Beauty

Unilever Hapus Kata 'Normal' dari Kemasan & Iklan Produk Kecantikan

  by: Shamira Priyanka Natanagara       10/3/2021
  • Unilever, perusahaan pemilik sejumlah brand ternama, di antaranya Dove, Vaseline, dan Sunsilk, mengumumkan akan berhenti menggunakan kata 'normal' pada kemasan serta pemasaran produk kecantikan dan perawatan.

    Di industri kecantikan, kata 'normal' sendiri umumnya digunakan untuk mendeskripsikan tipe dan kondisi rambut serta kulit—kulit dan rambut yang tidak terlalu kering dan tidak terlalu berminyak seringkali disebut 'normal'. Kenyataannya, semua tipe dan kondisi kulit serta rambut seseorang (seperti jerawa dan ketombe) adalah hal yang normal terjadi, bukan?

    Inisiatif ini merupakan bagian dari Positive Beauty, kampanye baru yang dicetuskan oleh perusahaan multinasional tersebut, dengan tujuan untuk membangun "era kecantikan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan."



    Dalam pernyataan yang diunggah pada 9 Maret kemarin, Unilever menjelaskan, "Dalam sebuah survei baru terhadap 10.000 orang di sembilan negara [US, Brazil, UK, Nigeria, Afrika Selatan, Arab Saudi, India, Indonesia, dan Cina], tujuh dari 10 orang mengatakan bahwa kata 'normal' pada kemasan produk kecantikan memilik efek negatif terhadap orang. Angka ini meningkat menjadi delapan dari 10 di antara usia 18 - 35 tahun."



    "Dengan satu milyar orang menggunakan produk kecantikan dan perawatan kami setiap harinya, dan bahkan lebih banyak melihat iklan kami, brand kami memiliki kekuatan untuk membuat perubahan nyata pada hidup orang-orang," kata Sunny Jain, Presiden Unilever Beauty & Personal Care. Ia mengaku bahwa menghapus kata 'normal' saja tak akan menjadi solusi, tapi berharap upaya ini bisa mengurangi dampak buruk norma dan stereotip yang tertanam di dunia kecantikan.





    Selain menghapus penggunaan kata 'normal' pada produk kecantikan dan perawatan, Unilever juga "berkomitmen untuk menghentikan semua perubahan digital yang mengubah bentuk, ukuran, dan proporsi tubuh atau warna kulit seseorang", serta akan menampilkan lebih banyak orang dari kelompok beragam dan kurang terwakili dalam pemasaran brand.

    Kesadaran akan inklusivitas di dunia kecantikan semakin meningkat. Pada akhir tahun 2020, merek kecantikan lokal BLP Beauty memperluas rangkaian foundation dengan menambahkan lebih banyak opsi warna untuk kulit gelap, menanggapi kritik para konsumen yang mengatakan pilihan shades alas bedak dari label kecantikan lokal kurang beragam.

    Secara internasional, tahun lalu Unilever mengubah nama dari salah satu merek skincare mereka—'Fair & Lovely' menjadi 'Glow & Lovely'. Nama merek tersebut kerap dikritik karena mendukung steretotip 'cantik itu putih', sehingga kata 'fair' (terang) diganti menjadi 'glow' (sinar). 


    (Shamira Natanagara / Ed. / Opening Image: Dok. Instagram/dove, Instagram/vaselineid)