Celebrity

Nadine Alexandra Dan Visinya tentang Mendorong Kekuatan Perempuan

  by: Givania Diwiya Citta       19/3/2021
  • Masih dalam rangka memperingati Women’s History Month sepanjang bulan Maret, aktor sekaligus environmentalist Nadine Alexandra mengungkapkan visinya tentang cara agar kita bisa bersama-sama mendorong kekuatan yang sesungguhnya dimiliki oleh perempuan, dan kiatnya agar kita – para generasi penerus dunia – mampu maju menuju kesetaraan bersama-sama. So empowering!


    Dalam memperingati Hari Perempuan Internasional dan Women’s History Month pada bulan Maret, bagaimana cara kamu memaknai dan merayakan momen yang didedikasikan untuk perempuan ini?

    

Sejak pertama kali Women’s March diadakan di Jakarta, setiap 8 Maret saya pasti ikut. Bagi saya, Hari Perempuan Internasional adalah hari di mana kita memperingati para perempuan yang dulu memperjuangkan hak-hak yang sekarang dianggap biasa/normal. Ini juga hari yang berfungsi sebagai pengingat kalau perjalanan menuju kesetaraan gender masih panjang, karena masih banyak sekali contoh ketidakadilan, diskriminasi, dan kekerasan berbasis gender. 







    Bagaimana kamu mendeskripsikan kekuatan sesungguhnya dari seorang perempuan?

    Menurut saya, kekuatan perempuan datang dari pengalamannya selama berada dan menghadapi dunia yang patriarkal. Sejak kecil, perempuan sering dianggap tidak memiliki kemampuan yang sama dengan rekan laki-lakinya. Persepsi yang salah terhadap perempuan inilah yang selalu menambah kendala dari segala segi hidup, termasuk sosial dan profesional, hingga memaksa kita untuk berjuang lebih keras lagi. Menjalani hidup sebagai perempuan yang terus-menerus berhadapan dengan diskriminasi telah menanam ketangguhan kita. Kekuatan kita adalah resilience.


    Menurut kamu, apa aksi kecil yang perempuan bisa lakukan untuk menjadi berdaya dan mampu membuat impact, baik bagi dirinya sendiri, lingkungannya, hingga komunitasnya? 



    Pertama-tama, treat other women the way you want to be treated. Tanpa penilaian, tanpa penghakiman, dan dengan hormat. Budaya dan masyarakat mengajari perempuan untuk bersifat misoginis terhadap satu sama lain. Ketika kita berhenti mengomentari pilihan perempuan lain, kita melakukan aksi kecil untuk melawan status quo yang sudah lama merugikan perempuan. Pelan-pelan, impact dari aksi kecil itu akan mulai dirasakan secara luas. Kemandirian finansial juga sangat amat penting. Jadi kalau memungkinkan, mulailah menabung!



    Ilustrasi oleh Theresia Agustina Sitompul.


    Apa saja hal-hal yang kamu lakukan untuk diri sendiri agar selalu merasa berdaya dan kuat? 

    Buat saya, olahraga adalah salah satu cara agar saya merasa kuat. Dampak positifnya pun jelas banyak, bukan hanya untuk fisik, tapi juga untuk kesehatan mental. Meditasi Buka Hati juga sangat membantu saya merasa berdaya, terutama dalam situasi profesional di mana dulu saya selalu mengalah karena punya perasaan “tidak enakan”, atau takut kalau tidak mengalah, maka saya akan dihadapkan dengan retribusi profesional. Sebagai perempuan, sudah tidak asing lagi dengan perasaan tidak mampu atau impostor syndrome, dan kedua contoh itu dulu mampu menimbulkan anxiety yang cukup parah bagi saya. Lewat Meditasi Buka Hati, saya mulai merasa cukup dan percaya diri, mulai merasa penuh dengan kasih sayang, dan mulai tidak takut untuk bersikap tegas mengatakan “tidak”.


    Adakah satu nasihat terbaik dari sosok mentor perempuan yang pernah kamu terima, yang kamu jadikan prinsip untuk mengarungi karier ataupun kehidupan sehari-hari kamu? 



