Fashion

Cantiknya Tenun Flores di Nian Tana Creative Show 2018

  by: Alexander Kusumapradja       18/4/2018
  • Ada jarak 2.396 km yang terbentang antara Jakarta dan Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Namun, Jumat (13/4), jarak tersebut seakan lebur dalam Nian Tana Creative Show 2018 yang digelar oleh LaSalle College Jakarta. Terbuai oleh tarian Hegong dalam iringan musik Gong Waning, Cosmo seperti terhipnotis dan perlu beberapa saat untuk mengingatkan diri bahwa saat itu Cosmo sedang duduk di dalam The Hall, Senayan City, bersiap menyaksikan karya-karya lulusan terbaru sekolah desain internasional tersebut. 

    Malam itu, tarian Hegong yang sejatinya adalah tarian penyambutan tamu khas suku Sikka dibawakan oleh sekelompok ama (bapak) dan ina (ibu) yang datang langsung dari Maumere. Para ina terlihat anggun dalam balutan busana labu gate dan kain utan. Tangan mereka menggenggam ikun, kayu kecil dengan tali atau ekor kuda di ujungnya, sementara para ama yang bertelanjang dada dan belitan sarung utan werung menggengam tombak. Semuanya menari dengan gerakan pledong wa’in atau sentakkan kaki yang kian cepat seiring ritme Gong Waning yang memenuhi ruangan. Klimaksnya adalah ketika seorang penari pria diangkat ke sebatang bambu dan telungkup di atasnya yang disebut juga dengan tarian Tua Reta Lo’u.



    Hegong, yang berarti ajakan membunyikan gong untuk menari bergembira adalah pembuka yang tepat untuk membawa imajinasi penonton terbang ke Nian Tana, atau “Tanah Air” dalam bahasa Maumere. Tanah Flores yang eksotis memang menggoda siapa saja untuk datang dan menikmati keindahan alam dan budaya, termasuk warisan budaya kain tenun khasnya yang menjadi poros inspirasi untuk lulusan LaSalle College Jakarta tahun ini.

    Berpusat di Kanada dengan 23 kampus yang tersebar di seluruh dunia, LaSalle College telah mencetak banyak desainer mumpuni setiap tahunnya. Di LaSalle College Jakarta, tugas akhir murid yang akan lulus adalah menyiapkan pertunjukan khusus dengan tema tertentu yang mengangkat daerah-daerah di Indonesia yang terkenal akan kain tradisional atau wastra nusantaranya. Tahun ini, Flores terpilih menjadi tema. "Meskipun kita sekolah internasional tapi kita tetap mengutamakan kekayaan alam kita. Kekayaan tekstil setiap daerah kita wujudkan dalam bentuk koleksi, seperti Flores karena tekstilnya terkenal. Ini salah satu cara menanamkan cinta Indonesia," jelas Shinta Djiwatampu, Program Director Fashion Design LaSalle College Jakarta dalam presscon yang diadakan sebelum show.

    Ada banyak alasan mengapa Flores yang terpilih. Sebagai salah satu daerah Indonesia di mana tradisi dan cara hidup yang menghargai alam masih kuat terpijak, tradisi wastra tenun memegang peranan vital dalam hidup orang Flores, khususnya masyarakat Sikka. Kain tenun hadir dalam setiap proses kehidupan orang Sikka. Dari kelahiran, pernikahan, hingga upacara kematian. Anak-anak perempuan Sikka umumnya mulai belajar tenun sejak umur 10 tahun. Dimulai dari belajar memilin kapas menjadi benang, berlatih mengikat motif, sebelum akhirnya belajar pewarnaan. Secara tradisi, warna benang tenun tradisional menggunakan bahan alami seperti daun mengkudu untuk warna merah, daun tarum untuk warna indigo, kunyit untuk warna kuning, dan warna-warna bahan alami lainnya yang ramah lingkungan.

    Ada jarak fisik dan budaya yang terbentang antara Jakarta dan Maumere. Jarak yang cukup panjang bagi sebuah tradisi yang besar kemungkinan akan gegar atau lost in translation saat dibenturkan dengan hal yang lebih kekinian. Untungnya, apresiasi terhadap estetika adalah hal yang universal. Kain tenun khas Sikka ternyata sama cantiknya baik dalam bentuknya yang paling tradisional maupun yang sudah mengalami modifikasi modern di tangan para desainer muda LaSalle.

    Nian Tana Creative Show 2018 menghadirkan dua ratus lebih looks yang terbagi dalam empat sequences. Ketika para penari Hegong meninggalkan panggung, secara serempak para model pun keluar dari backstage dan memenuhi panggung di bawah lampu temaram dengan langkah cepat sebagai sneak peek untuk apa yang akan disajikan malam itu. Ketika lampu dan musik pengiring kembali hidup, satu per satu model pun keluar dan ini show time yang telah ditunggu.

    Alih-alih kehilangan jati diri, kain tradisional Flores yang dipadukan dengan teknik cutting, sablon, dan material modern berhasil menciptakan koleksi busana ready to wear yang kaya akan corak, warna, dan layering. Sebagian siluet yang muncul masih setia di siluet tradisional dengan twist modern, sementara sebagian siluet lainnya benar-benar berupa siluet modern dengan sisi tradisional hadir sebagai detail. Namun, secara keseluruhan semua terasa kohesif dan padu.



    Selain potongan asimetris yang terlihat cukup mendominasi, permainan tumpuk pun terlihat kuat dengan banyaknya outerwear yang ditampilkan, mulai dari kimono, cape, coat, hingga quilted jacket yang bersinergi dengan elemen tradisional. Tabrak warna dan tabrak motif bukan hal yang tabu dalam koleksi ini. Walaupun beberapa looks sepintas terlihat “berat” dengan paduan motif, warna, dan tumpukan material, namun Cosmo justru tak sabar untuk bisa mem-breakdown looks tersebut dan bermain dengan begitu banyak pieces yang seru untuk dipadupadankan.

    Timeless, bold, and full of heritage, ada sekelumit perasaan bangga yang muncul saat Cosmo menyaksikan show ini, karena sekali lagi kita diingatkan bahwa tradisi tenun Indonesia memang indah dan sudah seharusnya dilestarikan, termasuk dalam bentuk yang lebih modern. Cosmo membayangkan, rasa bangga tersebut tentu membuncah deras pada setiap desainer yang terlibat. Kabarnya, butuh waktu delapan bulan untuk merampungkan semua koleksi yang akan ditampilkan dan rasanya perjuangan itu terbayar manis dengan koleksi yang membanggakan ini.

    Nian Tana pun tak semata jerih payah lulusan jurusan Fashion saja, karena perhelatan Creative Show ini adalah buah kerja keras enam program unggulan LaSalle yang meliputi Fashion Design, Fashion Business, Interior Design, Digital Media Design, Photography dan Artistic Make Up. Acara ini pun menjadi perayaan bagi 214 siswa yang dinyatakan lulus tahun ini sekaligus kesempatan bagi LaSalle untuk memperkenalkan empat program terbaru mereka, yaitu Strata 1 di bidang Desain Interior, Sertifikasi Interior Decorating, serta program Diploma di bidang Graphic Design dan Games Arts & Design.

    Ada banyak jarak yang muncul dengan berbagai alasan. Namun, malam itu di Nian Tana Creative Show 2018, tidak ada lagi batasan antara tamu dan pendatang. Yang ada hanyalah rasa apresiasi terhadap satu sama lain, terhadap tradisi, dan terhadap warisan kekayaan budaya Indonesia.


    (Images: Dok. LaSalle College Jakarta & Cosmopolitan)