Better You

Ini Gejala COVID-19 yang Paling Sering Menyerang Generasi Muda!

  by: Giovani Untari       29/3/2021
  • Kita tahu Coronavirus menginfeksi banyak orang dengan cara yang berbeda-berbeda. Sebuah studi dari BMJ memperkirakan sekitar 17 -20% orang yang terserang COVID-19 bahkan hampir tidak merasakan gejala apapun.

    Dan kita pun pastinya telah mengenal 3 gejala paling umum dari penularan coronavirus yaitu: demam, batuk, dan kehilangan kemampuan pada indera perasa / penciuman. Tapi kini rasanya hal tersebut bukan lagi satu-satunya penanda bahwa kamu memang sedang terserang COVID-19.




    Dalam studi ilmiah terbaru yang dilakukan oleh Imperial College London menjelaskan bahwa usia ternyata dapat menjadi faktor yang menentukan seperti apa gejala yang kamu rasakan saat tertular coronavirus. Penelitian tersebut dilakukan pada lebih dari satu juta orang untuk menentukan seperti apa gejala terbaru dari coronavirus. Dan mereka menemukan fakta bahwa sakit kepala menjadi gejala yang paling umum dan sering menyerang generasi muda pada usia 15 – 17 tahun. Pasien dengan usia tersebut juga dilaporkan lebih minim mengalami gejala seperti demam, batuk berkepanjangan, dan kehilangan nafsu makan ketimbang pasien COVID-19 berusia dewasa.



    Studi juga menunjukkan bahwa hilangnya nafsu makan dan nyeri otot menjadi gejala yang paling sering ditemukan pada kasus coronavirus yang menyerang dewasa berusia 18 – 54 tahun. Badan yang mengalami kondisi panas dingin juga ditemukan sebagai salah satu gejala positif coronavirus yang menyerang semua usia.

    Ini jelas menjadi sebuah pengingat bagi kita semua bahwa... meski kita saat ini mungkin tidak sedang merasakan gejala utama dari COVID-19 seperti batuk, demam, dan kehilangan indera perasa / penciuman, bukan berarti kita bisa mengabaikan gejala lainnya dari infeksi virus satu ini.

    Pada studi yang sama juga menjelaskan ada empat gejala COVID-19 yang paling umum ditemukan pada pasien positif coronvirus. Di antaranya: badan yang panas dingin, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, dan nyeri otot yang saat ini masih belum masuk ke dalam list resmi dari gejala tertular COVID-19. Tetapi riset terbaru menyarankan bahwa ke-empat gejala tersebut seharusnya masuk ke dalam list tersebut agar semakin banyak kita tahu gejala lain coronavirus, kita pun bisa semakin cepat mendeteksi kasus dan mencegah penularannya.





    Temuan terbaru ini menyarankan bagi banyak orang untuk melakukan tes COVID-19 meski mereka tidak memiliki gejala utama dari virus tersebut dan tetap melakukan isolasi-meski gejala yang mereka alami mungkin tidak sama dengan panduan kesehatan gejala tertular COVID-19 saat ini,” ujar Professor Paul Elliot, Director dari REACT programme di Imperial. Ia juga berharap bahwa dengan temuan studi ini dapat membantu program pengujian menggunakan bukti paling terbaru dan membantu mengidentifikasi lebih banyak orang yang terinfeksi coronavirus.


    Segala informasi dari artikel ini akurat berdasarkan tanggal publikasi artikel. Saat ini kami berusaha sebisa mungkin untuk menjaga konten kami tetap up-to-date terhadap situasi terkini selama pandemi coronavirus yang terus berkembang pesat. Jadi besar kemungkinan sejumlah informasi dan rekomendasi bisa berubah sejak dipublikasikan.



    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa: Giovani Untari / Ed. / Images: Anna Shvets from Pexels, ready made from Pexels, Sam Lion from Pexels)