Love & Sex

6 Cara Mengatasi Rasa Cemburu dalam Hubungan

  by: Givania Diwiya Citta       17/3/2020
  • Halo, selamat datang di artikel ini: Cosmo ingin bilang bahwa rasa cemburu di dalam hubungan itu sangat normal… setidaknya harusnya begitu. Penasaran siapa yang sedang di-chat oleh sang S.O.? Kamu berhak merasa begitu. Menuduh mereka selingkuh karena kamu menemukan seorang figur yang mirip dengan mantan mereka di Instagram mereka? Di poin ini kamu salah. Ada jalan yang benar dan ada juga jalan yang salah untuk mendefinisikan rasa cemburu dalam hubungan.


    Robert L. Leahy, PhD, penulis The Jealousy Cure, mengungkapkan bahwa rasa cemburu timbul di mana pun. “Rasa cemburu akan menjadi bagian dari hubungan Anda dalam berbagai waktu, dan jika Anda menyangkalnya, Anda tak akan bisa menghadapinya dengan baik-baik,” ujarnya.




    Jadi, jika kamu merasa insecurity tiba-tiba menyerang saat kamu melihat orang lain memandangi S.O. seolah kamu merasa kamu *tidak* tampak berada di sampingnya, berikut adalah enam cara untuk mengontrol monster kecil ‘cemburu’ secara sehat, menurut Leahy.


    1. Bersikap suportif terhadap perasaan satu sama lain.

    Jika kamu bisa mengakui bahwa cemburu itu natural, maka ingatlah bahwa secara ekual sang S.O. bisa merasakannya juga. Percayalah, kamu pasti tidak ingin juga ditanyakan bertubi-tubi mengapa kamu tidak mengabari mereka jika pulang lebih larut, seperti kamu pernah melakukannya pada mereka. “Saat berada dalam hubungan penuh komitmen, Anda mengorbankan beberapa kemerdekaan,” ujar Leahy. “Anda punya tanggung jawab terhadap perasaan orang lain.”



    Artinya: Cara paling buruk untuk menghadapi pasangan yang cemburu adalah bilang pada mereka, “Ini kan masalah kamu!” atau “Aku tidak pernah melakukan apa pun!”


    “Atasilah dengan cara bicara yang nyaman, dan jika Anda merasa bahwa rasa cemburu adalah wujud dari frustasi, respons yang bisa divalidasi seharusnya adalah dengan berkata, ‘Saya mengerti perasaan ini timbulnya dari mana’.” Kamu harus bisa menenangkan diri untuk menyimak cara apa saja yang bisa membuat pasangan merasa lebih mudah untuk mengungkapkan pikirannya, dan putuskanlah cara apa yang bisa dilakukan bersama. Tapi janganlah berharap menerima imbalan, ya.


    2. Ketahuilah bahwa rasa cemburu (dalam dosis kecil) merupakan pertanda baik.

    Rasa cemburu tidak terjadi tanpa alasan. Sering kali, rasa ini bisa timbul karena pasangan menyukai foto bikini mantannya. “Saat Anda awal-awal berkencan dengan seseorang, Anda tak perlu terlalu berinvestasi agar hubungan tidak berakhir,” ujar Leahy. “Saat hubungan mengalami progres dan Anda merasa semakin terkoneksi, Anda pasti akan lebih mudah cemburu dalam hubungan. Pasangan bisa merasa cemburu karena menganggap bahwa hubungan ini penting.”



    Jika kamu sudah berkomitmen dengan seseorang yang spesial ini, kamu pasti akan terpapar rasa cemburu, tak peduli kamu setenang dan serasional apa. Tapi itu adalah pertanda baik, karena artinya kamu peduli dengan kesuksesan hubungan ini. Saat bisa mengenali lalu menerima bahwa timbulnya rasa cemburu itu normal, lalu bisa move on dari rasa cemburu tersebut, merupakan hal yang lebih sehat dibanding menekan diri dan berpura-pura hal kecemburuan itu tak pernah terjadi.


    3. Luangkan waktu untuk menghadapi rasa cemburu.

    Jika kamu merasa amat cemburu terhadap rekan kerja pasangan, atau mantan kekasihnya (padahal tahu 1000% bahwa sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan), maka ada beberapa latihan yang bisa kamu praktikkan.


