Better You

Segala Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Social Distancing

  by: Shamira Priyanka Natanagara       18/3/2020
  • Pada hari Minggu (15/03) kemarin, Presiden RI Joko Widodo mengimbau masyarakat Indonesia untuk melakukan aktivitas dari rumah jika memungkinkan untuk meminimalisir penularan virus corona (COVID-19), yang akhir-akhir ini semakin meningkat di Indonesia. Dan jika masih harus ke luar rumah, Presiden Joko Widodo mengimbau masyarakat untuk menerapkan social distancing.

    Mendengar imbauan tersebut, Cosmo menganggukkan kepala. Well, social distancing adalah metode yang baik untuk menghentikkan penularan COVID-19, bukan? Dan Cosmo cukup yakin banyak masyarakat Indonesia pun memiliki pemikiran yang sama… sampai Cosmo menemukan beberapa orang yang justru ingin memanfaatkan masa social distancing untuk berlibur ke luar kota atau nugas di kafe. Hmm... 

    Sebenarnya, apa sih arti dari social distancing? Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama social distancing? Dan apakah metode ini benar-benar efektif untuk menghentikan penyebaran COVID-19? Jika kamu belum tahu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut, we got you. Berikut adalah segala hal yang perlu kamu ketahui tentang social distancing.



     

    Apa itu social distancing?

    Pada dasarnya, social distancing adalah metode pengurangan penularan penyakit, dengan tujuan untuk sepenuhnya menghentikan penyebaran penyakit tersebut, dengan mengurangi kontak dengan orang lain. Mungkin kamu, teman-temanmu, dan rekan kerja yang biasanya kamu temui setiap hari baik-baik saja, tapi menjaga jarak dengan sesama dapat menurunkan kemungkinan penularan penyakit. Plus, orang yang sakit tidak melulu menunjukkan gejala, jadi ada baiknya kamu melakukan social distancing untuk berjaga-jaga. 

    Kalau belum paham, coba simak video berikut ini:



    Ketika korek api yang terbakar berdiri terlalu dekat dengan korek api yang tidak terbakar, tentu api dari korek api yang terbakar akan ikut menyalakan korek api yang tidak menyala, bukan? Namun saat diberi lebih banyak jarak, api tak akan bisa mempengaruhi korek api yang belum terbakar. 

    Anggaplah setiap korek api adalah manusia—korek api yang terbakar adalah manusia yang mengidap virus corona, sedangkan korek api yang tidak terbakar adalah manusia yang sehat. Dengan menjaga jarak, kamu bisa aman dari “api” yang mudah menyebar. Dan dengan menjaga jarak pula kamu bisa menghentikan penyebaran “api” di lingkunganmu—setidaknya di tempat tinggal, kantor, atau sekolahmu. 

     

    Apakah social distancing metode yang efektif? 

    Sempat melihat hashtag #Patient31 di media sosial? Tagar tersebut muncul karena pembahasan tentang pasien COVID-19 ke-31 di Korea Selatan. Pada pertengahan Februari lalu, Korea Selatan hanya memiliki 30 pasien corona, kemudian mengalami peningkatan drastis akibat pasien ke-31.



    Berdasarkan laporan Reuters, pasien ke-31 mengalami demam tinggi pada 15 Februari dan disarankan untuk diperiksa. Namun ia menolak, dan justru tetap bersosialisasi di luar rumah seperti biasa. Pada 17 Februari, sang pasien akhirnya mengunjungi rumah sakit untuk diperiksa, dan keesokan harinya dinyatakan positif COVID-19. Namun pasien ke-31 dikabarkan telah menghadiri pertemuan gereja sebelum dinyatakan positif COVID-19, sehingga ia telah berkontak dengan banyak orang, dan alhasil jumlah kasus virus corona di Korea Selatan meningkat secara drastis.

    So, pelajaran yang bisa diambil dari pandemi corona di Korea Selatan: social distancing helps! Jangan menjadi pasien ke-31, apalagi jika kamu mengalami gejala COVID-19. Segera kunjungi dokter jika merasa sakit, dan kurangi kontak dengan orang lain agar bisa membantu mengurangi penularan COVID-19.

     



    Apakah social distancing sama dengan karantina?

    Menurut organisasi AS National Public Radio, social distancing dan karantina adalah dua hal yang berbeda. Menjalani masa karantina berarti kamu tidak diizinkan untuk pergi ke mana pun—harus menetap di satu lokasi selama jangka waktu tertentu. Contohnya, ratusan WNI yang dipulangkan dari Cina ke Indonesia pada bulan Februari lalu harus menjalani masa karantina di Natuna, Kepulauan Riau terlebih dahulu sebelum kembali ke tempat tinggal mereka. Selama masa karantina tersebut, mereka tidak boleh meninggalkan Natuna agar kesehatan mereka bisa diamati. 



    Di sisi lain, social distancing terbilang lebih fleksibel daripada karantina. Social distancing bukan berarti sama sekali tidak boleh bertemu orang lain dan tidak boleh pergi ke luar rumah, tapi mengimbau orang untuk menjaga jarak dengan satu sama lain, mengurangi kontak dengan orang lain, dan menghindari keramaian.

     

    So… apakah boleh pergi ke luar rumah ketika social distancing?

    Boleh, kok! Tapi jika tidak ada keperluan yang mendesak (seperti membutuhkan perawatan medis), mengapa harus pergi ke luar? Mengingat penyebaran COVID-19 di Indonesia semakin meningkat belakangan ini, sebaiknya berpikir dua kali sebelum ke luar rumah. 

    Dan jika kantor atau sekolahmu menerapkan kebijakan work from home atau online learning, maka lakukan pekerjaan dari rumah saja, jangan malah nugas di kafe kesayangan (kecuali ada emergency, seperti WiFi rusak). Saat ini berada di dalam rumah adalah sebuah privilese. Tidak semua orang diizinkan untuk work from home atau online learning, jadi kalau diperbolehkan untuk social distancing semaksimal mungkin, why not? Lakukan apa yang kamu bisa untuk membantu sesama.



    Sedangkan untuk kamu yang masih harus pergi ke kantor atau sekolah, gunakan masker untuk berjaga-jaga, kurangi kontak dengan orang lain, dan jaga jarak minimal satu meter dari orang lain, ya! 

    Ingat: tujuan utama social distancing adalah untuk memutuskan rantai penularan penyakit, dan tak akan efektif jika kamu tidak menghindari keramaian. Jika memungkinkan, Cosmo sarankan kamu melakukan segala hal #DiRumahSaja, deh!


     

    (Shamira Natanagara / Ed. / Opening image: bruce mars on Unsplash / Images: Dok. Instagram, GIPHY)