Better You

Ciri-ciri Kamu Mengalami Burnout, Sindrom Kelelahan Bekerja

  by: Kissy Aprilia       15/3/2021
  • Cosmo tahu bahwa kondisi ini terasa sangat sulit. Ketika semua pekerjaan semakin intens, tetapi tubuh ini sudah kehabisan energi dan motitivasi, sampai-sampai mulai mengalami burnout.

    Sindrom burnout dijelaskan pertama kali oleh psikolog bernama Herbert Freudenberger pada tahun 1974. Freudenberger mendefinisikan sindrom ini sebagai kondisi kelelahan yang disebabkan oleh tekanan dalam pekerjaan.  

    Menurut hasil penelitian dari Program Studi Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 83 persen tenaga kesehatan di Indonesia mengalami sindrom burnout tingkat sedang dan berat yang telah berdampak pada kualitas hidup serta produktivitas kerja selama pandemi tahun 2020. Sementara itu, survey dari platform ketenagakerjaan online global bernama Monster, 69 persen pekerja yang mengalami burnout sedang menerapkan sistem work from home



    Well, kita sudah menjalankan sistem work from home selama satu tahun. Bagaimana kabar kalian, girls? Dan karena kamu dapat mengejar deadline sambil berbaring di kasur atau menikmati cocktail favorit sambil mengejar deadline, mungkin kamu kesulitan untuk menemukan ciri ciri sindrom burnout. Here it is… 


    Mood berubah-ubah

    Jika kamu mengalami perubahan mood (suasana hati) secara intens, mulai dari mudah tersinggung, demotivasi, sedih, bahkan kemarahan yang meledak-ledak, itu artinya kamu sudah kehabisan cara untuk mencari strategi dalam menghadapi stress. 

    Meskipun kondisi ini masih tergolong normal dalam batasan tertentu, tapi jika mulai terjadi secara signifikan dan lebih sering, coba beri perhatian khusus untuk diri sendiri. Kamu mungkin mulai mengalami burnout.


    Tingkat kecemasan bertambah

    Rasa khawatir berlebih adalah gejala utama kecemasan yang berkaitan dengan burnout. Sejujurnya, selalu berpikir ‘bagaimana jika?’ benar-benar melelahkan fisik dan mental. Kalau kamu terlalu mengkhawatirkan banyak hal dan terjebak dalam pertanyaan tersebut, inilah saatnya untuk beristirahat sejenak dan melihat kondisi kecemasan yang kamu alami sebagai peringatan untuk menyesuaikan diri. 


    Perubahan waktu tidur

    Penelitian menunjukan bahwa sebagian besar orang tidur selama 7-8 jam setiap malam. Kesulitan tidur, terlalu lama tidur, atau bangun lebih awal dari biasanya adalah salah satu tanda burnout. 



    Stres yang dialami secara terus menerus meningkatkan produksi hormon kortisol yang memicu dampak buruk pada siklus tidur. Sejumlah peneltiian juga menunjukkan bahwa stress berkaitan dengan perubahan kadar melatonin, zat kimia dalam tubuh yang meningkatkan rasa kantuk. 


    Menarik diri dari kehidupan sehari-hari

    Kondisi ini dapat terlihat di berbagai aspek, mulai dari hilang ketertarikan dalam menjalani rutinitas sehari-hari, tidak ingin bersosialisasi, menghindari orang lain atau bahkan merasa takut untuk berinteraksi. Sementara itu, berkurangnya aktivitas ‘normal’ dan menghabiskan waktu lebih banyak di rumah membuat kita sulit untuk kembali terlibat dengan kehidupan ‘nyata’.


    Menjalani kebiasaan buruk

    Kondisi burnout benar-benar membuat perasaan tidak nyaman dan tidak menyenangkan. Karena itu, wajar jika kamu melakukan berbagai cara untuk menenangkannya. Tapi jika cara yang kamu terapkan sudah di luar batas, seperti meningkatnya konsumsi alkohol, obat-obatan, makanan, atau bahkan belanja hanya untuk sarana ‘pengobatan’, ini menjadi tanda bahwa kamu mengalami burn out.


    Kesehatan fisik terganggu

    Sulit rasanya memisahkan kesehatan fisik dan mental. Ketika ‘burnout’ mulai terwujud, kondisi ini akan mengganggu kesehatan secara umum. Biasanya, kamu mengalami sakit kepala, tekanan darah tinggi, masalah lambung, dan masalah lainnya yang terkait dengan kardiovaskuler (gangguan pada jantung dan pembuluh darah). Ingat: tubuh manusia dapat menghitung tingkat stres, jadi selalu dengarkan apa yang tubuh ingin katakan kepadamu.


    (Kissy Aprilia, images: Unsplash)