Celebrity

Dewi Gontha: “I Don't Like Me Time”

  by: Redaksi       2/4/2014
  • Dengan dua orang anak yang masih kecil serta pekerjaan yang menuntut banyak waktunya, entrepreneur bernama lengkap Dewi Allice Lydia Gontha ini mengaku tidak pernah sekalipun membutuhkan waktu khusus untuk memanjakan diri sendiri. Bagaimana bisa? Simak obrolan Cosmo dengan Presiden Direktur Java Festival Production (JFP) yang selalu sibuk dengan event-event berskala internasional, seperti Java Jazz Festival, Java Rockinland, dan Java Soulnation Festival ini.  

    Cosmo (C): Okay Dewi, apa nasihat terbaik tentang karier yang pernah Anda dapatkan?
    Dewi Gontha (DG):
    “Untuk hasil yang terbaik, kita tidak boleh luput dari detail sekecil apapun”. Itulah nasihat terbaik yang pernah saya dapat dari ayah.

    C: Ngomong-ngomong soal ayah, apa untungnya bekerja dengan keluarga sendiri?
    DG:
    Hmm... Keuntungan bekerja dengan ayah saya, he has more experiences than me, he's older and wiser. Pengalaman itulah yang membuatnya memiliki network yang cukup besar, sehingga  dukungannya memudahkan saya untuk menjalani pekerjaan ini.

    C: Kerugiannya?
    DG:
    Sulitnya membedakan posisi kami sebagai ayah-anak atau atasan-bawahan. Terkadang dia lebih keras ke saya daripada ke staf lain untuk menunjukkan bahwa saya diperlakukan sama sebagaimana yang lainnya. Toleransinya terhadap kesalahan yang saya buat sangat kecil. I have to deliver my best, always.

    C: Dia yang membuat Anda tough seperti sekarang?
    DG:
    Tentu saja. Dia sangat berpengaruh besar dalam pembentukan karakter saya. Dialah alasan mengapa saya begitu mencintai pekerjaan ini dengan segala tantangannya. Kami sering berdiskusi dan bertukar pikiran.

    C: Apakah Anda merasa masih punya kekurangan?
    DG:
    Ya. Maybe I need to be less personal about the job. JFP ini adalah perusahaan kecil dengan staff  hanya 30an. Otomatis kami menjadi begitu dekat layaknya keluarga, sehingga apapun yang terjadi di kantor menjadi personal. Seharusnya sih kami bisa lebih profesional lagi, memisahkan antara urusan pekerjaan dengan pribadi.

    C: Apa yang Anda nilai dari para staf?
    DG: Komitmen. Saat interview mereka, saya selalu menekankan “It's okay if you have less experience, asalkan ada niat untuk belajar.” Saya tidak ingin mereka menjadikan perusahaan hanya sebagai batu loncatan, kerja cuma 6 bulan hingga setahun, lalu pindah. I expect them to stay longer dan berkembang bersama perusahaan.

    C: Sepertinya Anda sibuk sekali, bagaimana cara Anda “escape”?
    DG: I don't, hahaha. Dengan dua anak dan jam kerja panjang, saya tidak bisa dan tidak butuh escape. I don't have me time, I don't like it. I don't like being alone. Kalau tidak bersama anak-anak, ya berkumpul dengan teman-teman.

    C: Wow!
    DG: Well, I can't imagine doing anything else than this. It's my passion.

    C: Ada nasihat untuk fun fearless female yang baru merintis karier?
    DG:
    Pilihlah pekerjaan yang benar-benar disukai. Jangan memilih pekerjaan hanya karena terlihat keren atau trendi. Pada akhirnya, mengerjakan apapun kalau sebatas kewajiban tidak akan membawa kita maju. Kalau kita mencintai apa yang kita kerjakan, pasti kita akan selalu termotivasi untuk memperbaiki diri.

    Teks: Imron Ramadhan
    Editor: Vidi Prima
    Fotografer: Apriani Solon
    Makeup Artist: Talia Subandrio