    Sahabat saya dari kelas 4 SD, Rishika, menjadi inspirasi dan mentor saya — mungkin tanpa disadari olehnya. Tapi ia selalu mendorong saya dan memberi semangat di setiap kesempatan. Melihat bagaimana ia juga belajar untuk menjadi perempuan profesional yang tegas, meskipun dilanda oleh kekhawatirannya sendiri, sangat menginspirasi saya. Kepercayaan dirinya yang tinggi dan dedikasinya ketika melaksanakan suatu proyek, saya jadikan prinsip dalam karier dan hidup saya: Be confident and don’t hesitate. 





    Menurut kamu, faktor apa saja yang bisa membuat seorang perempuan sukses, baik dalam konteks karier ataupun kehidupan personal? 



    Mengenali diri sendiri. Dalam arti mengenali kekuatan dan kekurangan masing-masing, berekspresi secara otentik sebagai diri sejati, merasa cukup, dan percaya diri. Semua faktor ini akan sangat membantu ketika kita sedang membangun karier atau memupuk hubungan dengan teman juga pasangan. 




    Pernah menghadapi tantangan terberat dalam karier karena masih ada batasan dalam gender di bidang kerja kamu? Jika pernah, bagaimana kamu menghadapinya? 

    Sebagai seorang aktor, pekerjaan saya sangat dibentuk oleh gender saya. Dan tentunya sudah sering menghadapi diskriminasi dan batasan. Dulu, saya hanya diam saja karena takut. Ada beberapa momen hingga saya akhirnya bersuara, tapi tetap saja merasa takut. Sekarang, dengan dukungan dari perempuan lain di bidang yang sama maupun di luar, serta suami saya, akhirnya saya mulai berani mengutarakan hal-hal yang saya tidak setuju atau yang membuat saya tidak nyaman. It’s still a work in progress though. 



    Menurut kamu, mengapa penting untuk saling mendorong perempuan agar sama-sama maju? Dan apa hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan kepada sesama perempuan untuk saling memberi dukungan dan kekuatan? 



    Sebanyak 50% dari populasi adalah perempuan. Semua orang akan merasakan manfaatnya kalau semua perempuan diberdayakan. Kesetaraan gender bukan berarti kita semua akan berujung sama, melainkan memastikan bahwa setiap orang mendapatkan hak penuh, kesempatan, dan kebebasan untuk memilih. Dunia akan jauh lebih damai kalau kita semua menjalani hidup yang otentik sesuai dengan diri sejati masing-masing. Sesama perempuan pun seharusnya tidak saling menghakimi atau menjatuhkan. Seharusnya kita bisa saling menjaga agar sesama perempuan dapat menjalani hidup dengan kebebasan memilih — meskipun pilihan mereka tidak cocok dengan kita personal. In short, respect each other’s choices. Saling mendengarkan — apalagi jika ada yang bercerita tentang kejadian kekerasan seksual. Kita harus menghilangkan victim blaming, dan itu dimulai terlebih dahulu dari kalangan perempuan.


    Di era modern ini, apa yang paling kamu syukuri dari menjadi seorang perempuan? 



    Saya sangat bersyukur atas hak-hak yang diperjuangkan oleh nenek moyang kita, karena menjadi perempuan di tahun 2021 itu berarti saya punya otoritas atas hidup saya. (Lumayan) bebas untuk berkarier tanpa melawan orangtua serta masyarakat seperti dulu. 




    Saran apa yang akan kamu beri pada perempuan muda di luar sana yang baru saja 
memulai perjalanan karier serta mimpinya? 



    Mengejar mimpi atau menjalani karier pasti tidak akan mudah. Mungkin di jalan yang kita pilih, kita akan berhadapan dengan orang-orang yang masih memiliki mindset kuno tentang perempuan. Di saat-saat seperti itu, jangan menyerah. Yang membentuk masa depan adalah generasi kita dan seterusnya. Pelan-pelan tapi pasti, mindset kuno itu akan memudar, karena kitalah yang akan membangun dunia yang setara. Jangan biarkan orang lain mendikte kehidupan kalian. Do what feels right to you in your heart.


    (Givania Diwiya / FT / Illustration: Theresia Agustina Sitompul / Images: Dok. Instagram.com/nadinealexandradewi / Opening Image Layout: Severinus Dewantara)