, ia mendirikan Society of Woman Engineer Jakarta pada 2017 untuk meningkatkan awareness bahwa tak ada batasan bagi perempuan dalam mendalami bidang teknik ini. “Dunia engineering butuh perempuan, karena banyak produk serta teknologi yang sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh perempuan dan memudahkan hidup perempuan. Seperti alat untuk memotong bahan masakan, menyapu, atau mengepel. Jika bisa robot yang melakukannya, mengapa tidak? perempuan mungkin bisa menggunakan waktunya tadi untuk membaca buku, bersekolah, atau bekerja,” jelasnya.

    Selaras dengan visinya untuk perempuan, “Saya ingin perempuan tahu, karena lulusan software engineering saja bisa mendapatkan gaji pertama 12 juta. Demand sangat tinggi, namun supply sangat rendah, dan 80% supply tersebut masih pria. Padahal jika perempuan masuk dalam bidang teknik, saya yakin bisa jadi equal.”


    Neneng Goenadi


    Sejak dilantik sebagai Managing Director pada Februari 2019 lalu, Neneng lantas menjadi perempuan pertama yang menduduki titel ini dalam Grab Indonesia. Melalui peran ini, Neneng berfokus untuk meningkatkan seluruh layanan perusahaan terhadap mitra pengemudi serta karyawan, terutama dalam mengelola segmen transportasinya. Dalam industri teknologi pun, rata-rata 30% karyawan sudah mulai diisi oleh perempuan. Bahkan dalam perusahaan yang Neneng pimpin, terdapat 40% karyawan yang merupakan perempuan. Lebih dari itu, pada jajaran kepemimpinan senior, terdapat 50% posisi yang diisi oleh perempuan.

    “Saya menjunjung tinggi pendekatan kekeluargaan kepada seluruh karyawan saya. Melalui pendekatan ini, saya berusaha menjadi sosok yang terbuka dan mudah dijangkau oleh karyawan. Cara ini merupakan salah satu cara saya dalam mementori para penerus di generasi selanjutnya,” ujarnya. Dengan budaya kerja yang terbuka dan tipikal dengan korporasi teknologi modern hari ini, Neneng pun memimpin dengan tidak membatasi ruang berpikir karyawannya yang kreatif dan kritikal. Bersamanya, inisiatif [email protected] pun berjalan untuk mendukung karyawan perempuan hingga bisa berfokus pada pengembangan diri mereka, baik secara personal maupun profesional. Seperti salah satunya program mentoring dengan para pemimpin perempuan di Grab.

    "Ini merupakan salah satu cara saya dalam mementori para penerus di generasi selanjutnya.”

    Di bawah kepemimpinannya pun, ia berupaya mendorong para perempuan untuk mampu mencetak terobosan dari stigma tradisional yang berorientasi pada pria dalam dunia profesional. “Kami memiliki pemimpin perempuan untuk tim data science, ekonomi, pemasaran produk, dan masih banyak lagi,” ujar Neneng yang juga menjelaskan tentang prioritas gagasannya dalam melindungi penumpang maupun mitra pengemudi perempuan lewat kerja sama dengan Komnas Perempuan. When woman leads, she serves the community better and wider, indeed.




    Tania Artawidjaya


    Mengemban profesi sebagai Pilot perempuan berpangkat First Officer, Tania memiliki tugas untuk menerbangkan pesawat jet komersil berpenumpang milik Garuda Indonesia, baik rute domestik serta internasional. “Jumlah penerbang perempuan masih minoritas. Namun lingkungan pekerjaan menuntut saya sebagai pilot perempuan untuk memiliki standar yang sama dengan pilot pria, tak terkecuali dalam hal workloads, safety, service, skill, dan knowledge,” ujar Tania.

