Better You

Ini Penyebab Gejala COVID-19 Bisa Lebih Parah & Berbeda Setiap Orang

  by: Giovani Untari       11/3/2022
  • Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa gejala COVID-19 bisa begitu berbeda antara setiap orang?

    Ada orang yang tidak merasakan gejala apapun, beberapa ada pula yang hanya mengeluh terasa seperti sedang terserang flu, dan tak sedikit juga yang mengalami gejala parah sampai harus mendapat perawatan intens di rumah sakit.




    Efek COVID-19 juga berdampak cukup panjang pada sejumlah pasien. Kamu pasti pernah mendengar soal istilah long covid, bukan? Ada lebih dari 200 gejala yang dikaitkan dengan long covid, mulai dari kelelahan ekstrim, perasaan sesak di dada, sakit kepala, brain fog, sampai penurunan libido.



    Sekarang, para peneliti pun bekerja keras mencari penyebab mengapa sejumlah pasien COVID-19 bisa merasakan gejala yang lebih parah dibanding pasien lainnya. Hal ini jelas menjadi harapan baru bagi para pasien dan dunia kesehatan, sebab dengan begitu kita bisa mengetahui penyebab pasti dan menemukan penanganan yang tepat di masa depan.


    Dalam sebuah studi yang melibatkan hampir 57.000 partisipan dan dipimpin peneliti dari University of Edinburgh and Genomics Inggris, berhasil mengidentifikasi ada 16 gen spesifik yang ikut memengaruhi beberapa penyakit kritis saat tertular virus. Penelitian tersebut juga mengkonfirmasi ada tujuh gen lainnya yang berkaitan dengan keparahan gejala COVID-19 yang sebelumnya telah diindentifikasi melalui penelitian berbeda.




    Seperti yang dilaporkan oleh The Financial Times, Dr Kenneth Baillie, seorang konsultan perawatan kritis yang juga memiliki concern atas hal ini mengatakan, "Penelitian ini akan membantu banyak orang untuk mengetahui penyebab mengapa sejumlah pasien COVID-19 ada yang sampai mengalami gejala parah dan mengancam nyawa, sementara ada juga pasien yang bahkan tidak merasakan gejala apapun. Tapi yang terpenting, ini akan membantu kita memahami lebih dalam lagi proses dari setiap gejala dan langkah besar selanjutnya untuk mencari penanganan yang lebih efektif."


    Terasa cukup menjanjikan memang, Dr Baillie juga berharap bahwa penelitian tersebut semoga bisa membantu membawa angka kematian akibat COVID-19 dari "menurun ke nol".


    Untuk mengidentifikasi perbedaan gen dan bagaimana cara gen tersebut merespon COVID-19, para ilmuwan mengambil sample dari 7.491 pasien COVID-19 yang masuk ICU di Inggris. Sementara ada juga 1.630 pasien yang hanya merasakan gejala ringan setelah dinyatakan positif COVID-19.




    Para ilmuwan kemudian ikut membandingkan kedua kelompok sampel ini dengan 48.400 peserta lainnya yang tidak pernah tertular COVID-19.


    Adapun lain dari penelitian ini agar para penderita COVID-19 bisa mendapat perawatan yang lebih baik. Lalu membawa resep obat-obatan yang bisa membantu mereka yang menderita penyakit paru obstruktif kronik atau asma, di mana kedepannya mereka mungkin bisa menjadi relawan untuk melakukan uji klinis. 

    Para peneliti juga mengatakan bahwa saat ini mereka sudah menargetkan ada 16 gen yang lebih berisiko terkena gejala serius akibat COVID-19.




    Dalam penelitian terpisah baru-baru ini juga menemukan bahwa Baricitinib, obat radang sendi, bisa membantu penurunan 13% dalam tingkat kematian yang terkait dengan virus COVID-19.




    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Giovani Untari / Images Dok: Dok. Ivan Samkov from Pexels, Liza Summer from Pexels, Pavel Danilyuk from Pexels).