Love & Sex

Sebelum Menikah, Pastikan Kamu Sudah Siap dengan 4 Hal Ini

  by: Alvin Yoga       27/3/2020
  • Relationship expert sekaligus love coach asal Inggris, Matthew Hussey, memberi masukan sebelum kamu berkata “Yes, I do” pada lamaran dari si dia. Perhatikan dengan baik empat pertanyaan di bawah ini, ya girls! Kalau kamu menjawab keempat pertanyaan di bawah dengan jawaban ya secara lantang, then proceed.


    1. “Apakah kami memiliki cara hidup yang sama?”

    Kamu lebih suka tinggal di tempat yang lebih tenang, tapi ia suka dengan keramaian kota. Kamu tak masalah berada di kamar yang dingin, namun ia tak suka berada di tempat dengan suhu yang dingin. Kamu suka menghabiskan waktu dengan berolahraga saat akhir pekan, di sisi lain si dia cuma ingin menonton Netflix seharian. Kamu ingin hidup nyaman di sebuah rumah yang jauh dari kebisingan, si dia ingin bolak-balik backpacking ke Amerika Selatan. Kamu terorganisir dan meja kerjamu rapi, si dia punya moto: “Hiduplah seakan ini adalah hari terakhirmu.”



    Catat: mempertahankan hubungan cinta untuk waktu yang cukup lama bukanlah suatu hal yang mudah. Dan, percayalah, akan jauh lebih sulit nantinya jika kalian memiliki terlalu banyak perbedaan dalam memandang hidup. Pastikan si dia adalah pria yang setidaknya menyukai gaya hidupmu, jadi kamu tak perlu bertengkar soal hal sepele seperti seberapa besar ruang dapur kalian nantinya.


    2. “Apakah saya bisa menerima si dia di saat-saat terburuknya?”

    Ini PENTING. Apakah si dia suka melempar barang ketika sedang marah? Atau, apakah si dia termasuk pria yang posesif dan mudah cemburu? Apakah ia suka memukul atau mengeluarkan kata-kata kasar ketika kalian bertengkar? Atau, apakah si dia membuat kamu bertanya-tanya, “pria seperti inikah yang saya cintai”?

    Beberapa orang berkata: “Pada akhirnya cinta akan membuatmu menerima si dia apa adanya – termasuk seluruh kekurangannya”. Menurut saya, hal itu gila. Semisal, kalian berdua sedang mengalami masa-masa yang sulit. Selain harus memutar otak untuk mencari jalan keluar, kamu juga harus bergelut dengan sifat mudah marahnya – yang merupakan sisi terburuknya. Di saat-saat sulit seperti ini, si dia seharusnya menjadi seseorang yang paling bisa kamu percayai, yang mendukung kamu dengan segala yang ia punya, dan bukan membuat kamu mempertanyakan keberadaannya.




    3. “Di mana saya ingin tinggal?”

    Kalau kamu memiliki keinginan untuk tinggal di negara lain atau di kota lain, maka pastikan ia mengetahui keinginanmu, lengkap beserta alasannya. Jika sepertinya ia terlihat kurang setuju, maka tanyakan apa yang mengganggu pikirannya. Yes, relationships are all about compromise. Pastikan kompromi ini adalah sesuatu yang bisa kalian setujui bersama, dan sebaiknya jangan buat salah satu dari kalian harus merelakan kebahagiannya demi kebahagiaan pasangannya.


    4. “Apakah kami saling meminta maaf jika melakukan kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya?”

    Suatu hubungan cinta tak akan bisa bertahan jika hanya satu pihak saja yang mengusahakannya. Kedua belah pihak harus mau melihat kekurangan mereka dan (meski sulit) mau menekan harga dirinya apabila berbuat salah dengan meminta maaf. Ini adalah hal yang paling DASAR dalam sebuah hubungan, dan menunjukkan bahwa kalian berdua siap membangun rumah tangga dengan cara yang lebih dewasa. Jika pasanganmu tak mau mengakui kesalahannya dalam argumennya, atau menambahkan terlalu banyak kata “tapi...”, masa depan kalian akan sesulit mendaki gunung sambil menggendong batu besar.


    Bagaimana, apakah kamu sudah siap berkata,"Yes, I do"? Atau apakah ada hal lain yang harus kalian bicarakan terlebih dahulu?

    (Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Vitor Pinto on Unsplash)