Fashion

Satu Dekade Senayan City Fashion Nation

  by: Silvya Winny       18/4/2016
  • Sebagai salah satu rangkaian menuju usia ke-10, Senayan City kembali menghadirkan gelaran fashion tahunan yakni Fashion Nation Tenth Edition (FNX) “A Decade of Pure Decadence” yang berlangsung hingga 23 April 2016. Perhelatan mode tersebut dibuka dengan show Opening Night FNX pada Kamis, 14 April 2016 lalu yang menghadirkan parade 10 Iconic Designer yakni Ari Seputra, Barli Asmara, Denny Wirawan, Didi Budiardjo, Eddy Betty, Mel Ahyar, Priyo Oktaviano, Rinaldy A. Yunardi, Sapto Djojokartiko dan Tri Handoko. Dan yang menarik ialah Worldwide Couture Fashion Designers show yang turut menampilkan koleksi milik Priyo Oktaviano dan Frederick Lee dari Singapura. Cosmo berkesempatan untuk berbincang langsung dengan desainer kebanggaan tanah air, Priyo Oktaviano dan Frederick Lee yang juga merupakan Asian Couturier Extraordinaire dari Asian Couture Federation. Slide untuk mengetahui lebih dalam mengenai kedua sosok ini!

     

    Priyo Oktaviano

     

    Cosmo: Bercerita tentang apa koleksi terbaru yang menjadi show pembuka Fashion Nation ke-10 ini?

    Kali ini saya ingin keluar dari comfort zone. Yang biasanya koleksi saya tak jauh dari wawasan nusantara, namun saya ingin men-challenge diri saya untuk membuat kreasi yang terinspirasi dari potpouri dan tema classic french. Saya mengambil teknik bordir dari Jawa Barat dan meleburkannya dengan nuansa feminin pada era Marie Antoinette.

     

    Cosmo: Menarik sekali! Sebagai seorang desainer, proses apa yang paling disukai saat membuat koleksi ini?

    Saya sangat menikmati proses pembuatan suatu koleksi, jika dibandingkan dengan hasil. Dari mulai ide awal, trial and error serta cost management. Proses tersebut sangat menantang bagi saya, dan membuat adrenaline terpacu.

     

    Cosmo: Sebagai salah satu desainer tanah air yang mengusung tema couture, bagaimana menurut Anda mengenai perkembangan couture di Indonesia?

    Saya menyebutnya sebagai demi-couture, karena meskipun ada beberapa proses yang menggunakan teknik pembuatan tangan, namun juga tetap menggunakan teknik mesin. Demi-couture masih memiliki tempat spesial di industri fashion Indonesia. Namun harus diakui, bahwa perkembangan ready-to-wear sangat bagus dan pesat di tanah air. Banyak sekali bermunculan label-label baru apalagi online, jika dibandingkan pada masa saya.

     

    Cosmo: Sehubungan dengan perkembangan tersebut, apakah ada rencana untuk berkolaborasi dengan label ready-to-wear? Atau mungkin membuat label sendiri yang lebih high-street?

    Untuk kedepannya, saya memang berniat untuk lebih fokus pada label kedua saya yaitu SPOUS. Menurut saya fashion adalah gabungan dari art dan business, jadi untuk mengikuti demand di tanah air, label SPOUS akan dibuat lebih affordable dan dijual secara online. Dan kolaborasi dengan beberapa label dan desainer aksesori juga sedang saya rencanakan. Ditunggu saja, ya!

     

    Cosmo: Lastly, bagaimana opini Anda mengenai event Fashion Nation? Dan apa rasanya bisa menjadi desainer pembuka pada perhelatan ini?

    Senayan City telah berhasil men-support para desainer tanah air dengan menyelenggarakan acara Fashion Nation, dengan begini kreasi para desainer baik ready-to-wear maupun couture akan sampai lebih dekat dengan masyarakat. Saya pun merasa bangga dapat menjadi pembuka untuk Fashion Nation yang ke-10 ini, dan menampilkan koleksi saya yang berbeda dari biasanya.

     

    Frederick Lee

     

     

    Cosmo: Ini adalah pertama kalinya Anda menampilkan karya dalam acara Fashion Nation, bagaimana pendapat Anda mengenai gelaran ini?

     

    I feel so honored. Saya mengetahui bahwa banyak top designers dari Indonesia maupun Asia yang berpartisipasi di Fashion Nation sebelumnya. Dan sebagai seorang fashion designer khususnya couture, saya ingin membawa couture lebih dekat ke banyak audience. Couture is about giving the audience a vision of an art. Dan sangat bagus sekali bahwa Fashion Nation memberikan sebuah platform untuk para desainer menunjukan karya terbaik dan dinikmati oleh semua orang.

     

    Cosmo: Apa yang menjadi inspirasi dari koleksi yang dipertunjukkan pada Opening Night Fashion Nation kali ini?

    Koleksi ini terinspirasi dari banyak hal, khususnya mengenai emotion. Sebagai seorang desainer, pasti banyak mengalami masa ups and downs, yang mana hal tersebut memberikan influence pada pembuatan koleksi ini. Sebagai contoh, untuk mood bahagia, saya menampilkan pakaian dengan embellishment bunga dan warna cerah. Saya banyak bermain dengan material dan fabric yang berbeda-beda. And I hope people can enjoy it.

     

    Cosmo: Saat ini Anda merupakan Asian Couturier Extraordinaire dari Asian Couture Federation, bisa diceritakan mengenai tugas dari titel tersebut?

    Ya, saya terpilih menjadi salah satu Asian Couture Extraordinaire dari berbagai Negara di Asia, salah satunya yaitu Sebastian Gunawan dari Indonesia. Sebagai Asian Couturier Extraordinare, tugas kami ialah memperkenalkan fashion couture secara lebih dekat ke masyarakat khususnya di Asia. Juga untuk melestarikan couture di Asia melalui kreasi yang kami buat.

     

    Cosmo: Bagaimana menurut Anda perkembangan fashion couture di Asia sendiri?

    Asian couture is really great! Justru dibandingkan dengan Eropa, fashion couture di Asia tak kalah berkembang dan memiliki tempat khusus di dunia mode. Terlebih karena budaya dan kultur Asia yang kaya, juga para desainer baru yang bermunculan sehingga memberikan perkembangan yang beragam di dunia fashion couture Asia.

     

    Cosmo: Apa saran terbaik yang bisa diberikan kepada desainer muda yang baru memulai karirnya untuk dapat survive, atau bahkan go international seperti Anda?

    Just be yourself and do your best. Di industri fashion, yang terpenting adalah menemukan jati diri Anda dan memberikan karya yang orisinal.