Better You

Lelah Merasa FOMO? Yuk, Mulai Bersikap JOMO

  by: Redaksi       22/3/2021
  • Kamu mungkin sudah mengenal istilah FOMO atau fear of missing out yang merujuk pada rasa sedih, gelisah, dan tidak tenangnya seseorang ketika tidak ikut melakukan sesuatu yang sedang ramai dilakukan oleh orang lain. Setelah sekian lama, FOMO rasanya telah menjadi suatu budaya yang mulai mendarah daging pada sebagian besar anak muda. Perasaan FOMO sendiri datang dalam bentuk yang bermacam-macam. Mulai dari rasa penyesalan setelah menolak ajakan temanmu untuk pergi hangout hingga merasa berkewajiban untuk menerima semua undangan pesta dan social event yang kamu dapat, walaupun itu berarti mengorbankan waktu istirahat, kesehatan fisik, bahkan uang yang kamu miliki.


    via GIPHY





    Terdengar melelahkan, bukan? Tentu saja. Orang yang memiliki FOMO cenderung menjadi tidak bahagia dan tidak bisa fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan karena terlalu memikirkan kegiatan apa saja yang dia lewati. Lalu kenapa masih banyak orang yang tidak bisa meninggalkan kecenderungan FOMO ini? Yah, di era digital seperti sekarang ini, ketika semua orang dapat dengan mudahnya memperlihatkan gaya hidup mereka, memang sangat rentan untuk terjangkit FOMO. Untungnya, dua tahun belakangan telah muncul “saudara” FOMO yang jauh lebih sehat: JOMO alias joy of missing out.


    Secara singkat, JOMO adalah kebalikan dari FOMO. Orang-orang yang menerapkan prinsip JOMO tidak merasa iri dan langsung bersiap keluar ketika melihat temannya mengadakan sebuah gathering di Instagram. Alih-alih, mereka akan bersikap santai dan fokus kembali menyelesaikan kegiatan yang sedang mereka lakukan. Ketika mendapat undangan sebuah pesta di malam minggu, mereka tidak semena-mena menyanggupinya tetapi mereka akan mempertimbangkan kewajibannya yang lain dan menolak dengan sopan.


    Lalu, orang yang berprinsip JOMO berarti hanya mengendap di dalam rumah tanpa bersenang-senang dengan teman atau keluarganya, begitu?


    Eits, bukan seperti itu juga. Menjadi orang yang JOMO bukan berarti kamu harus menolak semua ajakan bermain dari temanmu. Hanya saja, mereka akan lebih mempertimbangkan banyak hal lain seperti mungkin waktu me time yang sudah ia nantikan seharian atau malah merasa ada pekerjaan yang masih harus ia selesaikan. Sederhananya, orang yang menerapkan JOMO tahu kapan harus berkata “iya” dan kapan harus berkata “tidak.”



    JOMO adalah tentang menemukan keseimbangan dalam kehidupanmu. Mencari titik tengah antara waktumu bersama orang lain dan waktumu untuk mengurus diri sendiri. JOMO lebih menitikberatkan pada menjalani kehidupan yang lebih “disengaja,” berkomitmen pada beberapa hal penting daripada berusaha untuk menyanggupi segala sesuatu yang ada di kalender sosialnya.




    Sepertinya enak, ya, hidup seperti itu. Bagaimana cara memulainya?


    Untuk kamu yang mau mulai mempraktekan sikap JOMO, Cosmo punya beberapa tips yang bisa memudahkan perjalanan self-care mu, nih.


    Buat skala prioritas

    First thing first, kamu harus bisa menentukan kegiatan mana yang lebih menjadi prioritas. Setiap kamu ingin melakukan hal lain yang terlihat menyenangkan tapi sebenarnya tidak begitu penting, tanya lagi pada dirimu apakah tanggung jawabmu yang lain sudah selesai. Lagipula, kamu akan lebih tenang ketika hangout bersama teman saat semua pekerjaanmu sudah selesai, kan?


    Kualitas > kuantitas

    Dapat melakukan multitasking mungkin memang terdengar keren, tetapi tidak semua orang bisa menghasilkan pekerjaan yang maksimal ketika sedang multitasking. Pada dasarnya, otak manusia memang hanya mampu memproses satu hal dalam suatu waktu tertentu. Jadi, daripada berusaha melakukan tiga hal secara bersamaan tapi tidak bisa menikmati atau menghasilkan yang terbaik, lebih baik kamu fokus dulu ke salah satu kegiatan baru setelah itu melanjutkan ke yang lainnya.


    Disconnect…

    Seperti yang dikatakan sebelumnya, keberadaan sosial media menjadi salah satu faktor terbesar terjangkitnya sindrom FOMO. Maka dari itu, untuk dapat mengadopsi gaya hidup JOMO, mungkin kamu dapat mulai mengurangi waktumu berselancar di sosial media. Bacalah buku yang selama ini selalu kamu pinggirkan, bawa hewan peliharaanmu berjalan-jalan ke taman. Disconnecting dari sosial media dapat menyegarkan pikiranmu dan membuat merasa lebih “bebas.”


    ...but be present

    Istilah “joy of missing out” terkadang dapat sedikit menimbulkan kesalahpahaman karena terdengar seolah-olah kamu menikmati tidak melakukan apapun. Dan itu jauh lebih buruk daripada menjadi FOMO (karena setidaknya saat FOMO kamu tidak membosankan!). Ketika kamu mulai menerapkan JOMO, pastikan kalau kamu benar-benar hadir dalam waktu luangmu. Hanya dengan menyadari kesehatan fisik dan mentalmu saja sudah bisa dikatakan kalau kamu mulai menerapkan JOMO.


    (Nabila Nida Rafida / Image: Unsplash, GIPHY.com)