Celebrity

Donny Alamsyah, Keluar Kerja Demi Kejar Impian

  by: Adya Azka       7/4/2014
  • Ketidaksengajaan justru membuat nama aktor kelahiran 35 tahun lalu ini kian melejit dalam dunia perfilman Indonesia. Seorang aktor legendaris yang kini menjadi inspirasinya pun berhasil meneguhkan hati pria kelahiran Jakarta tersebut untuk melepas pekerjaan lamanya demi serius meniti karier di dunia akting. Donny Alamsyah berbagi sejumput cerita hidupnya untuk Anda.

    Cosmopolitan (C): Hai Donny, sebelumya selamat atas kesuksesan film The Raid 2: Berandal yang Anda bintangi.
    Donny Alamsyah (DA):  Terima kasih, Cosmo.

    C: Dengan semakin banyaknya film yang dibintangi, apakah Anda memang telah mempersiapkan diri untuk menjadi aktor sejak lama?
    DA:
    Awalnya malah saya tidak memiliki niat untuk menjadi aktor, sampai akhirnya sebuah ketidaksengajaan terjadi yang membawa saya untuk terjun terus ke dunia film. Tahun 2004 saya mengantar teman untuk casting, tapi ternyata justru saya yang ditawari untuk bermain di film Soe Hok Gie.



    C: Lalu apa yang akhirnya membuat Anda terus bertahan di dunia perfilman Indonesia?
    DA:
    Waktu di film pertama, saya bermain bersama Lukman Sardi. Dari situlah akhirnya saya banyak berdiskusi bersama dia mengenai dunia akting. Berbagai saran diberikan oleh Lukman yang kemudian saya ikuti. Bisa dibilang, ia adalah aktor Indonesia yang menjadi panutan saya di dunia film.

    C: Apa quote paling berkesan dari Lukman Sardi?
    DA:
    “Kalau memang niat dan ingin berdedikasi di bidang ini, tinggalkan pekerjaan kamu!” - dan saran ini akhirnya saya ikuti. Saya pun segera meninggalkan pekerjaan kala itu sebagai animator designer untuk fokus berakting.

    C: Lalu apa yang menjadi pertimbangan Anda dalam memilih film yang akan diperankan?
    DA:
    Isinya. Saya selalu mencari tahu terlebih dahulu pesan yang ingin disampaikan dari sebuah film. Kalau memang tujuannya tidak jelas, lebih baik tidak saya pilih. Bukan karena saya pemilih, tapi kalau memang saya tidak terlalu memahami film itu, saya jadi tidak bisa mengerjakannya dengan benar.

    C: Anda sepertinya selalu bermain dalam film-film serius bergenre action. Tidak berniat untuk mencoba beralih ke jalur film komedi?
    DA:
    Sebenarnya mau, asalkan film itu dikerjakan dengan serius. Walaupun ber-genre komedi, kalau dibuat dengan serius, ayo! Bulan April ini juga saya akan mulai berperan dalam sebuah film komedi action lho.

    C: Memiliki latar belakang di dunia animator, apa Anda tidak ada rencana untuk kembali ke dunia tersebut, atau setidaknya mengembangkan animasi di Indonesia?
    DA:
    Ingin sekali sebenarnya. Kemarin juga sempat diajak untuk membuat film 3D bersama teman, tapi karena 3D itu mahal jadi belum tahu realisasinya seperti apa. Yang terdekat, saya akan memproduksi film 2D di pertengahan tahun ini.



    C: Kalau sedang libur akting, apa yang biasanya Anda lakukan?
    DA:
    Saya senang traveling. Saya termasuk orang yang lebih menyukai kegiatan outdoor.

    C: Seberapa sering Anda jalan-jalan?
    DA:
    Kalau bisa sebulan sekali, saya pasti pergi. Kalau memungkinkan dua minggu sekali ya kenapa tidak.

    C: Lebih suka pegunungan atau pantai?
    DA:
    Saya lebih banyak traveling ke pantai. Di laut saya bisa menyelam dan bisa cari makan juga. Bisa berenang sambil bersantai. Banyak hal yang bisa dilakukan. Plus pantai membuat saya lebih tenang.

    C: Kalau caving?
    DA:
    Kalau caving tidak terlalu sering karena jarang ada teman. Tapi saya pernah caving di Jomblang dan pemandangannya bagus. Jadi ada dua sumur besar, yang pertama diameternya 75 meter dan sumur yang kedua diameternya 15 meter. Saya turun memakai tali sekitar seratus meter ke bawah dan setelah itu jalan lagi lalu masuk ke gua yang kecil. Dan ada air terjun di dalamnya, pada saat buih-buih air tersebut terkena sinar matahari, sungguh pemandangan yang sungguh indah, saya dan teman saya menamainya sinar surga.

    C: Hal paling nekad yang pernah Anda lakukan?
    DA:
    Beberapa waktu lalu, saya pergi ke Kupang dan berkenalan dengan orang lokal di sana. Mereka lalu merekomendasikan saya untuk mendatangi sebuah gua – yang ternyata tempat untuk melempar emas (mulai dari kalung hingga anting emas) semacam persembahan. Katanya sih angker. Saat tiba di gua tersebut, orang-orang lokal tidak ada yang berani masuk ke bawah. Akhirnya cuma saya dan ketiga teman yang nekad turun. Kira-kira 30-40 meter ke bawah, ternyata ada kolam yang katanya tembus ke laut. Begitu saya nyalakan senter, tempatnya keren sekali. Dan saat menyelam, benar saja, saya melihat banyak kalung dan anting emas di dalamnya. Nekad sih, tapi pengalamannya tak terbayarkan. (Adhia Azka/VP/Image: Insan Obi/doc. Cosmopolitan)