Better You

Tak Melakukan Apapun Hari Ini? Tak Apa, Itu Bisa Dimengerti

  by: Alvin Yoga       5/3/2021
  • Semua orang tahu bahwa kita sedang hidup dalam masa-masa yang sulit, yang penuh dengan ketidakpastian, dan belum pernah terjadi sebelumnya. Pandemi COVID-19 mengubah segalanya. Beberapa kota terbesar dan tersibuk dunia bahkan tak lepas dari dekapan COVID-19—membikin kehidupan yang tadinya penuh ingar bingar, kini bungkam di tengah lockdown. Tak sedikit pula industri yang kini ikut terhenti, dan yang masih bertahan mau tak mau terseok-seok dengan adanya perubahan di sana-sini. Milenial, yang kini dikenal sebagai Generasi Burnout, terpaksa mendekam di dalam rumah. Mereka yang masih berstatus pekerja, berjuang setengah mati demi mempertahankan jumlah uang di dalam rekening, meski terkadang tak sadar dirinya berusaha terlalu keras. Sedangkan mereka yang kurang beruntung (aka diberhentikan dari pekerjaan) hanya bisa berharap mendapatkan secercah harapan. Entah kamu masih bekerja atau tidak, satu hal yang pasti: kamu tak bisa dengan leluasa meninggalkan rumah. Untuk yang pertama kalinya, kita merasa rindu akan dunia luar sekaligus enggan meninggalkan rumah.

    Di awal masa karantina, saya sempat berpikir bahwa, "Wow, bekerja di rumah berarti saya akan punya lebih banyak waktu untuk beristirahat dan pasti akan lebih santai!" Karena, well, saya tak perlu menghabiskan banyak waktu di jalan untuk berangkat dan pulang dari kantor—yang bisa memakan waktu hingga 4 jam sehari. Namun yang (umm, sebenarnya tidak) mengejutkan, isi feed media sosial saya terus dibanjiri dengan 'devosi' khas generasi milenial dan gen-Z, yang terus menerus mengunggah pekerjaan mereka di media sosial seakan-akan 'workaholism' adalah suatu hal yang normal, yang memuja 'lembur' sebagai suatu prestasi, dan yang terus menerus membuat kita merasa bahwa jika kita tidak menunjukkan performa tertentu di kantor, maka mungkin kita tidak cocok untuk posisi tersebut. Dengan kata lain, setiap orang berlomba untuk mendemonstrasikan dedikasi mereka, serta terus berusaha untuk 'melakukan yang terbaik' di masa-masa yang penuh tantangan ini.

    Dimulai dari mendekorasi kamar atau meja kerja dengan gaya sophisticated, rutinitas self-quarantine yang produktif, hingga berbagai ajakan webinar atau kelas online dan undangan untuk meditasi, para milenial bekerja keras untuk tetap 'tampil' di media sosial dan menjaga brand personal. 'Perlombaan' ini berlangsung selama berbulan-bulan, dan sang pemenang adalah mereka yang bisa mengubah pandemi global ini menjadi suatu jadwal penuh produktivitas serta performa kerja yang pantas mendapat jempol di media sosial.





    Saya juga seorang milenial, dan saya mengaku bersalah bahwa saya sempat melakukan semua hal di atas. Sempat, namun kini tidak lagi. Sudah hampir satu tahun saya melakukan WFH, dan untuk kamu yang penasaran, begini rutinitas saya sekarang: bangun pagi, bersiap-siap, kemudian duduk di 'ruang kerja' sampai entah-jam-berapa-tergantung-jumlah-tugas-yang-harus-saya-selesaikan, tak lupa dengan berbagai pekerjaan rumah seperti mencuci piring dan menyapu kamar, dan tentu yang paling penting serial drama Korea atau tontonan Netflix sebelum tidur. Memang, suasana bekerja jadi lebih sepi karena saya bekerja dari dalam kamar, namun dengan adanya berbagai ajakan meeting, webinar, serta berbagai pekerjaan sampingan (karena siapa sih, yang tidak butuh tambahan pemasukan di masa-masa yang sulit ini), rasanya pikiran ini tetap penuh dengan gaung reminder.

    Dan ternyata, tak cuma saya yang merasakannya. Beberapa teman yang saya hubungi lewat DM di media sosial berkata bahwa, "Belakangan ini saya sangat sibuk, akan saya kabari lagi ya, jadwal untuk video call-nya" setiap kali saya mengajaknya untuk mengobrol. Tak sedikit pula yang berkata, "Oke, minggu depan kita bertemu di video call, ya!" namun pada akhirnya, "Maaf, tiba-tiba ada deadline mendadak. Minggu depan, deh, janji!" dan sampai saat ini tetap tidak ada kabarnya. Kita melempar janji-janji palsu dengan menyebutkan jadwal kosong di tengah masa yang penuh dengan 'pekerjaan mendadak' ini, dan anehnya, ketika ada yang melanggar janji tersebut, kita tidak kaget ataupun marah. Karena well, kita mengerti seperti apa rasanya.