    Meski posisi yang didudukinya masihlah tampak male-dominated, namun ada perbedaan signifikan yang Tania amati dalam industri penerbangan ini. Yakni toleransi dalam bekerja yang konstan meningkat, terutama dari peran rekan kerja sesama First Officer, Captain, dan management yang mendukung pilot perempuan untuk berkarier. Tentu saja sebagai penerbang perempuan, Tania harus memberikan performa baik secara physically dan mentally, berdasarkan latihan fisik dan tantangan mental yang harus ia hadapi dan kuasai. Seperti salah satu tantangan terbesarnya untuk dapat beradaptasi dalam setiap penerbangan dengan rekan kerja yang baru, penumpang yang berbeda, environment yang bervariasi, dan variabel lain yang tidak bisa diprediksi.

    “Orientasi hanyalah barrier mental yang harus kita pecahkan. Beranilah untuk bermimpi setinggi dan seluas angkasa!”

    “Itulah seni dari pekerjaan saya sebagai penerbang perempuan.” Seperti caranya untuk berkarier tanpa batas bahkan dalam mengisi posisi pekerjaan yang awalnya tipikal didominasi pria, “Orientasi hanyalah barrier mental yang harus kita pecahkan. Beranilah untuk bermimpi setinggi dan seluas angkasa!”


    Vania Radmila Alfitri


    Sebagai iOS Engineer di perusahaan teknologi, Vania menjalani perannya dengan moto “working in tech means learning all the time”. Karena profesi ini memerlukan kedisiplinan dan mental tinggi untuk terus belajar demi bisa keep up dengan perkembangan yang berjalan cepat di bidang IT. Apalagi ia bertugas sebagai app developer yang bertanggung jawab dalam pengembangan fitur aplikasi Gojek untuk iPhone, dan lebih dari itu, bertanggung jawab atas development dan inovasi untuk fitur-fitur baru yang dikeluarkan iOS.

    Oleh karenanya, Vania memiliki kiat kreatif untuk mengembangkan kemampuan sebagai engineer dan mempelajari craft yang dihasilkannya. “Engineering is like art, engineers are like artist,” ungkapnya. Jadi setidaknya, setiap minggu Vania akan meluangkan lima jam di luar jam kantor untuk benar-benar membuat aplikasi-aplikasi kecil yang melatih caranya berpikir dan mempelajari hal baru. Selain itu, Vania juga bergerak dalam mendorong perempuan agar bisa berkarier tanpa batas melalui gagasannya untuk Generation Girl, yaitu organisasi non-profit yang bertujuan untuk mengenalkan bidang STEM pada perempuan bahkan sejak usia dini.

    “Working in STEM is not scary. Tidak menakutkan dalam arti untuk menghilangkan persepsi bahwa bidang ini hanya untuk pria saja."

    Working in STEM is not scary. Tidak menakutkan dalam arti untuk menghilangkan persepsi bahwa bidang ini hanya untuk pria saja. Dari Generation Girl, diharapkan akan banyak terlahir female role model di bidang STEM yang bisa jadi acuan bagi perempuan yang memang tertarik untuk menggelutinya,” ungkapnya. Maka dari itu, Generation Girl tidak hanya dirancang untuk mengajarkan hard skill, melainkan juga soft skill seperti percaya diri dalam mengutarakan pendapat, memberikan presentasi, dan kemampuan berkomunikasi dengan tim.

    Persis seperti yang ingin ia sampaikan bahwa passion adalah hal yang mengantarkan langkahnya untuk terus mengejar karier di bidang IT. Namun curiosity yang menjadi kontributor terbesar dalam penemuan passion dan posisinya sekarang, “Saya berharap akan lebih banyak lagi perempuan Indonesia yang dapat menemukan passion di STEM, dan dapat berkontribusi pada negara tercinta kita ini.”


    (Artikel ini pernah dimuat dalam majalah Cosmopolitan Indonesia edisi Oktober 2019 / Givania Diwiya / FT / Image: Courtesy of Jane A. Nawilis; Neneng Goenadi; Tania Artawidjaya; Vania Radmila Alfitri / Layout: S. Dewantara / Opening Image: cottonbro from Pexels)