Lifestyle

Berbagi Kebahagiaan Di Happiness Festival 2018

  by: Alexander Kusumapradja       2/4/2018
  • Mahatma Gandhi pernah berkata: “Kebahagiaan adalah ketika apa yang Anda pikirkan, ucapkan, dan lakukan berada dalam sebuah harmoni.” Selaras dengan ide tersebut, di tahun 2015 PBB memulai kampanye Sustainable Development Goals (SDG) atau dalam bahasa Indonesia Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang memperkenalkan 3 komponen penting untuk bahagia, yaitu harmoni dengan sesama manusia, alam semesta, dan kerohanian. Lahirnya kampanye ini adalah kelanjutan dari laporan tahunan World Happiness Report yang disusun PBB sejak 2012 dengan tujuan utama meningkatkan taraf bahagia orang-orang di seluruh dunia.

    Tolok ukur kebahagiaan yang dipakai dalam laporan itu adalah pendapatan per kapita, angka harapan hidup, bantuan sosial, kebebasan sosial, persepsi korupsi, dan kemurahan hati para penduduk di sebuah negara. Sayangnya, di laporan terbaru tahun 2018, posisi kebahagiaan Indonesia berada di peringkat 96 yang artinya merosot 15 peringkat dari tahun sebelumnya. Apakah itu berarti orang Indonesia tidak bahagia?

    Dilandasi concern tersebut, United in Diversity (UID) berkolaborasi dengan Project Semesta dan didukung oleh Bappenas serta UN SDSN untuk menggelar Happiness Festival. Acara yang pertama kali diadakan tahun ini adalah perayaan gerakan global yang menggabungkan unsur sosial, ekologi, dan spiritual yang mengajak orang Indonesia untuk tak lupa bahagia sekaligus mengampanyekan tentang TPB tersebut ke masyarakat luas. Acara ini telah digelar selama dua hari di Taman Menteng, Jakarta dari Sabtu 31 Maret sampai Minggu, 1 April 2018 kemarin. Apa saja keseruannya? Simak di sini.


    Penampilan musik dari Andien dan Nonaria.




    Hari Pertama (31/03/2018)

    Sekitar jam 7 pagi, festival ini dimulai dengan yoga bersama Yoga Gembira yang kemudian dibuka secara resmi oleh Ibu Mari Elka Pangestu. Setelah itu, deretan kegiatan yang fun dan edukatif pun siap digelar, dari mulai workshop, diskusi santai, pemutaran film hingga pertunjukan musik. Sembari melakukan piknik bertema zero waste, pengunjung dihibur dengan penampilan dari Andien dan Nonaria yang melantunkan musik-musik manis. Walaupun semakin siang, matahari terasa makin terik, hal itu tak menyurutkan niat para pengunjung yang datang untuk mengikuti diskusi tentang pola hidup zero waste, peran perempuan dalam membentuk masyarakat yang bahagia, seluk beluk menjadi voluntir, hingga berbincang tentang fashion bersama desainer Ichwan Thoha.


    Workshop upcycle fashion waste bersama Threadpeutic.


    Selain seminar dan diskusi, hari pertama ini juga diisi oleh beberapa workshop seperti pengelolaan sampah, membuat kerajinan bambu, membuat lip balm natural sendiri, dan membuat pernak-pernik lucu dari sisa sampah fashion. Menjelang sore, giliran Mondo Gascaro untuk tampil bernyanyi di atas panggung. Hari pertama ini pun ditutup dengan pemutaran film Cowspiracy, sebuah film dokumenter yang membuka mata pengunjung pada fakta di balik industri peternakan dunia.


    Pemutaran film Cowspiracy.


    Hari Kedua (01/04/2008)




    Sama seperti hari sebelumnya, hari kedua festival ini juga dimulai dengan yoga dan meditasi, bedanya kali ini dilakukan bersama Union Yoga dan The Golden Space Indonesia. Pengunjung pun tampak semakin ramai dengan keluarga yang membawa anak kecil. Untungnya, festival ini memang bisa dinikmati oleh semua umur dengan adanya Kids Area yang berisi sejumlah aktivitas yang seru. Hari kedua memiliki agenda yang tak kalah menarik dari hari pertama, misalnya workshop membuat terrarium, membuat pengobatan tradisional dengan bahan kunyit, dan cara membuat life map yang dipandu oleh Era Soekamto dan Abhanuraga.


    Yoga bersama Union Yoga.


    Rasa penasaran tentang social entrepreneurship, terapi jiwa lewat seni, pola hidup mengonsumsi makanan berbahan sustainable pun terjawab lewat berbagai seminar dan diskusi yang diadakan di hari kedua ini. Begitupun tentang cara mencari kebahagiaan dari dalam diri sendiri yang dipandu oleh penulis dan motivator Gobind Vashdev. Cosmo merasa lebih lega dan mulai menghitung lagi blessing yang ada dibanding mengeluh. Ditutup dengan manis oleh pertunjukan musik dari White Shoes and The Couples Company, festival ini pun berakhir dengan meninggalkan senyum pada setiap orang yang datang.


    Suasana di stand bazaar.


    (Image: dok. Happiness Festival)