    “‘Jealousy time’ adalah sebuah janji temu seseorang dengan pikiran cemburu mereka,” ujar Leahy. “Jika Anda memiliki pikiran cemburu yang selalu muncul pukul 10 pagi, maka tuliskanlah apa saja, dan hadapi saat jealousy time dimulai.”


    via GIPHY




    Pada dasarnya, jealousy time adalah waktu selama 20 menit untuk kamu berkonsentrasi penuh pada perasaan sendiri, lalu kamu harus move on dari sana. “Saat Anda meluangkan waktu untuk menghadapi rasa cemburu, Anda akan merasa tak perlu lagi harus gelisah tentang hal itu, atau bahkan menyadari bahwa pikiran-pikiran itu hanyalah pemikiran yang sama yang terus-terusan Anda alami berulang-ulang,” Leahy menambahkan.


    Dan kalau kamu ingin melangkah lebih jauh, kamu bisa melakukan apa yang Leahy sebut sebagai “boredom technique” – yaitu mengulang-ulang selama 10 menit pikiran seperti ‘pasangan saya bisa saja menyelingkuhi saya’ sampai kamu benar-benar bosan dengan pikiran itu. (Lagi-lagi, hal ini hanya bisa berhasil jika kamu cukup percaya diri bahwa pasangan kamu setia dan tak ada bukti terhadap perasaan cemburu kamu.)


    4. Rendahkan ekspektasi kamu.



    Jika kamu meyakini bahwa pasangan melakukan kesalahan besar jika mereka bisa tertarik dengan orang lain, mungkin kamu perlu mengetes kembali inti keyakinan kamu, saran Leahy. Tentu sangat natural jika kita menganggap orang lain menarik, tapi yang salah adalah jika kita beraksi untuk memenuhi rasa ketertarikan tersebut. “Pemikiran bahwa ada aturan tak boleh tertarik dengan orang lain itulah yang membuat rasa cemburu kuat timbul,” ujar Leahy. Itulah mengapa jika kamu terlalu meninggikan idealisme romantis terhadap sang S.O., kamu akan terpapar oleh rasa cemburu dalam level yang...amat tinggi.


    5. Mengevaluasi kembali kebiasaan beracun.



    Aksi-aksi yang kamu kira akan menenangkan kamu (seperti menginterogasi pasangan, mengecek ponsel pasangan, menguntit mantan mereka di media sosial), sebenarnya hanya akan membuat kamu merasa semakin gelisah jika kamu tak bisa menemukan ‘bukti’. “Strategi seperti ini hanya akan menjauhkan orang yang sesungguhnya sudah terkoneksi dengan Anda,” ujar Leahy. Dan meski Leahy mengakui bahwa, ya, terkadang pasangan bisa berbohong pada kamu, dan kamu tak akan pernah tahu apakah mereka selingkuh atau tidak kecuali dari menatap semua pesan dalam Facebook mereka, kamu tetap harus memastikan bahwa ‘pengawasan’ kamu ini tak menjadi habit yang perlahan mengambil alih hidup kamu.


    6. Ketahuilah bahwa pengkhianatan tak akan mematikan kamu.

    “Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang takut diri mereka tak punya alternatif lain jika sebuah hubungan berakhir, adalah mereka yang akan lebih mudah terpapar oleh rasa cemburu,” ujar Leahy. Ketergantungan terhadap pasangan membuat hubungan jadi absolut tak boleh gagal dalam pikiran, hingga bisa lebih menimbulkan rasa obsesi untuk menghindari semua ancaman.



    Rasa cemburu bisa membantu kamu memahami apakah pasangan merupakan seseorang yang berharga bagi kamu, atau justru membantu kamu mengenali potensi bendera merah. Yang tak bisa dilakukan oleh rasa cemburu adalah mencegah secara penuh pasangan kamu mengirimi DM menggoda atau bahkan selingkuh dengan rekan kerja mereka. Yang bisa kamu lakukan adalah mengkomunikasikan kekhawatiran kamu, dan memastikan bahwa rasa cemburu tak mengonsumsi kamu. Yang lainnya, memang merupakan hal-hal yang tak bisa kamu kontrol – tapi kamu pasti bisa bertahan melewatinya, kok.


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa: Givania Diwiya / Image: sobhan joodi from Pexels)