Fashion

Alasan Mengapa Label Fashion Rajin Melakukan Kolaborasi

  by: Redaksi       19/3/2022
  • Semula dianggap inovatif, kini proyek kolaborasi di industri fashion telah dianggap lumrah. Tak lagi seputar label fast fashion dengan desainer semisal H&M bersama Karl Lagerfeld yang dilansir pada tahun 2004, kini telah berkembang jadi luxury brand bersama streetwear seperti Louis Vuitton dengan Supreme, dan bahkan antar label mewah seperti Gucci dengan Balenciaga.

    Tiap tahun selalu hadir proyek kolaborasi terbaru. Lalu apa yang membuat label fashion begitu terobsesi untuk terus melakukannya?

    Strategi Pemasaran yang Masih Ampuh




    Secara umum, proyek kolaborasi telah kehilangan unsur “kejutan” namun nyatanya masih ada formula yang bisa dikulik untuk membangkitkan antusiasme publik. Kolaborasi Gucci dengan Balenciaga menjadi contoh.

    Rasanya tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa dua mode yang sekalipun berada di grup perusahaan yang sama dan target market yang juga mirip, bisa saling bahu-membahu membuat satu koleksi. Keduanya enggan menyebut kerjasamanya sebagai “kolaborasi” dan lebih menyukai “hacker”. Proyek ini pun dinamai The Hacker Project


    Publik pun langsung menyerbu koleksi ini begitu dirilis. 

    Identitas Baru


    Bagi sejumlah label, kolaborasi menjadi cara untuk memberi identitas baru. Label Moncler yang dikenal dengan kreasi puffer jacket membuat proyek bernama Moncler Genius di mana mengajak sejumlah desainer seperti Pierpaolo Piccioli, Simone Rocha, dan Craig Green untuk membuat koleksi sesuai ciri khas masing-masing, dan diberi label sendiri.

    Hal serupa juga diterapkan rumah mode Jean Paul Gaultier yang mengundang sejumlah perancang di tiap musim untuk membuat koleksi couture pasca sang pendiri memutuskan pensiun. Desainer seperti Chitose Abe dari Sacai dan Glenn Martens dari Y/Project berhasil memberi nyawa baru akan legacy dari rumah mode ini sembari tetap menampilkan ciri khas mereka.

    F.O.M.O




    Faktor lain yang memengaruhi kesuksesan sebuah proyek kolaborasi adalah pola pikir konsumen yang dilanda F.O.M.O atau Fear Of Missing Out.

    Para pencinta fashion tahu bahwa proyek kolaborasi ini hanya terjadi sekali. Jarang sampai ada yang berkelanjutan. Belum tentu H&M akan kembali bekerja sama dengan Simone Rocha di kemudian hari. Apalagi kuantitas yang dirilis pun terbatas. Bahkan mungkin beberapa tahun kedepannya sejumlah kreasi dari proyek kolaborasi ini akan diberi gelar collector’s item hingga harga jual preloved nya melambung tinggi.

    Bagaimana menurut kalian Cosmo Babes, haruskah brand terus melakukan kolaborasi? Apa koleksi kolaborasi fashion favorit kalian?

    (Malcolm Rei/Instagram dan Imaxtree)