Fashion

Semua yang Perlu Kamu Tahu tentang Sustainable Fashion

  by: Redaksi       30/3/2021
  • Sebelum pandemi COVID-19 terjadi, para pelaku industri fesyen sudah mengetahui adanya “kerusakan” dalam sistem yang selama ini dilakukan. Hal ini sudah terjadi cukup lama. Antara kecepatan perubahan dan banyaknya volume pakian dalam satu siklus industri fesyen hingga munculnya budaya diskonan, isu terkait pemenuhan hak buruh pabrik tekstil, dan dampak lingkungan, industri ini dapat dinilai sebagai salah satu industri yang kurang sustainable.


    Ditambah lagi dengan menjamurnya merek fast fashion, kita, selaku konsumen, harus mulai mempertimbangkan kembali pendekatan kita dalam melakukan mengkonsumsi pakaian.




    Tapi, masalahnya adalah: Tidak peduli seberapa besar keinginanmu untuk berbelanja secara sustainable, untuk sebagian besar orang, hal ini sulit untuk dilakukan. Bukan tidak ingin tetapi karena tingginya harga pakaian sustainable tersebut.


    Harga untuk menjadi sustainable.

    Berdasarkan sebuah polling Instagram yang dibuat oleh Cosmopolitan UK mengenai kebiasaan berbelanja followers-nya, sebanyak dua pertiga responden (1.696 suara) tidak membeli pakaian dari merek fesyen yang sustainable. Dari mereka yang tidak membeli, sebanyak 80 persen (1.448) mengatakan bahwa alasan mereka tidak melakukannya adalah karena pakaian dari merek tersebut “terlalu mahal”.


    Ditambah lagi, sebanyak 88 persen (2.223 suara) menganggap harga adalah faktor yang lebih penting dibandingkan dengan dampak terhadap lingkungan ketika berbelanja.


    Let’s face it: Meskipun mereka ingin menjadi lebih sustainable, tapi tidak semua orang dapat dengan mudah mengeluarkan uang lebih untuk membeli outer yang menggunakan material daur ulang, tidak peduli seberapa bagus atau tahan lamanya item tersebut. Untuk kamu yang menjaga pengeluaranmu, biaya itulah yang menjadi hambatan utama.


    Sementara itu, beberapa merek dengan harga yang lebih terjangkau mulai merambah ke pasar “sustainable” tetapi sering dituduh melakukan “greenwashing”. Terdapat juga argumen “all-or-nothing” yang menanyakan, “jika suatu merek tidak 100 persen sustainable, haruskah kamu membelinya?”


    Yup, melakukan “hal yang tepat” bisa menjadi suatu perkara yang rumit dan isu yang cukup menakutkan untuk dibahas, terutama jika kamu memiliki dana yang terbatas.


    Well, sebenarnya, membeli barang-barang sustainable dengan harga mahal (dengan dalih investasi), bukan satu-satunya cara untuk berbelanja dengan lebih bertanggung jawab. Jika kamu berhenti sejenak dan memikirkannya, terdapat dua elemen lain yang dapat dipertimbangkan dalam menjadi sustainable:

    1. Kebiasaan

    2. Berbelanja




    Mempertimbangkan ulang cara kita berbelanja

    Salah satu isu terbesar yang sedang dihadapi oleh industri fesyen adalah banyaknya limbah sisa produksi yang dihasilkan. Menurut The Waste and Resources Action Programme (WRAP), sebanyak 350.000 ton pakaian bekas dibuang setiap harinya - dan itu hanya di UK.


    Dengan cara yang sama kamu memakai kembali botol air mineral kosong dan kardus sepatumu, inilah saatnya untuk melakukan hal yang sama pada pakaianmu.

