Career

5 Alasan Kenapa Anda Harus Berhenti Multitasking

  by: Adya Azka       27/4/2015
  • Karena ingin membuat pekerjaan cepat selesai, Anda pun memilih mengerjakan dua tugas sekaligus. Yup, menjadi multitasking person memang terdengar hebat bagi sebagian orang. Tapi tahukah Anda jika multitasking ternyata justru bisa membuat pekerjaan Anda terhambat? Ini sebabnya….

    Lebih Stres
    Sebuah penelitian dilakukan oleh University of California terhadap dua kelompok karyawan – yang terbiasa melakukan multitasking dan tidak. Hasilnya, detak jantung mereka yang sering melakukan dua atau lebih pekerjaan sekaligus cenderung meningkat. Begitupun dengan level stres yang juga meningkat pada multitasking person.

    Rawan Kesalahan
    Para ahli mengemukakan saat Anda melakukan dua atau lebih pekerjaan sekaligus maka produktivitas Anda akan berkurang sebanyak 40%. Hal ini pun dikuatkan oleh penelitian pada tahun 2010 di Prancis yang menyebutkan jika seseorang bisa saja menjadi multitasking person, tapi pekerjaan yang dikerjakan pun dibatasi sebanyak dua tugas saja dengan level kesulitan yang sangat rendah. Saat seseorang ditambahkan tugas ketiga, maka angka kesalahannya pun langsung meningkat.



    Memperlambat Kinerja
    Kaget membaca kalimat di atas? Yes dear, pada kenyataannya, multitasking memang tidak menghemat waktu yang Anda miliki dan justru sebaliknya. Jadi ada baiknya Anda menyelesaikan terlebih dulu tugas pertama sebelum akhirnya beralih ke pekerjaan yang lainnya.



    Anda Tidak Benar-Benar Multitasking
    Saat multitasking, Anda benar-benar mengerjakan dua hal sekaligus? Ternyata tidak. Karena menurut Guy Winch, PhD, penulis Emotional First Aid: Practical Strategies for Treating Failure, Rejection, Guilt and Other Everyday Psychological Injuries, yang sebenarnya terjadi adalah task-switching.

    Merusak Hubungan
    Pernah diprotes si dia karena Anda tak fokus mendengar ceritanya dan lebih sibuk membalas chat dari rekan kantor, sambil menyesap segelas kopi? Yes dear, tanpa Anda sadari, ternyata hal "positif" ini bisa berdampak buruk pada hubungan Anda. (Adhia Azka/VP/Image: various)