Love & Sex

Ini Yang Terjadi Di Otak Ketika Kamu Berciuman

  by: Alexander Kusumapradja       13/4/2018
  • Ladies, masih ingat ciuman pertama kamu? Secanggung apapun, ciuman pertama umumnya adalah pengalaman yang tak terlupakan bagi banyak orang. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa mayoritas orang bisa mengingat 90 persen detail ciuman romantis pertama mereka, bahkan lebih jelas dibanding memori hubungan seksual pertama. Cosmo masih ingat bagaimana waktu terasa melambat sekaligus berlangsung super cepat dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Well, it's not only in your head, karena berdasarkan penelitian, ciuman memang punya efek ajaib bagi tubuh dan otak kita berkat campuran dari hormon, saraf, efek kimiawi tubuh, serta faktor biologis.

    Di samping sexual chemistry, ciuman juga terbukti memiliki banyak manfaat positif bagi tubuh. Saat berciuman dengan intens, otot wajah dan area sekitar mulut bergerak aktif dan memberikan efek pereda stres yang tak hanya menimbulkan kepuasan tapi juga bisa menurunkan kadar kolesterol. Penulis dan periset Sheril Kirshenbaum, dalam bukunya The Science of Kissing menjelaskan bahwa semua momen ajaib itu tak hanya terjadi saat kamu sedang dalam proses ciuman, tapi juga dari sebelum dan setelahnya. Ingin tahu? Mari simak penjelasan di bawah ini.

    Sebelum bibirmu menyentuh bibirnya
    Di detik-detik menjelang berciuman, perasaan antisipasi yang kamu rasakan akan melepaskan zat dopamine dalam tubuh. Dopamine adalah hormon yang dihasilkan otak ketika kamu mengalami sesuatu yang menyenangkan, seperti mendengarkan musik favorit, tertawa, dan tentu saja, berciuman dengan orang yang kamu suka. Dopamine menyuntikkan energi pada otak dan panca indra kamu sekaligus memberikan aba-aba untuk merasakan pengalaman dan informasi sensorik baru. Namun, selain dopamine, rasa deg-degan yang kamu rasakan sebelum berciuman juga melepas hormon norepinephrine di saraf. Bila dopamine adalah happy hormone, maka norepinephrine adalah stress hormone yang membuat kamu merasa nervous ketika beradu pandang dengannya dan wajahnya mulai mendekat.

    Saat berciuman
    Bibir termasuk organ tubuh yang memiliki ujung saraf terbanyak, sehingga sentuhan sehalus apapun bisa membuat darahmu berdesir. Dan karena saraf itu juga, aktivitas berciuman mengaktifkan bagian besar di otak kamu. Beberapa penelitian bahkan berpendapat bahwa berciuman mengaktifkan lebih banyak saraf dibanding berhubungan seks. Salah satu teorinya adalah ketika berciuman, otak kita akan berpikir keras apakah kita harus melanjutkan ke tahap berikutnya atau tidak. “Kita sangat memikirkan apa yang terjadi saat berciuman karena aktivitas itu adalah bagian penting dari cara kita memutuskan apakah Si Dia bisa menjadi partner seksualmu atau tidak,” tulis Kirshenbaum di bukunya.

    Ia juga mengungkapkan bahwa perempuan memiliki indra pencium yang lebih kuat dibanding pria. Saat berciuman hidungmu akan mengendus dan mengolah informasi yang ada di aroma partner kamu. Informasi tersebut disebut juga dengan feromon, zat kimia tubuh yang berfungsi sebagai daya tarik seksual. Ketika berciuman, otak kita akan mengambil keputusan berdasarkan feromon tersebut, yang membuatmu makin tertarik pada Si Dia, atau justru ilfeel dan tak berniat melanjutkan ke tahap hubungan selanjutnya.

    Setelah berciuman

    Dopamine juga diasosiasikan dengan adiksi alias rasa ketagihan, yang menjelaskan kenapa setelah berciuman dengan partner yang cocok, rasa itu terus menempel dan teringat di otak kamu selama beberapa hari atau beberapa minggu. Kirshenbaum pun menulis bahwa banjir dopamine saat berciuman mirip seperti yang orang rasakan saat mengonsumsi kokain. Efek lainnya? Kamu jadi kehilangan selera nafsu makan dan sulit tidur, jadi istilah “mabuk kepayang” itu memang benar terjadi, ladies.

    Selain dopamine, ciuman juga melepaskan yang disebut neurotransmitter serotonin yang menimbulkan rasa obsesi. Begitupun hormon satu lagi yang disebut oxytocin yang akan meningkat ketika dan setelah kamu berciuman. Semua paduan hormon tersebut menimbulkan perasaan sayang dan kangen, jadi tak heran jika timbul perasaan ingin lagi dan lagi setelah efeknya memudar seiring waktu.



    Baca juga: 7 Manfaat Mengejutkan dari Ciuman di Bibir!







    (Image: ammentorp©123RF.com)