    “Dari sudut pandang sustainability, terdapat peningkatan dalam fast fashion dan throwaway fashion dalam kalangan muda, dan itu sudah tidak dapat ditolerir lagi,” jelas Direktur Fashion Retail Academy, Beverley Imrie. “Pasar penjualan kembali pakaian lama kini sudah semakin sering ditemukan.” Meskipun toko pakaian bekas, situs penjualan barang thrifting, dan bahkan aplikasi penyewaan pakaian bukanlah hal baru, mereka menawarkan cara praktis untuk berbelanja secara sustainable dan, yang paling penting, terjangkau.


    “Banyak orang yang mulai menyadari bahwa, hanya dengan membeli barang second dan memperpanjang umur pemakaiannya, mereka dapat membuat sebuah perubahan besar terhadap lingkungan,” jelas Emma Grant, Kepala departemen Preloved di eBay. “Menurut saya, kini orang-orang lebih mengetahui mengenai kerusakan yang dilakukan oleh fast fashion dibandingkan beberapa tahun lalu. Bahkan sejak 2017, terdapat peningkatan jumlah penjualan barang bekas sebesar 31 persen di eBay. Hal ini menjadi bukti adanya perubahan perilaku dan pergerakan yang mulai menjauh dari fast fashion.


    Alih-alih membuang baju tidak terpakai, kamu dapat dengan mudah menyulapnya kembali menjadi pakaian yang lebih cantik. “Saya cukup terkejut ketika menemukan bahwa rata-rata barang tidak terpakai dalam suatu rumah tangga mencapai 42 barang senilai £2600, dan saya ingin mendorong mereka untuk tidak membuang barang tersebut begitu saja.” tambah Grant.


    Mengadopsi kebiasaan belanja yang sustainable

    Sejak diberlakukannya lockdown, kemungkinan besar pola berbelanjamu telah berubah. Mungkin kamu hanya membeli pakaian yang kamu suka atau bahkan menghindari tempat pembelanjaan secara umum. 67 persen responden dari polling Instagram sebelumnya mengatakan kalau mereka akan mulai mengurangi kebiasaan belanja mereka ketika toko-toko sudah buka secara sepenuhnya.


    Tetapi, pertanyaannya adalah: Mengapa? Apakah karena kita sudah tidak memiliki acara yang menuntut pembelian baju baru, atau apakah karena kita sudah menyadari bahwa sebenarnya kita tidak memerlukan pakaian yang terlalu banyak? Bagi saya, alasannya adalah campuran dari kedua hal itu.


    “Saya memikirkan tentang berapa kali saya dapat menggunakan pakaian ini. Sebesar apa nilai yang dibawa dan bagaimana saya akan memadukannya dengan pakaian lain yang sudah ada di lemari saya,” tambah Imrie. “Dan kita tidak harus membeli sesuatu yang klasik, kita dapat membeli barang-barang yang sedang dalam tren.”


    Selain akan mengamankan saldo bank-mu, membeli pakaian dalam jumlah kecil juga memberikanmu waktu untuk mendaur ulang pakaian lama yang sudah kamu tinggalkan karena “sudah tidak trendy.” Sebagaimana dikatakan oleh Fashion Revolution, “pakaian paling sustainable adalah pakaian yang sudah ada di dalam lemarimu.” Ini berarti kamu dapat berkreasi dengan pakaian-pakaian itu. Entah itu dengan meluangkan waktu membersihkan sweatpants putihmu, atau memperbaiki resleting dari gaun lamamu yang sudah rusak. Memperbaiki apa yang sudah kau punya mungkin adalah cara yang paling sustainable (dan terjangkau) yang dapat kamu lakukan.


    Memperbaiki pakaian yang sudah terpakai sebelumnya menjadi suatu hal yang harus disembunyikan tapi sekarang hal ini justru menjadi tren sendiri. Jadi, lain kali, ketika kamu merasa terkucilkan dari gerakan sustainable karena harga yang tidak masuk akal, selalu ingat: Melakukan sebuah perubahan tidak hanya tentang bagaimana kamu menghabiskan uangmu, tetapi bagaimana caramu menyimpan uang tersebut.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Nabila Nida Rafida / Opening image: Unsplash)