    Suatu hari, ketika saya sedang menelepon sambil melantur dengan beberapa sahabat saya di jam 1 pagi, salah satu teman berkata, "Saya tidak bisa tidur, rasanya setiap kali memejamkan mata saya langsung teringat dengan daftar tugas yang belum saya selesaikan." Well, saya mengerti rasanya, karena belakangan ini saya pun merasakannya. Siapa yang menyangka bahwa quality time dengan diri sendiri akan menjadi suatu hal yang langka meski saya bekerja dari dalam kamar. Pandemi ini ternyata tak hanya mengubah cara bekerja, namun juga mengubah daftar prioritas: saya jadi lebih mementingkan karier dibandingkan kesehatan mental pribadi.

    Tentu ada banyak alasan mengapa saya melakukannya. Saya takut kehilangan pekerjaan, saya takut hasil pekerjaan saya tidak sesuai ekspektasi dan tidak menunjukkan kemajuan berarti, saya takut performa saya tidak sesuai dengan jabatan saya, dan yang terakhir: Saya takut untuk berkata tidak.




    Pandemi COVID-19 adalah waktu di mana semuanya penuh dengan ketidakpastian, dan meski begitu, para milenial dan gen-Z 'dipaksa' (ya, sadari itu!) untuk bersikap positif dengan tetap produktif. Untuk yang pertama kalinya, saya merasakan emosi-emosi yang tidak bisa saya jelaskan. Anxiety, rasa cemas, depresi, rasa takut, rasa gelisah sebelum tidur, dan meski dengan seluruh perasaan tersebut, saya masih merasa kurang motivasi untuk bisa menyelesaikan pekerjaan. Dan pada akhirnya, saya hanya punya satu pilihan: saya pun menangis. "Mengapa saya tidak bisa menulis satu kalimat lengkap, padahal saya adalah seorang penulis?" Pernahkah kamu merasakannya?

    Saya akhirnya menyadari: Kita dipanggil sebagai Generasi Burnout bukannya tanpa alasan; kita berada dalam era di mana seluruh bentuk koneksi menjadi lebih cepat dan lebih mudah dengan adanya internet, sehingga tak ada lagi alasan untuk 'switch off'. Work-life balance adalah konsep yang...asing di mata saya, dan saya tak menyadari bahwa saya telah bekerja overtime—karena menurut saya normal-normal saja untuk membalas pesan WhatsApp di akhir pekan, atau di malam hari dari atas tempat tidur, atau justru di pagi hari ketika saya baru saja membuka mata. Saya tak tahu apakah kamu juga ikut merasakannya, namun saya telah bekerja tanpa henti untuk membangun karier saya sehingga profil LinkedIn saya tetap terlihat menarik. Kita terbiasa untuk bekerja keras; menerima jam kerja di luar batas untuk gaji yang tidak seberapa serta benefit yang minim. Apakah mendapatkan pekerjaan penuh-waktu membuat semuanya jadi lebih baik? Jujur saja tidak, rasanya seperti Hunger Games, di mana hanya mereka yang menunjukkan performa yang mampu bertahan. Tambahkan tuntutan tersebut dengan keadaan media sosial yang penuh dengan 'kehidupan sempurna', maka tak aneh jika saya akhirnya burnout. Ya, saya akui itu: burnout.

    Sulit mengakui bahwa saya akhirnya perlu beristirahat dan mengambil waktu untuk diri sendiri. Karena saya terbiasa untuk menyibukkan diri dan buruknya, banyak dari kita yang menggunakan kesibukan tersebut layaknya suatu 'piagam kehormatan'. Menurut Tim Ferriss, seorang wirausaha, penulis "The 4-Hour Workweek", dan juga salah satu penulis best-selling versi New York Times, "Kesibukan sebenarnya merepresentasikan kurangnya kontrol terhadap jadwal keseharian dan menunjukkan bahwa, sejujurnya, kamu kurang produktif." Jadi mengapa kita terus menerus mengejar 'piagam kehormatan' tersebut?

    Lisa Jeff, seorang CEO dan juga career-coach asal Toronto berkata, "Ketahui bahwa ini terjadi bukan karena kesalahanmu." Burnout bisa terjadi pada siapa saja. "Selalu ingat bahwa kamu harus menjadi prioritas untuk dirimu sendiri. Kamu tak bisa merelakan dirimu sendiri demi kepentingan orang lain dan berharap bahwa kamu akan merasa bahagia karenanya. Kamu hanya bisa memberikan yang terbaik ketika kamu sudah bisa memprioritaskan dirimu sendiri," tambahnya.

    Satu hal yang bisa saya pelajari dari hal ini: Masa-masa social distancing ini menjadi momen panjang di mana saya bisa merefleksi diri, memulihkan diri dan memikirkan kembali perspektif hidup, termasuk ambisi dan juga goal saya di masa depan. Saya akan tidur siang jika saya merasa mengantuk, dan jika saya merasa tak ingin melakukan apa-apa, maka saya tak akan melakukan apa-apa. Saya akan tetap produktif dan bersikap positif—namun tentu setelah saya memprioritaskan diri saya terlebih dahulu. Seperti yang sering kita dengar: This is pandemic, not a productivity contest.

    (Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Ava Sol on Unsplash)